Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Tembus 111 Dollar AS Per Barel
Equityworld Futures | Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Konflik yang meluas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membuat sejumlah produsen minyak utama di kawasan tersebut mulai mengurangi produksi.
Dikutip dari Reuters, kekhawatiran gangguan pengiriman melalui jalur strategis Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak hingga ke level tertinggi sejak Juli 2022.
Pada Senin (9/3/2026) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak 18,35 dollar AS atau 19,8 persen menjadi 111,04 dollar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik 16,50 dollar AS atau 18,2 persen menjadi 107,40 dollar AS per barel.
Pada awal sesi perdagangan, harga WTI bahkan sempat melonjak hingga 20,34 dollar AS atau 22,4 persen ke posisi 111,24 dollar AS per barel. Lonjakan tersebut melanjutkan reli tajam yang terjadi sepanjang pekan lalu.
Harga Brent tercatat naik 27 persen, sedangkan WTI melesat 35,6 persen. Tekanan pada pasokan mulai terlihat setelah Irak dan Kuwait mengurangi produksi minyak.
Kondisi ini menambah pengurangan pasokan gas alam cair sebelumnya dari Qatar karena perang menghambat pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah.
Para analis menilai langkah serupa kemungkinan akan diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kedua negara tersebut diperkirakan harus mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mulai penuh.
Situasi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih mahal selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Hal itu bisa terjadi meskipun konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan tersebut berakhir dengan cepat, karena pemasok masih harus menghadapi kerusakan fasilitas, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pengiriman.
"Saya pikir harga telah menguat pagi ini karena laporan bahwa produsen Timur Tengah sekarang mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh," kata ahli strategi komoditas senior ANZ, Daniel Hynes.