Minggu, 08 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup perkasa pada perdagangan Jumat (6/2) dengan Dow Jones Industrial Average (.DJI) yang menembus level psikologis bersejarah 50.000.

Equityworld Futures | Bikin Deg-Degan, Ini Ramalan Terbaru Harga Emas Usai Drama Menegangkan

Pendorongnya adalah lonjakan saham Nvidia (NVDA.O) dan produsen chip lainnya, sementara saham Amazon (AMZN.O) jatuh setelah memperkirakan peningkatan pengeluaran yang tajam untuk infrastruktur Al.

Mengutip Reuters, Nasdaq (.IXIC) naik 2,18 persen menjadi 23.031,21 poin, sementara Dow naik 2,47 persen menjadi 50.115,67 poin, penutupan tertinggi sepanjang masa

Saham Amazon turun 5,6 persen setelah menyatakan rencana peningkatan Capital Expenditure lebih dari 50 persen tahun ini, yang semakin memperketat persaingan untuk mendominasi teknologi Al dan menyusul pengumuman serupa dari Alphabet (GOOGL.O), pada Rabu (11/2).

Namun demikian, saham-saham perusahaan chip melonjak seiring ekspektasi sektor tersebut akan diuntungkan dari peningkatan belanja pusat data AI oleh Amazon dan Alphabet.

Nvidia (NVDA.O), perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia, melesat 7,8 persen. Advanced Micro Devices (AMD.O) naik 8,3 persen dan Broadcom (AVGO.O) menguat 7,1 persen, sementara indeks semikonduktor PHLX (SOX) ditutup naik 5,7 persen.

Reli pada hari Jumat di S&P 500 dan Nasdaq terjadi setelah tiga sesi berturut-turut mengalami penurunan yang dipicu kekhawatiran terkait AI. 

Sejumlah saham perangkat lunak tertekan sepanjang pekan ini akibat kekhawatiran bahwa AI dapat meningkatkan persaingan dan menekan margin, sementara investor juga mencermati valuasi yang sudah tinggi setelah lonjakan tajam saham-saham terkait AI dalam beberapa tahun terakhir.

"Perdagangan ini bergejolak, dan terkadang terjadi aksi jual besar-besaran, tetapi saya pikir ada cukup bukti bahwa ada permintaan nyata untuk produk Al, potensi nyata dengan apa yang dapat mereka lakukan, dan kebutuhan akan banyak pengeluaran untuk mencapainya," kata Analis Strategi Investasi di Baird di Louisville, Kentucky, Ross Mayfield dikutip dari Reuters, Senin (9/2).

"Jadi, ketika terjadi aksi jual besar-besaran seperti ini, saya pikir akan ada titik terendah di mana sejumlah investor tertentu akan masuk dan mulai membeli saharn-saham tersebut,” imbuhnya.

Indeks 5&P 500 Software & Services (SPLRCIS) menguat 2,4 persen dan mengakhiri tujuh sesi penurunan beruntun, meskipun secara mingguan masih turun sekitar 8 persen, yang menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2020.

Dow Jones mencatat kinerja lebih baik dibandingkan S&P 500 dan Nasdaq sepanjang pekan ini, mencerminkan langkah diversifikasi investor yang belakangan menjauh dari saham teknologi yang sebelumnya mendominasi Wall Street, dan beralih ke perusahaan yang belum menikmati kenaikan besar.

Sejalan dengan tren tersebut, indeks Russell 2000 (BUI) yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga menguat sepanjang pekan.

Sebanyak sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 ditutup menguat, dipimpin oleh sektor teknologi informasi (SPLRCI) yang naik 4,1 persen, disusul sektor industri (SPLRCI) yang naik 2,84 persen. Indeks sektor energi S&P 500 (SPNY) mencetak rekor tertinggi baru, seiring dengan penguatan pada sektor industri dan kebutuhan pokok konsumen.

Secara mingguan, Dow Jones naik 2,5 persen, S&P 500 turun 0,1 persen, sementara Nasdaq melemah 1,9 persen.

Ilustrasi Transaksi

Rabu, 04 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Harga emas naik untuk hari ketiga berturut-turut dan kembali menembus $5.000 per ons, seiring aksi “buy the dip” berlanjut setelah pasar sempat jatuh tajam dari rekor tertingginya. Pada perdagangan pagi di Asia, emas spot sempat menguat hingga 1,2%.

Equityworld Futures | Pesta Pora Lagi! Harga Emas Tahu-Tahu Sudah Tembus US$5.000

Pemulihan ini terjadi setelah kejatuhan besar pekan lalu yang mengguncang pasar logam mulia. Meski sudah memantul dua sesi terakhir, pada penutupan Rabu emas masih sekitar 11% di bawah rekor tertinggi 29 Januari, namun tetap naik sekitar 15% sepanjang tahun ini—tanda volatilitas tinggi masih jadi tema utama.

Perak juga ikut menguat dan kembali melintasi $90 per ons. Sebelumnya, perak sempat mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah pada Jumat, sementara emas mengalami penurunan terdalam sejak 2013—membuat banyak pelaku pasar buru-buru menata ulang posisi dan manajemen risiko.

Meski begitu, banyak investor menilai fondasi yang mendorong reli bulan lalu belum benar-benar hilang: kombinasi minat spekulatif, ketegangan geopolitik, serta isu independensi bank sentral. Bahkan beberapa manajer dana yang sempat mengurangi posisi sebelum kejatuhan, kini disebut mulai “mengintai” peluang untuk masuk lagi ketika harga lebih stabil.

Sejumlah bank besar juga masih optimistis terhadap kelanjutan tren emas. Ada yang tetap mempertahankan proyeksi $6.000/ons, sementara yang lain melihat potensi “upside risk” terhadap target akhir tahun di kisaran $5.400—namun menekankan jalannya bisa berliku karena pasar sedang sensitif terhadap dolar dan suku bunga.

Fokus pasar sekarang ikut bergeser ke arah kebijakan suku bunga AS, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah biasanya jadi angin segar untuk emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil bunga. Pada 07:50 waktu Singapura, emas spot tercatat naik 1,2% ke $5.022,61/ons, sementara perak naik 2,3% ke $90,20.(asd)

Ilustrasi Transaksi

Senin, 02 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas naik lagi dan memangkas sebagian kerugian, setelah reli besar yang sebelumnya pecah secara tiba-tiba dan membuat harga jatuh tajam dalam waktu singkat. Perak ikut menguat, menandakan pasar mulai “tenang” setelah beberapa sesi terakhir penuh guncangan.

Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok Parah Lagi, Kebijakan CME Picu Gelombang Jual

Pada perdagangan terbaru, spot emas sempat naik hingga sekitar 2,9% mendekati $4.800/ons, sementara perak melonjak hingga sekitar 5% dan sempat menembus $83. Rebound ini terjadi setelah emas sempat turun hampir 5% pada sesi sebelumnya dan mencatat penurunan tajam dalam dua hari terakhir.

Sebelumnya, logam mulia sempat terbang ke rekor bulan lalu karena investor memburu aset aman: kekhawatiran geopolitik, isu “pelemahan nilai mata uang”, dan kekhawatiran soal independensi bank sentral ikut jadi bensin reli. Namun, reli yang terlalu cepat juga membuat posisi pasar “kepenuhan” (ramai), jadi saat dolar AS menguat—aksi ambil untung dan likuidasi posisi semakin memperparah koreksi.

Salah satu kunci arah berikutnya adalah: apakah investor Tiongkok memilih “buy the dip”. Laporan menyebutkan ramainya pembeli mengunjungi bursa emas terbesar di Shenzhen untuk membeli perhiasan dan batangan menjelang libur Tahun Baru Imlek. Pasar domestik China juga akan libur lebih dari seminggu mulai 16 Februari.

Dari sisi proyeksi bank, sebagian masih optimistis. Deutsche Bank AG misalnya tetap mempertahankan pandangan bahwa emas berpotensi menuju $6.000/ons pada tahun 2026. JP Morgan juga memproyeksikan emas bisa naik ke $6.300/ons pada akhir 2026, dengan alasan dukungan permintaan investor dan bank sentral masih kuat meskipun volatilitas meningkat.

Sementara itu, dolar AS sedikit melemah setelah sempat menguat, yang biasanya memberi nafas bagi komoditas berdenominasi USD. Di Asia, harga emas dilaporkan berada di sekitar $4.778/ons pada pagi hari Singapura, sedangkan perak sekitar $82–83—dengan platinum dan paladium juga ikut naik.

Intinya, pergerakan kali ini lebih mirip “bersih-bersih posisi” daripada perubahan total cerita fundamental. Arah selanjutnya kemungkinan ditentukan oleh tiga hal: kekuatan dolar, keputusan pelaku pasar (terutama Tiongkok) untuk membeli saat turun, dan apakah volatilitas mereda menjelang libur Imlek.

5 poin inti :

- Emas rebound hingga mendekati $4.800/ons, perak sempat menembus $83.

- Sebelumnya harga turun tajam karena reli “overcrowded” berputar + likuidasi posisi.

- Permintaan China (buy the dip) jadi penentu arah berikutnya; pasar China libur mulai 16 Feb.

- Bank besar masih bullish: Deutsche Bank $6.000, JP Morgan $6.300 (akhir 2026).

- Dolar yang melemah sedikit membantu pemulihan logam mulia, namun volatilitas masih tinggi.(asd)


Ilustrasi Transaksi

Kamis, 22 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Equityworld Futures | Lepas Kendali! Harga Emas Melonjak Ugal-Ugalan Tembus US$4.900

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.


Ilustrasi Transaksi 

Selasa, 20 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari


Equityworld Futures | Emas naik ke rekor baru saat krisis Greenland semakin memburuk dan pasar global kembali masuk mode “cari aman”. Ketegangan geopolitik dan perebutan kembali hubungan AS–Eropa membuat investor mengurangi risiko dan beralih ke aset haven seperti emas dan perak.


Equityworld Futures | Ketegangan Trump-Greenland Kerek Harga Emas Cetak Rekor Lagi


Presiden AS Donald Trump yang hadir di World Economic Forum (WEF) Davos terlihat tidak menunjukkan tanda mundur dari ambisinya mengambil alih Greenland. Situasi itu memicu peringatan dari pemimpin Greenland kepada warganya tentang kemungkinan ancaman militer, meskipun ia menilai skenario invasi tetap kecil.


Di pasar spot, emas sempat menyentuh rekor $4.849,73 per ons sebelum bergerak fluktuatif. Perak juga tetap tinggi, berada di sekitar $94, mendekati puncak sepanjang masa, menandakan kuatnya permintaan safe haven.


Tekanan geopolitik semakin meningkat setelah AS mengancam tarif terhadap delapan negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris—yang menentang rencana Trump terkait Greenland. Ancaman ini menghidupkan lagi bayangan perang dagang yang dapat merusak pertumbuhan ekonomi global dan memperbesarnya.


Di Davos, pernyataan perang semakin tajam. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik taktik dagang Trump dan menekan Eropa perlunya lebih berdaulat agar tidak “tergantung” pada pihak lain. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut tatanan internasional berdasarkan aturan praktis sudah tidak berjalan seperti dulu.


Ketegangan yang cepat membesar ini memperlihatkan betapa cepatnya hubungan antara sekutu tradisional AS memburuk. Dampaknya terasa ke pasar: dolar cenderung melemah, sementara minat pada instrumen lindung nilai seperti emas meningkat.


Selain faktor geopolitik, pasar juga diguncang kekhawatiran soal kondisi fiskal negara-negara besar, yang dipicu oleh gejolak di pasar obligasi pemerintah Jepang. Situasi ini memperkuat “debasement trade”, yaitu investor strategi menghindari mata uang dan obligasi pemerintah, lalu memilih aset yang dianggap lebih “tahan” seperti emas.


Seorang analis komoditas menilai reli emas saat ini banyak dipengaruhi oleh pertanyaan “kepercayaan”. Selama kepercayaan pada mata uang dan obligasi belum benar-benar runtuh, pasar masih bisa bertahan, namun jika kepercayaan itu pecah, dorongan kenaikan emas bisa lebih panjang dan lebih kuat.


Dari sisi permintaan, emas juga mendapat dukungan tambahan dari aksi bank sentral. Polandia dilaporkan menyiapkan rencana pembelian tambahan 150 ton, sementara bank sentral Bolivia kembali membeli cadangan devisa setelah aturan baru diberlakukan pada Desember 2025.


Pada perdagangan siang di Singapura, emas spot masih menguat sekitar 1,6% di kisaran $4.839,21 per ons. Indeks dolar cenderung stabil setelah melemah dalam dua sesi sebelumnya, menandakan pasar masih menimbang risiko geopolitik dan arah kebijakan ke depan.


5 poin penting :


- Emas mencetak rekor baru karena krisis Greenland memicu arus “safe haven”.

- Trump tidak menunjukkan tanda mundur di Davos; pemimpin Greenland sempat memperingatkan risiko militer (meski kecil).

- Ancaman tarif AS ke delapan negara Eropa menghidupkan risiko perang dagang dan menekan sentimen global.

- Gejolak obligasi pemerintah Jepang ikut mendorong “debasement trade” (hindari mata uang & bonds, pilih emas).

- permintaan bank sentral menguat: Polandia rencana tambah 150 ton, Bolivia lanjut beli untuk cadangan devisa.

Demo Ewf 

Senin, 19 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Harga emas sedikit melemah pada perdagangan terbaru, setelah sehari sebelumnya melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru. Pelemahan ini dinilai wajar sebagai koreksi teknis, karena sebagian pelaku pasar mulai mengunci profit setelah reli kencang.

Equityworld Futures | Harga Emas Berkilau, Cetak Rekor Tertinggi Baru

Meski begitu, ruang turun emas diperkirakan tidak besar. Alasannya sederhana: risiko geopolitik masih panas, dan situasi seperti ini biasanya membuat investor kembali melirik emas sebagai tempat “berlindung” saat pasar tidak pasti.

Sorotan terbaru datang dari Greenland. Denmark mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut pada Senin, di saat Presiden AS Donald Trump disebut mengatakan kepada Norwegia bahwa ia tidak perlu lagi berpikir “semata-mata tentang perdamaian” setelah tidak memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Pernyataan dan manuver ini membuat tensi makin sulit diprediksi.

Menurut Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, pola reaksi pasar belakangan ini terasa makin jelas: setiap ada gejolak, responsnya adalah “beli emas dan perak.” Artinya, setiap headline baru berpotensi langsung mengangkat permintaan logam mulia.

Di pasar, emas spot turun tipis 0,1% ke $4.666,28/ons, sementara perak spot melemah 0,4% ke $93,96/ons. Pelaku pasar kini menunggu apakah penurunan ini hanya jeda singkat—atau justru jadi awal koreksi yang lebih dalam, tergantung seberapa panas babak berikutnya dari drama geopolitik.

Demo Ewf

Minggu, 18 Januari 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga emas turun pada Jumat (16/1) Investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli komoditas terkait, sementara tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik mengurangi minat terhadap aset safe haven.

Equityworld Futures | Harga Emas Masih Jadi Primadona, Pakar Bidik Level US$ 4.750

Dilansir dari Reuters, Senin (19/1), harga emas spot turun 0,5% ke US$4.592,29. Sementara emas berjangka ditutup 0,6% lebih rendah ke US$4.595,40.

Logam mulia lainnya juga melemah. Perak spot turun 2,9% ke US$89,65, platinum anjlok 3,3% ke US$2.330,67, dan palladium turun 0,6% ke US$1.790,78.

Analis Marex Edward Meir mengatakan penurunan tersebut mencerminkan koreksi luas dalam pasar komoditas setelah kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Ia menambahkan bahwa de-eskalasi ketegangan telah menghilangkan premi geopolitik pada emas dan logam mulia lainnya, terutama perak.

Ketegangan global mereda menyusul mulai surutnya protes di Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil sikap menunggu. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak untuk memediasi situasi di Iran.

Adapun Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan yang menurunkan tarif atas banyak ekspor semikonduktor dan mendorong investasi baru ke sektor teknologi AS.

Sementara Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga hingga paruh pertama tahun ini, dengan pemangkasan pertama sebesar dua puluh lima basis poin diproyeksikan terjadi pada Juni.

Meir menilai emas masih berpotensi menguat. Ia mengatakan harga emas masih memiliki peluang mencapai US$5.000. Namun hal itu akan diwarnai oleh koreksi tajam di tengah perjalanan.

Demo Ewf