Senin, 02 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas naik lagi dan memangkas sebagian kerugian, setelah reli besar yang sebelumnya pecah secara tiba-tiba dan membuat harga jatuh tajam dalam waktu singkat. Perak ikut menguat, menandakan pasar mulai “tenang” setelah beberapa sesi terakhir penuh guncangan.

Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok Parah Lagi, Kebijakan CME Picu Gelombang Jual

Pada perdagangan terbaru, spot emas sempat naik hingga sekitar 2,9% mendekati $4.800/ons, sementara perak melonjak hingga sekitar 5% dan sempat menembus $83. Rebound ini terjadi setelah emas sempat turun hampir 5% pada sesi sebelumnya dan mencatat penurunan tajam dalam dua hari terakhir.

Sebelumnya, logam mulia sempat terbang ke rekor bulan lalu karena investor memburu aset aman: kekhawatiran geopolitik, isu “pelemahan nilai mata uang”, dan kekhawatiran soal independensi bank sentral ikut jadi bensin reli. Namun, reli yang terlalu cepat juga membuat posisi pasar “kepenuhan” (ramai), jadi saat dolar AS menguat—aksi ambil untung dan likuidasi posisi semakin memperparah koreksi.

Salah satu kunci arah berikutnya adalah: apakah investor Tiongkok memilih “buy the dip”. Laporan menyebutkan ramainya pembeli mengunjungi bursa emas terbesar di Shenzhen untuk membeli perhiasan dan batangan menjelang libur Tahun Baru Imlek. Pasar domestik China juga akan libur lebih dari seminggu mulai 16 Februari.

Dari sisi proyeksi bank, sebagian masih optimistis. Deutsche Bank AG misalnya tetap mempertahankan pandangan bahwa emas berpotensi menuju $6.000/ons pada tahun 2026. JP Morgan juga memproyeksikan emas bisa naik ke $6.300/ons pada akhir 2026, dengan alasan dukungan permintaan investor dan bank sentral masih kuat meskipun volatilitas meningkat.

Sementara itu, dolar AS sedikit melemah setelah sempat menguat, yang biasanya memberi nafas bagi komoditas berdenominasi USD. Di Asia, harga emas dilaporkan berada di sekitar $4.778/ons pada pagi hari Singapura, sedangkan perak sekitar $82–83—dengan platinum dan paladium juga ikut naik.

Intinya, pergerakan kali ini lebih mirip “bersih-bersih posisi” daripada perubahan total cerita fundamental. Arah selanjutnya kemungkinan ditentukan oleh tiga hal: kekuatan dolar, keputusan pelaku pasar (terutama Tiongkok) untuk membeli saat turun, dan apakah volatilitas mereda menjelang libur Imlek.

5 poin inti :

- Emas rebound hingga mendekati $4.800/ons, perak sempat menembus $83.

- Sebelumnya harga turun tajam karena reli “overcrowded” berputar + likuidasi posisi.

- Permintaan China (buy the dip) jadi penentu arah berikutnya; pasar China libur mulai 16 Feb.

- Bank besar masih bullish: Deutsche Bank $6.000, JP Morgan $6.300 (akhir 2026).

- Dolar yang melemah sedikit membantu pemulihan logam mulia, namun volatilitas masih tinggi.(asd)


Ilustrasi Transaksi

Kamis, 22 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Equityworld Futures | Lepas Kendali! Harga Emas Melonjak Ugal-Ugalan Tembus US$4.900

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.


Ilustrasi Transaksi 

Selasa, 20 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari


Equityworld Futures | Emas naik ke rekor baru saat krisis Greenland semakin memburuk dan pasar global kembali masuk mode “cari aman”. Ketegangan geopolitik dan perebutan kembali hubungan AS–Eropa membuat investor mengurangi risiko dan beralih ke aset haven seperti emas dan perak.


Equityworld Futures | Ketegangan Trump-Greenland Kerek Harga Emas Cetak Rekor Lagi


Presiden AS Donald Trump yang hadir di World Economic Forum (WEF) Davos terlihat tidak menunjukkan tanda mundur dari ambisinya mengambil alih Greenland. Situasi itu memicu peringatan dari pemimpin Greenland kepada warganya tentang kemungkinan ancaman militer, meskipun ia menilai skenario invasi tetap kecil.


Di pasar spot, emas sempat menyentuh rekor $4.849,73 per ons sebelum bergerak fluktuatif. Perak juga tetap tinggi, berada di sekitar $94, mendekati puncak sepanjang masa, menandakan kuatnya permintaan safe haven.


Tekanan geopolitik semakin meningkat setelah AS mengancam tarif terhadap delapan negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris—yang menentang rencana Trump terkait Greenland. Ancaman ini menghidupkan lagi bayangan perang dagang yang dapat merusak pertumbuhan ekonomi global dan memperbesarnya.


Di Davos, pernyataan perang semakin tajam. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik taktik dagang Trump dan menekan Eropa perlunya lebih berdaulat agar tidak “tergantung” pada pihak lain. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut tatanan internasional berdasarkan aturan praktis sudah tidak berjalan seperti dulu.


Ketegangan yang cepat membesar ini memperlihatkan betapa cepatnya hubungan antara sekutu tradisional AS memburuk. Dampaknya terasa ke pasar: dolar cenderung melemah, sementara minat pada instrumen lindung nilai seperti emas meningkat.


Selain faktor geopolitik, pasar juga diguncang kekhawatiran soal kondisi fiskal negara-negara besar, yang dipicu oleh gejolak di pasar obligasi pemerintah Jepang. Situasi ini memperkuat “debasement trade”, yaitu investor strategi menghindari mata uang dan obligasi pemerintah, lalu memilih aset yang dianggap lebih “tahan” seperti emas.


Seorang analis komoditas menilai reli emas saat ini banyak dipengaruhi oleh pertanyaan “kepercayaan”. Selama kepercayaan pada mata uang dan obligasi belum benar-benar runtuh, pasar masih bisa bertahan, namun jika kepercayaan itu pecah, dorongan kenaikan emas bisa lebih panjang dan lebih kuat.


Dari sisi permintaan, emas juga mendapat dukungan tambahan dari aksi bank sentral. Polandia dilaporkan menyiapkan rencana pembelian tambahan 150 ton, sementara bank sentral Bolivia kembali membeli cadangan devisa setelah aturan baru diberlakukan pada Desember 2025.


Pada perdagangan siang di Singapura, emas spot masih menguat sekitar 1,6% di kisaran $4.839,21 per ons. Indeks dolar cenderung stabil setelah melemah dalam dua sesi sebelumnya, menandakan pasar masih menimbang risiko geopolitik dan arah kebijakan ke depan.


5 poin penting :


- Emas mencetak rekor baru karena krisis Greenland memicu arus “safe haven”.

- Trump tidak menunjukkan tanda mundur di Davos; pemimpin Greenland sempat memperingatkan risiko militer (meski kecil).

- Ancaman tarif AS ke delapan negara Eropa menghidupkan risiko perang dagang dan menekan sentimen global.

- Gejolak obligasi pemerintah Jepang ikut mendorong “debasement trade” (hindari mata uang & bonds, pilih emas).

- permintaan bank sentral menguat: Polandia rencana tambah 150 ton, Bolivia lanjut beli untuk cadangan devisa.

Demo Ewf 

Senin, 19 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Harga emas sedikit melemah pada perdagangan terbaru, setelah sehari sebelumnya melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru. Pelemahan ini dinilai wajar sebagai koreksi teknis, karena sebagian pelaku pasar mulai mengunci profit setelah reli kencang.

Equityworld Futures | Harga Emas Berkilau, Cetak Rekor Tertinggi Baru

Meski begitu, ruang turun emas diperkirakan tidak besar. Alasannya sederhana: risiko geopolitik masih panas, dan situasi seperti ini biasanya membuat investor kembali melirik emas sebagai tempat “berlindung” saat pasar tidak pasti.

Sorotan terbaru datang dari Greenland. Denmark mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut pada Senin, di saat Presiden AS Donald Trump disebut mengatakan kepada Norwegia bahwa ia tidak perlu lagi berpikir “semata-mata tentang perdamaian” setelah tidak memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Pernyataan dan manuver ini membuat tensi makin sulit diprediksi.

Menurut Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, pola reaksi pasar belakangan ini terasa makin jelas: setiap ada gejolak, responsnya adalah “beli emas dan perak.” Artinya, setiap headline baru berpotensi langsung mengangkat permintaan logam mulia.

Di pasar, emas spot turun tipis 0,1% ke $4.666,28/ons, sementara perak spot melemah 0,4% ke $93,96/ons. Pelaku pasar kini menunggu apakah penurunan ini hanya jeda singkat—atau justru jadi awal koreksi yang lebih dalam, tergantung seberapa panas babak berikutnya dari drama geopolitik.

Demo Ewf

Minggu, 18 Januari 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga emas turun pada Jumat (16/1) Investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli komoditas terkait, sementara tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik mengurangi minat terhadap aset safe haven.

Equityworld Futures | Harga Emas Masih Jadi Primadona, Pakar Bidik Level US$ 4.750

Dilansir dari Reuters, Senin (19/1), harga emas spot turun 0,5% ke US$4.592,29. Sementara emas berjangka ditutup 0,6% lebih rendah ke US$4.595,40.

Logam mulia lainnya juga melemah. Perak spot turun 2,9% ke US$89,65, platinum anjlok 3,3% ke US$2.330,67, dan palladium turun 0,6% ke US$1.790,78.

Analis Marex Edward Meir mengatakan penurunan tersebut mencerminkan koreksi luas dalam pasar komoditas setelah kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Ia menambahkan bahwa de-eskalasi ketegangan telah menghilangkan premi geopolitik pada emas dan logam mulia lainnya, terutama perak.

Ketegangan global mereda menyusul mulai surutnya protes di Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil sikap menunggu. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak untuk memediasi situasi di Iran.

Adapun Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan yang menurunkan tarif atas banyak ekspor semikonduktor dan mendorong investasi baru ke sektor teknologi AS.

Sementara Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga hingga paruh pertama tahun ini, dengan pemangkasan pertama sebesar dua puluh lima basis poin diproyeksikan terjadi pada Juni.

Meir menilai emas masih berpotensi menguat. Ia mengatakan harga emas masih memiliki peluang mencapai US$5.000. Namun hal itu akan diwarnai oleh koreksi tajam di tengah perjalanan.

Demo Ewf

Rabu, 14 Januari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Melemah, Saham Teknologi dan Perbankan Jadi Beban

Equityworld Futures | Wall Street Melemah, Saham Teknologi dan Perbankan Jadi Beban

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/1/2026), dengan tekanan paling besar datang dari sektor teknologi dan perbankan.

Equityworld Futures | Harga Emas Mengamuk, Lagi-Lagi Cetak Rekor & Sejarah Baru

Investor mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi dan beralih ke sektor yang lebih defensif, seiring ketidakpastian kebijakan serta kinerja emiten yang dinilai belum sepenuhnya memuaskan. 

Mengutip Reuters pada Kamis (15/1/2026), indeks S&P 500 turun 36,71 poin atau 0,53 persen ke level 6.927,03. 

Nasdaq Composite jatuh 228,69 poin atau 0,96 persen ke 23.481,19, sementara Dow Jones Industrial Average melemah tipis 33,37 poin atau 0,07 persen ke posisi 49.158,62. 

Nasdaq memimpin pelemahan seiring aksi jual di saham-saham teknologi, sementara sektor perbankan kembali tertekan setelah laporan keuangan kuartalan menunjukkan hasil yang beragam. 

Indeks perbankan S&P 500 mencatat penurunan signifikan, dipicu anjloknya saham Wells Fargo setelah gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat.

Tekanan juga melanda saham Citigroup dan Bank of America. 

Keduanya tetap melemah meskipun membukukan laba di atas perkiraan analis, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek sektor keuangan ke depan. 

Sektor keuangan, yang sebelumnya mencatat penguatan solid sepanjang 2025, kini menghadapi tekanan tambahan akibat kekhawatiran pasar atas rencana Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit. 

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan profitabilitas bank dan mempersempit ruang gerak bisnis keuangan. 

“Setelah kenaikan yang bagus dan pendapatan yang biasa-biasa saja atau medioker, investor cenderung melakukan aksi ambil untung dan konsolidasi,” ujar Chief Market Strategist JonesTrading di Stamford, Connecticut, Michael O’Rourke. 

Ia menambahkan, di sektor teknologi, investor mulai melakukan rotasi dari saham-saham megakap yang mahal ke saham bernilai dan sektor yang lebih defensif. 

Sejalan dengan itu, sektor keuangan dan teknologi S&P 500 tercatat melemah, sementara kelompok defensif seperti consumer staples justru menguat. 

Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000, yang sepanjang tahun ini mengungguli S&P 500, juga mencatatkan kenaikan. 

Di pasar saham individual, Broadcom, Palo Alto Networks, dan Fortinet melemah setelah Reuters melaporkan otoritas China memerintahkan perusahaan domestik menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan Amerika Serikat dan Israel.

Di sisi lain, saham sektor energi sempat menguat seiring kenaikan harga minyak pada awal perdagangan, dipicu kekhawatiran potensi gangguan pasokan Iran akibat kemungkinan serangan AS. 

Namun, harga minyak kemudian berbalik melemah setelah Trump menyatakan bahwa ia mendapat laporan eskalasi pembunuhan dalam penindakan keras terhadap protes nasional di Iran mulai mereda.

Demo Ewf

Minggu, 11 Januari 2026

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Melesat Mengikuti Wall Street, Investor Cermati Harga Minyak

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Melesat Mengikuti Wall Street, Investor Cermati Harga Minyak

Equityworld Futures | Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan saham Senin, (12/1/2026). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik ini mengikuti wall street pekan lalu setelah laporan pekerjaan AS menunjukkan lebih sedikit lapangan kerja yang tercipta pada Desember daripada yang diperkirakan meski tingkat pengangguran turun. Ini menandakan ketahanan di pasar tenaga kerja.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Mengutip CNBC, investor akan mengawasi harga minyak karena Iran memasuki minggu ketiga aksi demonstrasi yang telah menewaskan lebih dari 500 orang, berdasarkan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi intervensi di Iran, berdasarkan sejumlah laporan pada Minggu ini.

Harga minyak Brent naik 0,84% menjadi USD 63,87 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI)  menguat 0,83% menjadi USD 59,62 pada pukul 7:25 pagi waktu Singapura.

Di sisi lain, indeks ASX 200 di Australia bertambah 0,71%. Indeks Kospi di Korea Selatan menanjak 0,83%. Indeks Kosdaq menguat 0,4%.

Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong dibuka menguat dengan kontrak berjangka diperdagangkan di posisi 26.408 dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.231,79.

Bursa saham Jepang libur pada awal pekan ini. Pada Minggu, mitra koalisi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Hirofumi Yoshimura, mengatakan bahwa ia mungkin akan mengadakan pemilihan umum dini. Komentarnya muncul setelah media domestik melaporkan bahwa Takaichi sedang mempertimbangkan pemilihan umum mendadak pada Februari, mengutip sumber pemerintah.

Yen Jepang melemah tajam pada Senin, mencapai titik terendah satu tahun di posisi 158,19 terhadap dolar AS.

Kontrak berjangka saham AS mendatar pada awal jam perdagangan di Asia, menjelang serangkaian data ekonomi dan laporan keuangan.

Pada Jumat pekan lalu di wall street, indeks S&P 500 menguat 0,65% menjadi 6.966,28, rekor penutupan baru. Indeks S&P 500 juga mencatatkan rekor tertinggi intraday baru dalam sesi itu.

Indeks Nasdaq menguat 0,81% menjadi 23.671,35. Indeks Dow Jones bertambah 237,96 poin atau 0,48% ke posisi 49.504,07, dan juga mencetak rekor penutupan baru.

Demo Ewf  

Demo Equityworld