Senin, 31 Oktober 2022

Equity World | AS Keluar dari Jurang Resesi, Tahun Depan Dunia Masih Gelap?

Equity World | AS Keluar dari Jurang Resesi, Tahun Depan Dunia Masih Gelap?

Equity World | Nasib baik berpihak pada Amerika Serikat (AS) minggu lalu. Resesi Amerika Serikat (AS) batal. Ekonomi Negeri Paman Sam tersebut berhasil rebound pada kuartal III-2022.

Equity World | Saham Pilihan untuk Trading 31 Oktober dan Target Harganya

Dari data Departemen Perdagangan Kamis (27/10/2022) sore waktu setempat, PDB Juli ke September tumbuh 2,6%. Di kuartal I lalu PDB AS kontraksi atau minus 1,6% sementara kuartal II 0,6%.

Data terbaru ini juga mengalahkan perkiraan pasar, 2,4%. Di sisi pengeluaran, konsumsi pribadi di AS menyumbang 68% dari total PDB, terdiri dari pembelian barang 23% dan jasa 45%.

Presiden AS Joe Biden memastikan bahwa ekonomi AS memang menunjukkan pemulihan.

"Pemulihan ekonomi kami terus berlanjut," ujar Biden, dikutip AFP.

"Segalanya terlihat baik," tambahnya.

Akan tetapi, pertanyaan lain muncul. Apakah AS benar-benar selamat dari resesi?

CNBC Indonesia mencoba menelusuri beberapa indikator makro AS, salah satunya lapangan kerja. Nyatanya memang, pasar tenaga kerja AS menunjukkan kekuatannya pada September lalu, dengan perusahaan swasta menambahkan lebih banyak pekerjaan dari yang diharapkan.

Artinya tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara total. Pasar tenaga kerja yang kuat membuat kabar resesi Amerika Serikat semakin abu-abu.

Data dari Automatic Data Processing, Inc. (ADP) melaporkan ada sekitar 208.000 pekerjaan yang bertambah pada bulan lalu, naik dari Agustus lalu yang sebesar 185.000 pekerjaan. Angka ini juga lebih besar dari perkiraan pasar dalam polling Dow Jones sebesar 200.000 pekerjaan.

Dari per sektornya, keuntungan itu datang ketika industri penghasil barang melaporkan penurunan posisi 29.000, dengan manufaktur turun 13.000 dan sumber daya alam dan pertambangan kehilangan 16.000.

Namun, lonjakan besar terjadi di sektor perdagangan, transportasi, dan utilitas yang membantu mengimbangi kerugian tersebut, karena sektor ini melihat kenaikan pekerjaan sebesar 147.000.

Di lain sisi, laporan tingkat pengangguran turun menjadi 3,5% pada September dari bulan sebelumnya 3,7%. Kemudian sepanjang September, perekonomian AS menyerap 263.000 tenaga kerja, tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara total, dengan rata-rata kenaikan upah 5% year-on-year (yoy).

Kondisi tenaga kerja AS terkini menunjukkan bahwa peningkatan suku bunga dan pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan The Fed belum berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja. Dunia usaha masih berkespansi, tenaga kerja masih terserap cukup besar, dan tidak ada tanda-tanda PHK. Artinya, perekonomian AS benar-benar mengalami ekspansi.

Meskipun AS selamat, dalam catatan Kamis, Kepala Ekonom EY Gregory Daco mengatakan dia tetap mengantisipasi pertumbuhan produk domestik bruto riil sekitar 1,7% tahun ini dan diikuti oleh kontraksi 0,7% pada 2023, karena perang yang masih berlangsung di Ukraina dan kondisi keuangan yang semakin ketat menyebabkan resesi global.

Akibatnya, ekonomi akan kehilangan sekitar 2,8 juta pekerjaan tahun depan, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 5,5% pada pertengahan tahun.

Rupanya, dikutip dari Forbes, Kepala Ekonom LPL Financial Jeffrey Roach setuju dengan EY. Dia mengatakan risiko resesi tampak lebih mungkin pada awal tahun depan karena ekonomi menyerap efek limpahan dari penurunan di banyak sektor, seperti perumahan.

Sementara itu, IMF tetap melihat ekonomi dunia akan mengalami krisis di beberapa wilayah dan perlambatan di wilayah lainnya.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan ekonomi Eropa diproyeksikanakan terpukul parah oleh krisis energi yang dipicu oleh perang Rusia di Ukraina, dengan setidaknya setengah dari 19 negara yang menggunakan euro menuju resesi.

"Cakrawala telah menjadi gelap secara signifikan selama setahun terakhir," katanya, dikutip dari Euronews.

Sementara itu, IMF memprediksi Asia-Pasifik bisa menjadi kawasan yang paling dirugikan jika sistem perdagangan global terpecah setelah ketegangan geopolitik. IMF merinci setidaknya PDB negara-negara di Asia pasifik akan terkoreksi lebih dari 3%.

Dalam penelitian IMF disebutkan koreksi bisa terjadi dari dampak sanksi Amerika Serikat (AS) kepada China jika hambatan non-tarif di bidang lain dinaikkan menjadi Perang Dingin.

"Beberapa sektor di Asia bisa terkontraksi hingga dua kali lipat dan yang akan menderita kehilangan pekerjaan bisa mencapai 7%," jelas laporan Regional Economic Outlook (REO) IMF untuk kawasan Asia Pasifik, dikutip dari CNBC Internasional, dikutip Senin (31/10/2022).

Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF mengatakan perkembangan dari meningkatkan ketidakpastian di sektor perdagangan bisa lebih berat dan meningkat menjadi terpecahnya dunia.

"Asia berisiko kehilangan banyak karena merupakan pemain kunci dalam rantai pasokan global dan risiko ini paling besar dibandingkan negara-negara pada benua lain," jelas dia.

IMF menilai tanda-tanda fragmentasi global muncul selama perang dagang antara AS dan China pada 2018. Namun tanda-tanda yang lebih mengkhawatirkan, seperti perang Rusia-Ukraina, telah muncul. Sanksi terhadap Rusia telah menambah lebih banyak ketidakpastian seputar hubungan perdagangan. IMF menemukan bahwa ketegangan perdagangan AS-China 2018 mengurangi investasi sekitar 3,5% setelah dua tahun.

Dengan demikian, dunia dipastikan masih gelap, meskipun AS telah lolos dari resesi tahun ini.

Jumat, 28 Oktober 2022

Equity World | Ini Alasan IHSG Melemah

Equity World | Ini Alasan IHSG Melemah 

Equity World | IHSG ditutup melemah 43,54 poin (0,61%) ke level 7.048,21 pada perdagangan Jumat (28/10/2022). IHSG hari ini bergerak bervariasi di rentang 7.039-7.100. Saham sektor teknologi anjlok 1,41%.

Equity World | IHSG Dibuka Flat Jelang Akhir Pekan

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, IHSG dan  bursa regional Asia bergerak melemah yang tampaknya pasar lebih wait and see. Sehubungan sikap pelaku pasar dan investor yang  cenderung menanti pandangan The Fed pasca rilis data PDB Amerika Serikat (AS).

Data tersebut menunjukan Ekonomi AS tumbuh secara tahunan 2,6% pada kuartal dalam tiga bulan hingga September, lebih dari ekspektasi pasar sebesar 2,4% dan rebound dari kontraksi pada paruh pertama tahun ini. “Data tersebut tentunya memberikan harapan bahwa The Fed dapat mengurangi kenaikan suku bunga,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, Jumat (28/10/2022).

Sebelumya petinggi The Fed, Jerome Powell mengatakan bahwa Bank Sentral Amerika percaya bahwa pertumbuhan ekonomi dibawah seharusnya dan penurunan data ketenagakerjaan merupakan salah satu untuk mengendalikan inflasi. The Fed memberikan proyeksi bahwa ekonomi hanya tumbuh 0.2% pada tahun 2022 dan 1.2% pada tahun 2023.

Di sisi lain, Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan, pasar diresahkan kembali setelah kota-kota Tiongkok kembali diberlakukan lockdown kembali. Tiongkok mencatat lebih dari 1.000 kasus Covid-19 baru secara nasional dalam tiga hari berturut-turut. Pembatasan Covid-19 untuk menahan wabah yang meluas meskipun ada dampak ekonomi.

“AMRT. Kami merekomendasikan buy dengan support dan resistance di level 2.650-2.810. Sedangkan PER: 45,51x dan PBV:11,30x,” tutup Pilarmas Investindo Sekuritas.

Rabu, 26 Oktober 2022

Equity World | Bursa Asia Cerah Lagi, Sayang IHSG Tak Ikutan

Equity World | Bursa Asia Cerah Lagi, Sayang IHSG Tak Ikutan

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup bergairah pada perdagangan Rabu (26/10/2022), meski masih ada kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global.

Equity World | Wall Street Loyo: S&P 500 dan Nasdaq Akhiri Reli Tiga Hari Berturut-turut

Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin penguatan bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yakni ditutup melesat 1% ke posisi 15.317,67.

Saham teknologi China yang terdaftar di bursa Hong Kong terpantau melesat dan menjadi penopang Hang Seng hari ini. Saham Meituan melonjak 5,02%, sedangkan saham Tencent melesat 2,52%, dan saham Sensetime melejit 6,61% pada hari ini.

Sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 0,67% ke posisi 27.431,84, Shanghai Composite China bertambah 0,78% ke 2.999,5, Straits Times Singapura melesat 0,81% ke 3.008,38, ASX 200 Australia naik 0,18%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,65% menjadi 2.249,56.

Namun, untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini kembali ditutup turun tipis 0,06% menjadi 7.043,94.

Dari Australia, inflasi pada kuartal ketiga tahun 2022 kembali melonjak. Berdasarkan data dari Biro Statistik Australia, inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) pada kuartal III-2022 naik menjadi 7,3%, menjadi yang tertinggi sejak 1990 atau dalam 32 tahun terakhir.

Angka ini juga melebihi prediksi analis di survei Reuters sebesar 7%. Sedangkan di kuartal II-2022, CPI Negeri Kanguru tercatat 6,1%.

Kenaikan harga dipicu harga yang lebih tinggi untuk konstruksi tempat tinggal baru, bahan bakar otomotif, dan makanan.

"Empat kuartal terakhir telah melihat kenaikan kuartalan yang kuat didukung oleh harga yang lebih tinggi untuk konstruksi tempat tinggal baru, bahan bakar otomotif dan makanan," kata Biro Statistik Australia dalam pernyataannya.

Harga makanan menjadi kenaikan paling tinggi sejak kuartal IV-1983 (9,0% vs 5,9% di Q3). Sementara biaya meningkat lebih lanjut untuk transportasi (9,2% vs 13,1%).

Sektor perumahan tercatat naik (10,5% vs 9%), alkohol & tembakau juga mengalami hal serupa (4,0% vs 2,2 %), termasuk perabot (7,7% vs 6,3%). Ini juga terlihat di sektor rekreasi (5,0% vs 4,5%), kesehatan (2,7% vs 2,4%), dan asuransi & jasa keuangan (4,2% vs 3,4%).

Bursa Asia-Pasifik secara mayoritas ditutup bergairah, di tengah masih cerahnya pasar saham global dalam beberapa hari terakhir.

Investor di AS masih memantau perilisan kinerja keuangan perusahaan pada kuartal III-2022. Namun, ada sedikit kabar kurang menggembirakan, di mana kinerja keuangan raksasa teknologi Alphabet (Google) berada di bawah ekspektasi.

Tak hanya Alphabet, Microsoft juga melaporkan kinerja keuangan setelah perdagangan berakhir. Hasilnya sama, di bawah ekspektasi.

Hal ini bisa menjadi sinyal Wall Street akan cenderung tertekan pada Rabu hari ini, apalagi, Wall Street telah melesat hingga 3 hari beruntun.

Dari data ekonomi yang dirilis, indeks keyakinan konsumen (IKK) AS menurun pada Oktober setelah mencatat kenaikan 2 bulan beruntun.

IKK yang dirilis oleh Conference Board (CB) tercatat sebesar 102,5, turun tajam dari bulan sebelumnya 107.8.

Dilihat lebih detail, sebanyak 17,5% konsumen yang disurvei mengatakan kondisi bisnis "baik". Persentase tersebut turun dari sebelumnya 20,7%.

Namun, posisi IKK di atas 100 masih menandakan bahwa masyarakat optimis terhadap perekonomian AS selama enam bulan ke depan, meskipun posisi tersebut kian melandai.

Jika IKK terus melandai maka, menandakan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi kian menurun, ketika masyarakat mulai tidak optimis maka dapat menurunkan daya beli.

Sementara itu, investor di AS akan menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam pada kuartal III-2022 yang akan dirilis pada Kamis besok.

Berdasarkan hasil polling Reuters, Produk Domestik Bruto (PDB) AS diprediksi akan tumbuh 2% di kuartal III-2022. Artinya, AS akan lepas dari resesi.

Namun, bukan berarti itu adalah titik cerah, sebab ada risiko Negeri Paman Sam akan mengalami double dip recession. Kontraksi PDB dalam 2 kuartal beruntun secara teknis sudah disebut resesi. Namun, resesi di awal tahun ini ringan, bahkan mungkin belum terasa sebab pasar tenaga kerja AS masih sangat kuat, tetapi yang parah akan datang.

Survei terbaru yang dilakukan Wall Street Journal (WSJ) terhadap para ekonom menunjukkan sebanyak 63% memprediksi AS akan mengalami resesi 12 bulan ke depan. Persentase tersebut naik dari survei bulan Juli sebesar 49%.

Double dip recession pernah dialami AS pada 1980an. Resesi pertama terjadi pada kuartal I sampai III-1980, kemudian yang kedua pada kuartal III-1981 dan berlangsung hingga kuartal IV-1982. 

Selasa, 25 Oktober 2022

Equity World | Pemegang Lima Saham Ini Lagi Kegirangan Nih!

Equity World | Pemegang Lima Saham Ini Lagi Kegirangan Nih! 

Equity World | Dibuka menguat 10,27 poin (0,15%) di posisi 7.058, IHSG bergerak galau sepanjang perdagangan sesi I, Rabu (26/10/2022). Akhirnya, IHSG ditutup turun tipis 5,39 poin (0,08%) ke level 7.042,98. Di saat IHSG turun tipis, pemegang lima saham ini lagi kegirangan. Sebab, kelima saham tersebut masuk dalam daftar saham pencetak untung terbesar atau top 5 gainers.

Equity World | IHSG Fluktuatif di Saat Bursa Saham Asia Menguat, Ini Analisisnya…

Kelima saham tersebut adalah PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM), PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA), PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Berdasarkan data RTI, saham CHEM jadi saham untung terbesar karena mencetak kenaikan sebesar 18,48%. Disusul, KRYA naik 12,35%. Kemudian, DFAM terkerek 9,91%, PBRX meningkat 9,59%, dan EMTK melesat 6,84%. 

Sebaliknya, ada lima saham yang harganya turun signifikan di sesi I. Kelimanya adalah saham PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE) anjlok 6,78%. Disusul, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) jatuh 6,45%, dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) turun 6,1%.

Ditambah lagi, PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 5% dan PT Paninvest Tbk (PNIN) tergelincir 4,65%. 

Pada penutupan sesi I, bursa saham Asia kompak bergerak menguat. Straits Time (Singapura) naik 0,99%, Nikkei (Jepang) terkerek 1,05%, Shanghai (Tiongkok) melonjak 1,42%, dan Hang Seng (Hong Kong) meroket 2,17%.  

Senin, 24 Oktober 2022

Equity World | Harga emas turun tipis

Equity World | Harga emas turun tipis

Equity World | Harga emas sedikit melemah pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), menghentikan kenaikan selama dua sesi berturut-turut tertekan oleh dolar AS yang lebih kuat, namun masih bertahan di atas level psikologis 1.650 dolar AS.

Equity World | Investor Bimbang, Tak Berani Main Emas?

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, tergelincir 2,20 dolar AS atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada 1.654,1 dolar AS per ounce, setelah mencapai level terendah sesi di 1.648,00 dolar AS.

Pekan lalu, emas berjangka meningkat 7,40 dolar AS atau 0,50 persen, setelah pekan sebelumnya kehilangan lebih dari 60 dolar AS atau 3,50 persen.

Emas berjangka melonjak 19,50 dolar AS atau 1,19 persen menjadi 1.656,30 dolar AS pada Jumat (21/10/2022), setelah terdongkrak 2,60 dolar AS atau 0,16 persen menjadi 1.636,80 dolar AS pada Kamis (20/10/2022), dan anjlok 21,60 dolar AS atau 1,3 persen menjadi 1.634,20 dolar AS pada Rabu (19/10/2022).

Dolar naik tipis pada perdagangan Senin (24/10/2022) meskipun ada dugaan intervensi valuta asing lain oleh Jepang, dan sempat berubah negatif, setelah data PMI awal S&P menunjukkan aktivitas bisnis AS berkontraksi untuk bulan keempat berturut-turut pada Oktober.

Namun demikian, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS mendukung emas. Emas menemukan dukungan tambahan karena S&P Global melaporkan pada Senin (24/10/2022) bahwa Indeks Output Komposit PMI (Indeks Manajer Pembelian) AS, yang melacak sektor manufaktur dan jasa, turun menjadi 47,3 pada Oktober dari pembacaan akhir 49,5 pada September.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember terangkat 12,3 sen atau 0,65 persen, menjadi ditutup pada 19,189 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 7,30 dolar atau 0,78 persen, menjadi ditutup pada 926,60 dolar AS per ounce. 

Minggu, 23 Oktober 2022

Equity World | Sempat Melonjak, Kinerja Emas Awal Pekan Kembali Melemah

Equity World | Sempat Melonjak, Kinerja Emas Awal Pekan Kembali Melemah 

Equity World | Tim Research and Development ICDX menyebut, harga emas bergerak melemah di zona US$ 1.652,66 per troy ons. Pada pagi hari ini, harga emas bergerak melemah setelah ditutup menguat pada hari perdagangan sebelumnya. Pergerakan emas dipengaruhi oleh perdebatan laju kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Equity World | Mau Lirik Deretan Saham Ini Nggak? Calon Cuan Loh!

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, emas bergerak melemah usai ditutup menguat di level US$ 1657.62 pada hari perdagangan sebelumnya. Lonjakan harga emas didukung oleh perdebatan pejabat bank sentral AS yang terbagi apakah mereka kembali menaikkan 75 basis poin atau mengurangi laju pengetatan pada pertemuan Desember mendatang.

Presiden Fed Mary Daly menyuarakan bahwa The Fed perlu menghindari menempatkan ekonomi AS dalam penurunan dengan pengetatan yang berlebihan serta The Fed mendekati titik yang diperlukan untuk memperlambat kenaikan suku bunga. “Sinyal perlambatan kenaikan suku bunga acuan turut menekan indeks dolar yang ditutup pada level 111.87 membuat emas terasa lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (24/10/2022).

Tim Research and Development ICDX menambahkan, pergerakan emas masih dibayangi potensi kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin pada pertemuan 1 - 2 November mendatang sehingga kembali bergerak melemah di areal US$ 1.652,66. Presiden Fed Chicago Charles Evans mempertegas kembali pandangannya bahwa bank sentral AS perlu membawa tingkat kebijakan sedikit di atas 4,5% pada awal tahun depan, yang saat ini di kisaran 3% - 3,25%, untuk menahan pertumbuhan dan menurunkan inflasi yang terlalu tinggi.

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, indeks dolar bergerak menguat di level 112.23 turut membebani kinerja emas. Data ekonomi mendatang yang turut dinantikan adalah US Flash Manufacturing PMI yang diprediksi melandai di angka 51 dibandingkan data sebelumnya 52.  Ekspektasi suku bunga acuan yang tinggi melemahkan daya tarik emas sehingga menjadi sentimen negatif bagi pergerakan emas.

“Harga emas melemah dengan support saat ini beralih ke areal US$ 1.647,67 dan resistance terdekatnya berada di areal US$ 1.676,14. Support terjauhnya berada di areal US$ 1.640,75 hingga ke areal US$ 1.635,36, sementara untuk resistance terjauhnya berada di areal US$ 1.682,81 hingga ke areal US$ 1.687,43,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Kamis, 20 Oktober 2022

Equity World | Harga Emas Hari Ini Naik, Ini Rinciannya dari 1 Gram hingga 1 Kg

Equity World | Harga Emas Hari Ini Naik, Ini Rinciannya dari 1 Gram hingga 1 Kg

Equity World | hari ini keluaran Logam Mulia Antam 24 karat, Jumat (21/10/2022), mengalami kenaikan harga bila dibandingkan dengan kemarin. Harga emas hari ini turun Rp 3.000 per gram ke level Rp 936.000 per gram.

Equity World | Wall Street Turun Akibat Data Ekonomi dan Pernyataan The Fed

Untuk satuan harga emas terkecil ukuran 0,5 gram saat ini berada di angka Rp 518.000. Sementara itu harga emas 10 gram dijual sebesar Rp 8.855.000. Sedangkan untuk ukuran emas yang terbesar, yakni 1.000 gram (1 kg) dibanderol dengan harga sebesar Rp 876.600.000.

Jika ditarik dalam sepekan terakhir, pergerakan harga emas Antam terpantau bergerak di rentang Rp 933.000/gram - Rp 945.000/gram. Sementara dalam sebulan terakhir pergerakannya ada di rentang Rp 930.000/gram - Rp 962.000/gram.

Sementara harga buyback emas Antam hari ini tidak mengalami perubahan dan membuat harga buyback saat ini berada di level Rp 815.000 per gram. Harga buyback ini berarti jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

Sesuai dengan PMK No. 34/PMK 10/2017, pembelian emas batangan akan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9%. Artinya, jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, sebesar 0,45%, harus menyertakan nomor NPWP untuk transaksinya.

Rincian Harga Emas Antam 1 Gram hingga 1000 Gram Hari Ini

Emas batangan 0,5 gram Rp 518.000

Emas batangan 1 gram Rp 936.000

Emas batangan 2 gram Rp 1.812.000

Emas batangan 3 gram Rp 2.693.000

Emas batangan 5 gram Rp 4.455.000

Emas batangan 10 gram Rp 8.855.000

Emas batangan 25 gram Rp 22.012.000

Emas batangan 50 gram Rp 43.945.000

Emas batangan 100 gram Rp 87.812.000

Emas batangan 250 gram Rp 219.265.000

Emas batangan 500 gram Rp 438.320.000

Emas batangan 1000 gram Rp 876.600.000

Demikian rincian harga emas hari ini keluaran Antam 1 gram hingga 1000 gram, Jumat 21 Oktober 2022.