Rabu, 10 Juni 2026

Equityworld Futures | Wall Street Jatuh Lebih dari 1% Rabu (10//6), Tertekan Saham Teknologi & Konflik Iran

Equityworld Futures | Wall Street Jatuh Lebih dari 1% Rabu (10//6), Tertekan Saham Teknologi & Konflik Iran

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (10/6/2026), tertekan aksi jual saham teknologi serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik antara AS dan Iran.

Equityworld Futures | $4.100: Support Terdekat untuk Emas

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 953,33 poin atau 1,87% ke level 49.918,78. Indeks S&P 500 merosot 119,66 poin atau 1,62% ke 7.266,99, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 509,32 poin atau 1,98% menjadi 25.169,50.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan semikonduktor. Indeks saham semikonduktor turun 3,6%, dengan saham Nvidia dan Broadcom menjadi salah satu pemberat utama bagi S&P 500.

Penurunan tersebut memperpanjang koreksi sektor teknologi. S&P 500 sektor teknologi kini telah turun sekitar 11% dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 2 Juni lalu, sehingga secara teknikal masuk ke wilayah koreksi.

Selain aksi ambil untung pada saham teknologi yang sebelumnya melonjak tinggi, sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan kembali menyerang Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai.

Pernyataan tersebut muncul setelah salah satu eskalasi terbesar dalam dua bulan terakhir terjadi dalam konflik yang melibatkan AS dan Iran.

“Investor masih melakukan aksi ambil untung di sektor teknologi. Selain itu, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi setelah data ekonomi terbaru, ditambah kekhawatiran terkait perang yang berpotensi berlanjut hingga musim panas,” ujar Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management, Tom Hainlin.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX) atau yang dikenal sebagai indikator ketakutan Wall Street juga melanjutkan kenaikannya seiring meningkatnya ketidakpastian pasar.

Sektor industri menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah turun 3,4%. Pelemahan dipicu penurunan saham perusahaan logistik seperti XPO, J.B. Hunt, dan Old Dominion setelah Amazon mengumumkan ekspansi layanan angkutan barang less-than-truckload (LTL) di Amerika Serikat.

Dari sisi makroekonomi, investor juga mencermati data inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Mei 2026 tercatat naik 4,2% secara tahunan, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2023. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

Meski angka tersebut sesuai ekspektasi pasar, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun.

Namun, The Fed masih diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan bulan Juni.

Di sisi korporasi, saham Super Micro Computer anjlok 28% setelah perusahaan mengumumkan rencana penghimpunan dana senilai US$ 7 miliar melalui penerbitan saham dan instrumen terkait saham untuk mendukung kebutuhan komponen server kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, saham Oracle turun sekitar 1% pada perdagangan setelah penutupan pasar menyusul publikasi laporan keuangan terbarunya.

Analis menilai rotasi dana keluar dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mulai mengalir ke sektor yang sebelumnya tertinggal, seperti kesehatan, properti, dan barang konsumsi primer.

Profil Perusahaan 

Senin, 08 Juni 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Solid di Atas US$ 4.300, Sentimen Pasar Membaik

Equityworld Futures | Harga Emas Solid di Atas US$ 4.300, Sentimen Pasar Membaik

Equityworld Futures | Harga emas dunia solid di atas level US$ 4.300 per ons troi pada perdagangan Selasa (9/6/2026), seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Iran dan Israel sepakat menghentikan serangan satu sama lain.

Equityworld Futures | Harga Emas Berbalik Naik, Harapan Damai Israel-Iran Redam Tekanan Pasar

Harga emas hari ini terlihat naik tipis 0,09% ke US$ 4.333,96 per ons troi saat berita ditulis. Pada Senin (8/6/2026), harga emas spot ditutup naik tipis 0,02% menjadi US$ 4.329,98 per ons troi, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 23 Maret di US$ 4.268,39 per ons troi.

Dikutip dari Tradingview, prospek gencatan senjata tersebut membantu menenangkan pasar energi global dan mengurangi risiko lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak. Sentimen tersebut menjadi penopang bagi pergerakan emas setelah logam mulia itu mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran dan Israel tengah mengupayakan gencatan senjata segera, sementara negosiasi menuju kesepakatan damai masih terus berlangsung.

Meski mendapat dukungan dari perkembangan geopolitik, harga emas masih bergerak di dekat level terendah sejak akhir Maret. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terus membatasi ruang kenaikan logam mulia tersebut.

Sentimen pasar berubah setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Profil Perusahaan 

Equityworld Futures | IHSG Dibuka Anjlok 1,94 Persen Ikuti Bursa Asia dan Wall Street yang Kompak Melemah

Equityworld Futures | IHSG Dibuka Anjlok 1,94 Persen Ikuti Bursa Asia dan Wall Street yang Kompak Melemah

Equityworld Futures | IHSG dibuka anjlok 108 poin atau 1,94 persen di level 5.486 pada pembukaan perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Merosot ke Level Terendah 2 Bulan Dipicu Bayang-Bayang Suku Bunga AS

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi rebound pada perdagangan hari ini.

"IHSG berpotensi tes support di 5.450-5.500, dan jika kuat di support tersebut IHSG berpotensi rebound," kata Fanny dalam riset hariannya, Senin, 8 Juni 2026.

Dia mengatakan, Bursa Asia kompak melemah pada perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,31 persen, dan Topix turun tipis 0,07 persen.

Sejalan, Hang Seng Hong Kong melemah 1,15 persen, Taiex Taiwan turun 1,33 persen dan ASX 200 Australia terkoreksi 0,70 persen. 

Sementara itu di Korea Selatan, indeks Kospi dan Kosdaq memimpin penurunan dimana masing-masing anjlok sebesar 5,54 persen dan 4,51 persen. Di sisi lain, FTSE Straits Times juga melemah 0,35 persen, sedangkan FTSE Malay KLCI berhasil menguat 0,60 persen. 

Pelemahan Korea Selatan memimpin di kawasan tersebut, dan mengikuti penurunan saham teknologi Wall Street sebelumnya dengan saham-saham besar Samsung dan SK Hynix masing-masing anjlok 13,9 dan 9,9 persen. 

"Support IHSG berada di level 5.450-5.500 sementara resist IHSG di rentang 5.680-5.800," ujarnya.

Sebagai informasi, indeks-indeks saham Wall Street ditutup anjlok berjemaah pada perdagangan Jumat pekan lalu, setelah aksi jual besar-besaran menghantam saham-saham semikonduktor dan teknologi. 

Indeks Nasdaq Composite turun 4,18 persen, S&P 500 melemah 2,64 persen, dan Dow Jones Industrial Average berkurang 1,35 persen. Di sisi emiten, saham Broadcom turun hampir 8 persen, Marvell Technology turun lebih dari 16 persen, dan Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing turun sekitar 11 persen.

Profil Perusahaan 

Kamis, 04 Juni 2026

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Dow Jones Cetak Rekor Baru

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Dow Jones Cetak Rekor Baru

Equityworld Futures | Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Bahkan, Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di tengah aksi rotasi investor dari saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke sektor nonteknologi.

Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Terbang, Ini Syarat Agar Harganya Pecah Rekor

Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones melonjak 874,86 poin (1,73%) ke rekor ATH penutupan di 51.561,93. Sementara S&P 500 menguat 0,41% menjadi 7.584,31. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite turun tipis 0,09% ke level 26.830,96,

Kenaikan Dow dipimpin oleh saham UnitedHealth yang melesat lebih dari 5%. Saham JPMorgan Chase turut menguat sekitar 3%, sedangkan Walmart naik hampir 1%. Di luar komponen Dow Joens, sejumlah saham nonteknologi juga mencatat penguatan, termasuk Costco yang naik sekitar 1% dan Eli Lilly yang melonjak lebih dari 4%.

Pergerakan pasar terjadi setelah investor mengurangi eksposur pada saham-saham yang terkait dengan tren AI menyusul pelemahan tajam saham Broadcom. Saham Broadcom anjlok lebih dari 12% setelah perusahaan melaporkan pendapatan kuartal II fiskal yang berada di bawah ekspektasi pasar. Pelemahan tersebut menyeret sektor semikonduktor secara luas.

VanEck Semiconductor ETF (SMH), yang menjadi salah satu acuan sektor chip global, turun lebih dari 1%. Sementara itu, saham Arm Holdings melemah lebih dari 4% dan Micron Technology merosot hampir 8%.

Chief Investment Officer Montis Financial Dennis Follmer mengatakan, tren AI masih menjadi tema utama pasar, tetapi reli saham yang berlangsung selama lebih dari dua bulan mulai kehilangan momentum.

“Setelah musim laporan keuangan yang luar biasa, tema AI masih tetap kuat. Namun reli pasar mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah lonjakan yang sangat besar dalam lebih dari dua bulan terakhir,” ujarnya.

Profil Perusahaan 

Equityworld Futures | Bursa Asia Rontok Pagi Ini, Mengekor Wall Street

Equityworld Futures | Bursa Asia Rontok Pagi Ini, Mengekor Wall Street

Equityworld Futures | Bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mengikuti penurunan Wall Street di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Tajam di Tengah Ancaman Inflasi Membesar

Melansir CNBC, kondisi tersebut turut mendorong harga minyak tetap tinggi sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap kenaikan biaya energi dan tekanan inflasi global.

Ketegangan terbaru terjadi setelah Bandara Internasional Kuwait dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran pada Rabu dini hari. Insiden itu terjadi sehari setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menggagalkan sejumlah rudal balistik dan drone Iran serta melancarkan serangan balasan yang disebut sebagai aksi pertahanan diri di Pulau Qeshm, Teluk Persia.

Situasi semakin memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel dan AS siap kembali melancarkan serangan terhadap Iran apabila diperlukan. Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC, Netanyahu memperingatkan bahwa Iran sedang "bermain api" dan harus mempertimbangkan kesiapan militer kedua negara tersebut.

Meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah mendorong reli harga minyak dunia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 2% dan ditutup di level US$96,02 per barel pada Rabu, sementara minyak mentah Brent naik hampir 2% ke posisi US$97,81 per barel.

Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan koreksi 2% saat perdagangan kembali dibuka setelah libur. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru menguat lebih dari 2%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,4% setelah mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks Topix melemah 0,91% seiring aksi ambil untung investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pasar Australia juga bergerak di zona merah dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,84%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.312, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks acuan tersebut yang berada di 25.633,21.

Profil Perusahaan 

Senin, 01 Juni 2026

Equityworld Futures | Wall Street Cetak Rekor Baru, Nvidia Pimpin Reli Saham Teknologi

Equityworld Futures | Wall Street Cetak Rekor Baru, Nvidia Pimpin Reli Saham Teknologi

Equityworld Futures | Wall Street mengawali perdagangan Juni 2026 dengan performa gemilang. Tiga indeks utama saham Amerika Serikat kompak mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada penutupan perdagangan Senin (1/6/2026), ditopang reli saham teknologi yang dipimpin Nvidia serta penguatan sektor energi.

Equityworld Futures | Bruk! Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Lagi, Ini Penyebabnya

Indeks S&P 500 naik 0,26% dan berakhir di level 7.599,96. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,42% ke posisi 27.086,81 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 46,42 poin atau 0,09% menjadi 51.078,88.

Selain mencetak rekor penutupan tertinggi, ketiga indeks tersebut juga sempat menyentuh level tertinggi baru dalam perdagangan intraday.

Penguatan pasar dipimpin oleh Nvidia yang melesat lebih dari 6% setelah memperkenalkan prosesor terbaru untuk komputer pribadi (PC). Kenaikan tersebut turut mengangkat saham perusahaan terkait, dengan Dell Technologies melonjak lebih dari 10% dan HP Inc menguat lebih dari 8%.

Pada sisi lain, Intel justru bergerak berlawanan arah dengan terkoreksi lebih dari 4%, meskipun selama bertahun-tahun menjadi pemain dominan di pasar cip PC.

Selain sektor teknologi, sektor energi menjadi satu-satunya kelompok saham lain dalam indeks S&P 500 yang mencatatkan penguatan signifikan. Saham Marathon Petroleum naik sekitar 4%, sedangkan Exxon Mobil dan Chevron masing-masing menguat 2,8% dan 1,9%.

Kinerja sektor energi didukung lonjakan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,93% dan ditutup di level US$ 92,54 per barel. Sementara itu, minyak Brent menguat 4,24% menjadi US$ 94,98 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa para negosiator negara tersebut menghentikan komunikasi dengan Amerika Serikat. Teheran juga disebut mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.

Namun, pelaku pasar tetap menunjukkan optimisme. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyampaikan pernyataan yang beragam terkait perkembangan hubungan dengan Iran.

"Saya benar-benar tidak peduli. Sama sekali tidak peduli," kata Trump saat ditanya mengenai kemungkinan berakhirnya pembicaraan damai dengan Iran.

Trump juga menyatakan akan meminta penjelasan langsung kepada Benjamin Netanyahu terkait perkembangan situasi di Lebanon.

"Saya akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Lebanon," ujarnya.

Namun beberapa jam kemudian, Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan yang produktif dengan Netanyahu.

"Saya baru saja melakukan pembicaraan yang sangat produktif. Tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut dan pasukan yang sebelumnya dalam perjalanan telah diperintahkan untuk kembali," tulis Trump melalui Truth Social.

Dalam unggahan terpisah, Trump juga menyebut komunikasi dengan Iran masih berlangsung.

"Pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dengan sangat cepat," tulisnya.

Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi perhatian pasar setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan pihaknya berhasil mencegat dua rudal balistik Iran yang diarahkan ke personel militer AS di Kuwait.

Meski risiko konflik masih membayangi, investor menilai peluang deeskalasi lebih besar dibandingkan kemungkinan eskalasi baru. Pekan lalu, negosiator AS dan Iran bahkan dilaporkan mencapai nota kesepahaman selama 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh.

Chief Investment Officer Orion, Tim Holland, menilai pasar tidak lagi memperkirakan konflik akan kembali memanas seperti fase awal perang.

"Hubungan AS dan Iran saat ini seperti dua langkah maju lalu satu langkah mundur. Namun yang jelas, pasar tidak memperkirakan konflik akan kembali memanas seperti yang terjadi pada dua hingga tiga pekan pertama," ujar Holland.

Menurut dia, pelaku pasar masih percaya bahwa kondisi saat ini lebih dekat menuju penyelesaian konflik dibandingkan munculnya ketegangan baru.

"Kita masih lebih dekat ke jalur keluar dari konflik dibandingkan ke arah eskalasi baru," pungkasnya.

Profil Perusahaan 

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Tertekan Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Harga Minyak

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Tertekan Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Harga Minyak

Equityworld Futures | Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (1/6/2026) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak mentah. Pelaku pasar juga masih menantikan keputusan Presiden AS Donald Trump terkait usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.

Equityworld Futures | Harga Minyak Tiba-Tiba Memanas Lagi, Israel Jadi Biang Kerok

Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 0,7% menjadi US$ 4.505,87 per ons troi pada pukul 07.18 GMT. Penurunan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 1,2% menjadi US$ 4.535,90 per ons troi. 

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Kenaikan nilai tukar dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga berpotensi mengurangi permintaan. 

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan kombinasi kenaikan harga minyak dan ketidakpastian terkait kesepakatan antara AS dan Iran masih membebani pergerakan harga emas.

"Harga minyak yang naik, ditambah dengan kesepakatan AS-Iran yang masih belum jelas, cukup untuk membuat pergerakan emas kehilangan keseimbangan pada awal pekan ini," ujar Waterer. 

Pada Jumat lalu, Trump menyatakan akan segera mengambil keputusan terkait usulan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Namun, kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan mengenai sejumlah isu penting yang menjadi akar konflik. 

Pemerintah AS juga menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi militer Iran pada akhir pekan. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran pada Senin mengumumkan telah menargetkan pangkalan militer AS. 

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukan Israel untuk bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi melawan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Langkah tersebut dilakukan meskipun gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan lalu. 

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pada Senin, harga minyak melonjak lebih dari 3%, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi dan suku bunga.

Profil Perusahaan