Selasa, 24 Februari 2026

Equityworld Futures | Bursa Asia Siap Menguat Usai Sektor Teknologi Wall Street Bangkit

Equityworld Futures | Bursa Asia Siap Menguat Usai Sektor Teknologi Wall Street Bangkit

Equityworld Futures | Bursa saham Asia diprediksi akan menguat pada perdagangan hari ini, mengikuti reli perusahaan teknologi di Wall Street yang berhasil meredam kecemasan investor terkait dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI).

Equityworld Futures | Bruk! Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Hampir 2% dalam 24 Jam, Ada Apa?

Kontrak berjangka indeks saham memberi sinyal pembukaan yang solid di Sydney, Tokyo, dan Hong Kong. Di Amerika Serikat, kebangkitan saham-saham perangkat lunak yang sempat terpuruk mendorong Nasdaq 100 naik 1,1%. Sementara itu, S&P 500 juga menguat didorong oleh perbaikan kepercayaan konsumen. Di pasar lain, obligasi jangka pendek mencatatkan kinerja kurang memuaskan, sementara emas dan minyak dunia kompak melemah.

Saham Advanced Micro Devices Inc (AMD) melonjak sekitar 9% setelah Meta Platforms Inc berencana menggelontorkan miliaran dolar untuk membeli perangkat mereka. Sentimen positif ini muncul hanya beberapa pekan setelah Anthropic PBC sempat memicu kekacauan pasar melalui perilisan alat yang mempertanyakan eksistensi model bisnis konvensional di era AI. Kini, perusahaan rintisan tersebut justru menyatakan akan memperluas jangkauan chatbot Claude ke sektor-sektor baru.

Adam Crisafulli dari Vital Knowledge mengatakan bahwa Anthropic kini menekankan bagaimana Claude berfungsi untuk berintegrasi, alih-alih menggantikan sistem yang sudah ada.

"Pesan 'kami di sini untuk membantu, bukan merugikan' dari Anthropic ini membantu memicu reli pemulihan yang cukup sehat pada sektor perangkat lunak," ujar Crisafulli.

Para pelaku pasar kini tengah bersiap menanti laporan keuangan Nvidia Corp pada hari Rabu, dengan ekspektasi bahwa raksasa produsen cip tersebut akan melampaui prediksi pasar. Laporan ini sangat dinantikan setelah kinerja saham Nvidia cenderung lesu akibat rotasi investor yang menjauh dari saham-saham berkapitalisasi besar.

David Laut dari Kerux Financial menilai laporan laba pekan ini akan menjadi penentu. "Hasil pekan ini akan 'menenangkan atau justru memperburuk' ketakutan terhadap AI. Kita memang tidak akan mendapatkan semua jawaban pekan ini, tetapi investor yang cemas sangat membutuhkan kejelasan," tuturnya.

Sebelum laporan Nvidia dirilis, Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato State of the Union pada Selasa malam waktu setempat untuk memaparkan prioritas pemerintahannya di tahun mendatang.

Pada penutupan perdagangan terakhir, S&P 500 naik 0,8%, sementara imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun tidak banyak berubah di level 4,03%. Dolar AS terpantau fluktuatif, sedangkan emas terkoreksi setelah menguat empat hari berturut-turut, dan minyak mentah turun untuk hari ketiga.

Di kawasan Asia-Pasifik, laporan inflasi Australia diperkirakan menunjukkan sedikit pelambatan pada angka pertumbuhan utama, meski diprediksi tetap berada di atas target bank sentral. Sementara itu, Bank Sentral Thailand diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Mata uang Yen terpantau stabil di awal perdagangan setelah mengalami penurunan pada hari Selasa. Hal ini menyusul laporan media lokal bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kekhawatirannya atas kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam pertemuannya dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda pekan lalu.

Profil Perusahaan

Senin, 23 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Terkapar, Pasar Asia Menguat

Equityworld Futures | Wall Street Terkapar, Pasar Asia Menguat

Equityworld Futures | Pasar saham Asia-Pasifik menguat pada perdagangan Selasa (24/2/2026), berlawanan arah dengan Wall Street. Ini terjadi di tengah kekhawatiran baru terkait ancaman tarif Presiden AS Donald Trump dan potensi disrupsi kecerdasan buatan terhadap perusahaan perangkat lunak.

Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Mengamuk, Tiba-Tiba Sudah Tembus US$5.200 Lagi

Melansir CNBC.com, Investor mencermati pernyataan Trump di Truth Social yang menyebut negara mana pun yang ingin "bermain-main" dengan putusan Mahkamah Agung akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi.

Komentar tersebut muncul setelah Supreme Court of the United States pada Jumat membatalkan tarif yang diberlakukan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Sebagai respons, Trump mengatakan akan mengenakan tarif global sebesar 15% berdasarkan Section 122 dari Trade Act 1974.

Pelaku pasar di Asia juga menanti keputusan suku bunga pinjaman utama China atau loan prime rate (LPR). LPR tenor satu tahun menjadi acuan pinjaman komersial baru, sementara LPR lima tahun menjadi patokan untuk kredit properti.

Pasar saham China daratan dibuka kembali setelah libur Tahun Baru Imlek. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index Hong Kong berada di level 26.869, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 27.081,91.

Di Korea Selatan, KOSPI melanjutkan reli pemecahan rekor dengan kenaikan 0,24%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 0,56%. Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,23%, sementara Topix bergerak datar.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turut menguat 0,12%. Sebaliknya, pada perdagangan semalam di AS, Dow Jones Industrial Average anjlok 1,66%, Nasdaq Composite turun 1,13%, dan S&P 500 melemah 1,04%.

Saham-saham keamanan siber kembali tertekan untuk hari kedua berturut-turut karena investor mengkhawatirkan alat keamanan berbasis kecerdasan buatan yang berpotensi menggeser model bisnis lama di sektor tersebut.

Profil Perusahaan

Equityworld Futures | Emas Menguat, Tarif 15% Trump Guncang Pasar

Equityworld Futures | Emas Menguat, Tarif 15% Trump Guncang Pasar

Equityworld Futures | Harga emas naik setelah mencatat kenaikan selama tiga minggu berturut-turut, seiring ketidakpastian kebijakan dagang AS kembali mengguncang pasar dan menekan dolar. Investor cenderung masuk ke aset defensif, membuat emas kembali diburu di tengah meningkatnya risiko global.

Equityworld Futures | Harga Emas Memperpanjang Kenaikan

Emas batangan sempat menguat hingga 1,4% menuju US$5.180 per ons. Kenaikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif global 15%, sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung yang menolak penggunaan kewenangan daruratnya untuk menerapkan bea masuk. Dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pembeli non-AS, sehingga ikut memperkuat permintaan.

Putusan pengadilan tersebut juga memunculkan keraguan atas sejumlah kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan AS dengan mitra utama. Pejabat perdagangan Parlemen Eropa disebut akan mengusulkan penundaan ratifikasi perjanjian dengan Washington sampai situasi lebih jelas. India juga menunda agenda perjalanan ke AS, sementara politisi Jepang menyebut kondisi ini sebagai “kekacauan”, menambah lapisan ketidakpastian di pasar.

Reli emas belakangan ini membantu harga pulih setelah sempat terkoreksi tajam di awal bulan, yang menyeret harga turun dari rekor tertinggi. Dukungan jangka panjang untuk emas dinilai masih kuat, mulai dari tensi geopolitik yang meningkat hingga kehati-hatian investor terhadap obligasi pemerintah dan mata uang utama.

Meski begitu, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek karena perkembangan tarif AS masih dinamis dan situasi Iran belum stabil. Pada perdagangan sore di Singapura, emas tercatat naik sekitar 0,5% ke US$5.134,16/ons, sementara indeks dolar Bloomberg turun 0,2%. Perak menguat 1,4% ke US$85,81, sedangkan platinum dan paladium cenderung stabil.

Profil Perusahaan

Kamis, 19 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Turun Kamis (19/2), Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Turun Kamis (19/2), Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (19/2/2026), terseret penurunan saham perusahaan private equity serta pelemahan saham raksasa seperti Apple dan Walmart.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak Dua Hari Beruntun, Tembus US$4.997/Troy Ons di Tengah Tensi Geopolitik

Kenaikan saham sektor industri yang ditopang kinerja emiten membatasi tekanan lebih dalam.

Melansir Reuters, indeks S&P 500 turun 0,28% ke level 6.861,89. Nasdaq Composite melemah 0,31% ke 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,54% ke 49.395,16. 

Saham perusahaan private equity anjlok setelah Blue Owl Capital memutuskan menjual aset senilai US$1,4 miliar dan membekukan penarikan dana (redemption) di salah satu reksadananya guna mengelola utang dan mengembalikan modal kepada investor.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terkait kualitas kredit dan eksposur pemberi pinjaman terhadap saham-saham perangkat lunak.

Saham Apollo Global Management, Ares Management, KKR & Co, serta Carlyle Group merosot antara 1,9% hingga 5,2%, sementara Blue Owl sendiri jatuh 6%.

Saham Apple turun 1,4% dan menjadi penekan terbesar bagi indeks S&P 500. Sementara itu, Walmart juga melemah 1,4% setelah CEO barunya, John Furner, memulai masa jabatan dengan proyeksi fiskal 2027 yang konservatif serta mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai US$30 miliar. 

Saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) mengalami volatilitas dalam beberapa bulan terakhir di tengah kekhawatiran valuasi yang sudah tinggi dan belum adanya bukti kuat bahwa investasi besar-besaran di AI telah mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba secara signifikan.

“Pasar sedang mencoba memahami lini bisnis mana yang benar-benar terancam secara material oleh AI. Teknologi ini berkembang sangat cepat dan hari seperti ini terasa wajar. Kita berada di fase siklus di mana tidak semua pihak akan menjadi pemenang dan tidak semua ekspektasi akan terpenuhi,” ujar Keith Buchanan, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, Atlanta.

Di sisi lain, Deere & Co melonjak 11,6% setelah produsen alat berat pertanian itu menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui estimasi kinerja kuartal pertama.

Indeks energi S&P 500 naik 0,6% seiring kenaikan harga minyak mentah akibat meningkatnya kekhawatiran konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Sebaliknya, indeks keuangan S&P 500 turun 0,9%. 

Saham Omnicom melonjak 15% setelah perusahaan periklanan tersebut melampaui estimasi pendapatan kuartal keempat. Sementara itu, Carvana merosot hampir 8% karena gagal memenuhi estimasi laba kuartal IV.

Penyedia perangkat lunak EPAM Systems anjlok 17% setelah memberikan proyeksi kuartal pertama yang berhati-hati dan mengecewakan investor.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah mengenai arah kebijakan suku bunga tahun ini.

Investor juga mencermati data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil.

Fokus berikutnya tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed yang akan dirilis Jumat untuk mencari petunjuk arah suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang 50% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni mendatang. 

Profil Perusahaan

Equityworld Futures | Emas Stabil di $5.000, Pasar Mengunci Fokus ke The Fed

Equityworld Futures | Emas Stabil di $5.000, Pasar Mengunci Fokus ke The Fed

Equityworld Futures | Harga emas kembali menguat ke area $5.000 per ons pada Kamis(19/2), melanjutkan reli setelah melonjak sekitar 2% pada sesi sebelumnya. Perdagangan Asia yang cenderung tipis—karena sebagian pasar tutup untuk libur Tahun Baru Imlek—membuat pergerakan harga lebih mudah berfluktuasi, sementara pelaku pasar fokus pada arah kebijakan suku bunga AS.

Equityworld Futures | Harga Emas Diramal Bakal Menguat, Balik Lagi ke Level USD5.000

Emas sempat naik hingga 0,9% dan perak menguat hingga 3%, menegaskan volatilitas logam mulia masih tinggi. Pasar masih sensitif sejak terjadi penurunan tajam bersejarah pada akhir Januari, sehingga respons terhadap berita dan perubahan sentimen cenderung lebih cepat.

Penentu utama langkah berikutnya tetap suku bunga The Fed. Risalah rapat kebijakan 27–28 Januari yang dirilis Rabu menunjukkan para pejabat bank sentral tampak lebih berhati-hati untuk segera memangkas suku bunga, sehingga pasar menilai pelonggaran kebijakan belum tentu terjadi dalam waktu dekat.

Nada tersebut berpotensi memunculkan dinamika politik, karena Presiden Donald Trump mendorong biaya pinjaman lebih rendah—yang biasanya positif untuk emas karena tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, dolar AS masih mempertahankan penguatannya setelah data ekonomi Amerika menunjukkan ketahanan, termasuk kenaikan produksi industri terbesar dalam hampir setahun dan pesanan barang modal inti yang lebih kuat dari perkiraan.

Meski dolar dapat menjadi penahan jangka pendek, sejumlah bank besar masih memperkirakan emas berpeluang melanjutkan tren naik, didukung kekhawatiran independensi The Fed dan ketegangan geopolitik. Pasar juga memantau pembicaraan nuklir AS–Iran yang belum menemui hasil; pejabat AS menyebut Iran akan kembali dalam dua minggu dengan proposal rinci, sementara laporan Axios menilai operasi militer AS—jika terjadi—bisa berlangsung berminggu-minggu. Pada perdagangan terbaru, emas spot naik 0,5% ke $5.004,32 dan perak naik 2% ke $78,78.

Source : *News Maker 23 - Indonesia News Portal for Traders*

Profil Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (13/2/2026), namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Berjangka Turun 0,1% Jadi USD5.092

Meredanya kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah proyeksi kelebihan pasokan global tahun ini, menekan sentimen pasar energi.

Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude naik tipis 3 sen menjadi US$67,55 per barel pada awal perdagangan Asia, setelah sehari sebelumnya merosot 2,7%.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 1 sen ke US$62,85 per barel, usai terkoreksi 2,8% pada sesi sebelumnya.

Secara mingguan, Brent diperkirakan turun sekitar 0,8%, sedangkan WTI melemah sekitar 1,1%.

Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya sempat memicu lonjakan premi risiko geopolitik.

Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, harga minyak kini melemah di tengah sinyal bahwa Washington memberi lebih banyak waktu untuk negosiasi dengan Teheran.

“Hal ini mengurangi premi risiko geopolitik dalam jangka pendek,” ujarnya dalam catatan riset.

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dibebani proyeksi fundamental yang kurang mendukung.

Dalam laporan bulanannya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, sementara total pasokan diproyeksikan melampaui permintaan.

Tekanan semakin besar setelah data menunjukkan lonjakan signifikan stok minyak mentah AS. Penumpukan persediaan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar berada dalam kondisi surplus.

Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi peningkatan produksi dari Venezuela. Produksi minyak negara tersebut diperkirakan bisa kembali mendekati level sebelum sanksi, naik dari sekitar 880.000 barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah AS dilaporkan akan menerbitkan lebih banyak izin yang melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela.

Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyebut penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS telah menghasilkan lebih dari US$1 miliar sejak Januari dan berpotensi menambah US$5 miliar lagi dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan kombinasi meredanya risiko konflik Iran dan meningkatnya potensi suplai global, pasar minyak kini lebih fokus pada ancaman kelebihan pasokan dibandingkan risiko gangguan distribusi.

Jika proyeksi surplus terealisasi, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut dalam jangka menengah.

Profil Perusahaan

Rabu, 11 Februari 2026

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Bursa Saham Amerika Serikat atau Wall Street hari ini diproyeksi cukup stabil usai ditutup melemah tipis pada perdagangan di Rabu (11/2). Laporan ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi, namun sekaligus memicu spekulasi bahwa laju pemangkasan suku bunga akan melambat dari Federal Reserve (The Fed).

Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi

Dikutip dari Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,13% ke 50.121,40. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,01% ke 6.941,47, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,16% ke 23.066,47.

Ketiga indeks utama  sempat dibuka menguat. S&P 500 dan Nasdaq bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sentimen positif muncul setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan lalu jauh melampaui ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%.

Namun, penguatan tersebut memudar seiring pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi penurunan suku bunga. Mayoritas trader masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar dua puluh lima basis poin pada Juni. Namun peluang suku bunga bertahan pada bulan tersebut meningkat menjadi sekitar 41%.

Strategis Pasar Global New York Life Investments, Julia Hermann menilai investor mencerna perubahan ekspektasi suku bunga dengan cukup baik karena data tenaga kerja yang kuat dipandang sebagai sinyal positif bagi perekonomian.

“Kabar ini konstruktif karena menunjukkan ekonomi tidak berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan pemangkasan suku bunga agresif,” ujar Hermann.

“Pasar melihat titik keseimbangan, di mana perekrutan cukup kuat untuk menunjukkan ekonomi tangguh, tetapi tidak terlalu panas hingga menggagalkan harapan pelonggaran kebijakan moneter ke depan," tambahnya.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI). Ia dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar dan kebijakan suku bunga bank sentral dalam waktu dekat.

Bagi investor global, pergerakan ini menegaskan pentingnya data ekonomi sebagai penggerak utama sentimen pasar keuangan dunia.

Profil Perusahaan