Kamis, 12 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (13/2/2026), namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Berjangka Turun 0,1% Jadi USD5.092

Meredanya kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah proyeksi kelebihan pasokan global tahun ini, menekan sentimen pasar energi.

Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude naik tipis 3 sen menjadi US$67,55 per barel pada awal perdagangan Asia, setelah sehari sebelumnya merosot 2,7%.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 1 sen ke US$62,85 per barel, usai terkoreksi 2,8% pada sesi sebelumnya.

Secara mingguan, Brent diperkirakan turun sekitar 0,8%, sedangkan WTI melemah sekitar 1,1%.

Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya sempat memicu lonjakan premi risiko geopolitik.

Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, harga minyak kini melemah di tengah sinyal bahwa Washington memberi lebih banyak waktu untuk negosiasi dengan Teheran.

“Hal ini mengurangi premi risiko geopolitik dalam jangka pendek,” ujarnya dalam catatan riset.

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dibebani proyeksi fundamental yang kurang mendukung.

Dalam laporan bulanannya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, sementara total pasokan diproyeksikan melampaui permintaan.

Tekanan semakin besar setelah data menunjukkan lonjakan signifikan stok minyak mentah AS. Penumpukan persediaan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar berada dalam kondisi surplus.

Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi peningkatan produksi dari Venezuela. Produksi minyak negara tersebut diperkirakan bisa kembali mendekati level sebelum sanksi, naik dari sekitar 880.000 barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah AS dilaporkan akan menerbitkan lebih banyak izin yang melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela.

Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyebut penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS telah menghasilkan lebih dari US$1 miliar sejak Januari dan berpotensi menambah US$5 miliar lagi dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan kombinasi meredanya risiko konflik Iran dan meningkatnya potensi suplai global, pasar minyak kini lebih fokus pada ancaman kelebihan pasokan dibandingkan risiko gangguan distribusi.

Jika proyeksi surplus terealisasi, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut dalam jangka menengah.

Profil Perusahaan

Rabu, 11 Februari 2026

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Bursa Saham Amerika Serikat atau Wall Street hari ini diproyeksi cukup stabil usai ditutup melemah tipis pada perdagangan di Rabu (11/2). Laporan ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi, namun sekaligus memicu spekulasi bahwa laju pemangkasan suku bunga akan melambat dari Federal Reserve (The Fed).

Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi

Dikutip dari Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,13% ke 50.121,40. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,01% ke 6.941,47, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,16% ke 23.066,47.

Ketiga indeks utama  sempat dibuka menguat. S&P 500 dan Nasdaq bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sentimen positif muncul setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan lalu jauh melampaui ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%.

Namun, penguatan tersebut memudar seiring pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi penurunan suku bunga. Mayoritas trader masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar dua puluh lima basis poin pada Juni. Namun peluang suku bunga bertahan pada bulan tersebut meningkat menjadi sekitar 41%.

Strategis Pasar Global New York Life Investments, Julia Hermann menilai investor mencerna perubahan ekspektasi suku bunga dengan cukup baik karena data tenaga kerja yang kuat dipandang sebagai sinyal positif bagi perekonomian.

“Kabar ini konstruktif karena menunjukkan ekonomi tidak berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan pemangkasan suku bunga agresif,” ujar Hermann.

“Pasar melihat titik keseimbangan, di mana perekrutan cukup kuat untuk menunjukkan ekonomi tangguh, tetapi tidak terlalu panas hingga menggagalkan harapan pelonggaran kebijakan moneter ke depan," tambahnya.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI). Ia dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar dan kebijakan suku bunga bank sentral dalam waktu dekat.

Bagi investor global, pergerakan ini menegaskan pentingnya data ekonomi sebagai penggerak utama sentimen pasar keuangan dunia.

Profil Perusahaan

Selasa, 10 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Tertekan Risk-On, Tapi Dolar Lemah Jadi “Rem”

Equityworld Futures | Emas Tertekan Risk-On, Tapi Dolar Lemah Jadi “Rem”

Equityworld Futures | Emas (XAU/USD) memangkas penurunan intraday dan bergerak dengan rugi tipis menjelang sesi Eropa, bertahan di kisaran bawah $5.050 dan berusaha mempertahankan area psikologis $5.000. Tekanan datang dari sentimen risk-on setelah hasil pemilu dadakan Jepang meredakan ketidakpastian politik, ditambah tanda-tanda tensi Timur Tengah yang menurun seiring jalur diplomasi AS–Iran tetap dijaga. Kondisi ini membuat minat ke aset safe-haven berkurang sehingga emas sulit melanjutkan reli dua hari terakhir.

Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-tiba Naik 2%, Ternyata Gara-gara Dolar

Namun, pelemahan emas tertahan karena dolar AS melemah dipicu ekspektasi pasar bahwa The Fed akan melakukan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga 25 bps pada 2026, yang menguntungkan aset non-yielding seperti emas. Sentimen dolar juga ditekan isu independensi The Fed, setelah Trump menyatakan bisa menggugat kandidat ketua The Fed pilihannya, Kevin Warsh, bila tidak memangkas suku bunga, serta muncul wacana investigasi bila penurunan suku bunga tidak dilakukan. Di sisi lain, pasar cenderung menahan posisi besar menunggu data penting AS pekan ini—Retail Sales (Selasa), NFP (Rabu), dan CPI (Jumat)—yang berpotensi menjadi penentu arah dolar dan emas.

Dari faktor fundamental tambahan, dukungan juga datang dari permintaan resmi: PBOC dilaporkan melanjutkan pembelian emas bulan ke-15 beruntun pada Januari. Selain itu, ada laporan bahwa regulator China mendorong institusi finansial untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan US Treasury, yang dapat menjaga daya tarik emas sebagai diversifikasi di tengah volatilitas pasar obligasi.(asd)

Ilustrasi Transaksi

Minggu, 08 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup perkasa pada perdagangan Jumat (6/2) dengan Dow Jones Industrial Average (.DJI) yang menembus level psikologis bersejarah 50.000.

Equityworld Futures | Bikin Deg-Degan, Ini Ramalan Terbaru Harga Emas Usai Drama Menegangkan

Pendorongnya adalah lonjakan saham Nvidia (NVDA.O) dan produsen chip lainnya, sementara saham Amazon (AMZN.O) jatuh setelah memperkirakan peningkatan pengeluaran yang tajam untuk infrastruktur Al.

Mengutip Reuters, Nasdaq (.IXIC) naik 2,18 persen menjadi 23.031,21 poin, sementara Dow naik 2,47 persen menjadi 50.115,67 poin, penutupan tertinggi sepanjang masa

Saham Amazon turun 5,6 persen setelah menyatakan rencana peningkatan Capital Expenditure lebih dari 50 persen tahun ini, yang semakin memperketat persaingan untuk mendominasi teknologi Al dan menyusul pengumuman serupa dari Alphabet (GOOGL.O), pada Rabu (11/2).

Namun demikian, saham-saham perusahaan chip melonjak seiring ekspektasi sektor tersebut akan diuntungkan dari peningkatan belanja pusat data AI oleh Amazon dan Alphabet.

Nvidia (NVDA.O), perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia, melesat 7,8 persen. Advanced Micro Devices (AMD.O) naik 8,3 persen dan Broadcom (AVGO.O) menguat 7,1 persen, sementara indeks semikonduktor PHLX (SOX) ditutup naik 5,7 persen.

Reli pada hari Jumat di S&P 500 dan Nasdaq terjadi setelah tiga sesi berturut-turut mengalami penurunan yang dipicu kekhawatiran terkait AI. 

Sejumlah saham perangkat lunak tertekan sepanjang pekan ini akibat kekhawatiran bahwa AI dapat meningkatkan persaingan dan menekan margin, sementara investor juga mencermati valuasi yang sudah tinggi setelah lonjakan tajam saham-saham terkait AI dalam beberapa tahun terakhir.

"Perdagangan ini bergejolak, dan terkadang terjadi aksi jual besar-besaran, tetapi saya pikir ada cukup bukti bahwa ada permintaan nyata untuk produk Al, potensi nyata dengan apa yang dapat mereka lakukan, dan kebutuhan akan banyak pengeluaran untuk mencapainya," kata Analis Strategi Investasi di Baird di Louisville, Kentucky, Ross Mayfield dikutip dari Reuters, Senin (9/2).

"Jadi, ketika terjadi aksi jual besar-besaran seperti ini, saya pikir akan ada titik terendah di mana sejumlah investor tertentu akan masuk dan mulai membeli saharn-saham tersebut,” imbuhnya.

Indeks 5&P 500 Software & Services (SPLRCIS) menguat 2,4 persen dan mengakhiri tujuh sesi penurunan beruntun, meskipun secara mingguan masih turun sekitar 8 persen, yang menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2020.

Dow Jones mencatat kinerja lebih baik dibandingkan S&P 500 dan Nasdaq sepanjang pekan ini, mencerminkan langkah diversifikasi investor yang belakangan menjauh dari saham teknologi yang sebelumnya mendominasi Wall Street, dan beralih ke perusahaan yang belum menikmati kenaikan besar.

Sejalan dengan tren tersebut, indeks Russell 2000 (BUI) yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga menguat sepanjang pekan.

Sebanyak sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 ditutup menguat, dipimpin oleh sektor teknologi informasi (SPLRCI) yang naik 4,1 persen, disusul sektor industri (SPLRCI) yang naik 2,84 persen. Indeks sektor energi S&P 500 (SPNY) mencetak rekor tertinggi baru, seiring dengan penguatan pada sektor industri dan kebutuhan pokok konsumen.

Secara mingguan, Dow Jones naik 2,5 persen, S&P 500 turun 0,1 persen, sementara Nasdaq melemah 1,9 persen.

Ilustrasi Transaksi

Rabu, 04 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Harga emas naik untuk hari ketiga berturut-turut dan kembali menembus $5.000 per ons, seiring aksi “buy the dip” berlanjut setelah pasar sempat jatuh tajam dari rekor tertingginya. Pada perdagangan pagi di Asia, emas spot sempat menguat hingga 1,2%.

Equityworld Futures | Pesta Pora Lagi! Harga Emas Tahu-Tahu Sudah Tembus US$5.000

Pemulihan ini terjadi setelah kejatuhan besar pekan lalu yang mengguncang pasar logam mulia. Meski sudah memantul dua sesi terakhir, pada penutupan Rabu emas masih sekitar 11% di bawah rekor tertinggi 29 Januari, namun tetap naik sekitar 15% sepanjang tahun ini—tanda volatilitas tinggi masih jadi tema utama.

Perak juga ikut menguat dan kembali melintasi $90 per ons. Sebelumnya, perak sempat mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah pada Jumat, sementara emas mengalami penurunan terdalam sejak 2013—membuat banyak pelaku pasar buru-buru menata ulang posisi dan manajemen risiko.

Meski begitu, banyak investor menilai fondasi yang mendorong reli bulan lalu belum benar-benar hilang: kombinasi minat spekulatif, ketegangan geopolitik, serta isu independensi bank sentral. Bahkan beberapa manajer dana yang sempat mengurangi posisi sebelum kejatuhan, kini disebut mulai “mengintai” peluang untuk masuk lagi ketika harga lebih stabil.

Sejumlah bank besar juga masih optimistis terhadap kelanjutan tren emas. Ada yang tetap mempertahankan proyeksi $6.000/ons, sementara yang lain melihat potensi “upside risk” terhadap target akhir tahun di kisaran $5.400—namun menekankan jalannya bisa berliku karena pasar sedang sensitif terhadap dolar dan suku bunga.

Fokus pasar sekarang ikut bergeser ke arah kebijakan suku bunga AS, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah biasanya jadi angin segar untuk emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil bunga. Pada 07:50 waktu Singapura, emas spot tercatat naik 1,2% ke $5.022,61/ons, sementara perak naik 2,3% ke $90,20.(asd)

Ilustrasi Transaksi

Senin, 02 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas naik lagi dan memangkas sebagian kerugian, setelah reli besar yang sebelumnya pecah secara tiba-tiba dan membuat harga jatuh tajam dalam waktu singkat. Perak ikut menguat, menandakan pasar mulai “tenang” setelah beberapa sesi terakhir penuh guncangan.

Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok Parah Lagi, Kebijakan CME Picu Gelombang Jual

Pada perdagangan terbaru, spot emas sempat naik hingga sekitar 2,9% mendekati $4.800/ons, sementara perak melonjak hingga sekitar 5% dan sempat menembus $83. Rebound ini terjadi setelah emas sempat turun hampir 5% pada sesi sebelumnya dan mencatat penurunan tajam dalam dua hari terakhir.

Sebelumnya, logam mulia sempat terbang ke rekor bulan lalu karena investor memburu aset aman: kekhawatiran geopolitik, isu “pelemahan nilai mata uang”, dan kekhawatiran soal independensi bank sentral ikut jadi bensin reli. Namun, reli yang terlalu cepat juga membuat posisi pasar “kepenuhan” (ramai), jadi saat dolar AS menguat—aksi ambil untung dan likuidasi posisi semakin memperparah koreksi.

Salah satu kunci arah berikutnya adalah: apakah investor Tiongkok memilih “buy the dip”. Laporan menyebutkan ramainya pembeli mengunjungi bursa emas terbesar di Shenzhen untuk membeli perhiasan dan batangan menjelang libur Tahun Baru Imlek. Pasar domestik China juga akan libur lebih dari seminggu mulai 16 Februari.

Dari sisi proyeksi bank, sebagian masih optimistis. Deutsche Bank AG misalnya tetap mempertahankan pandangan bahwa emas berpotensi menuju $6.000/ons pada tahun 2026. JP Morgan juga memproyeksikan emas bisa naik ke $6.300/ons pada akhir 2026, dengan alasan dukungan permintaan investor dan bank sentral masih kuat meskipun volatilitas meningkat.

Sementara itu, dolar AS sedikit melemah setelah sempat menguat, yang biasanya memberi nafas bagi komoditas berdenominasi USD. Di Asia, harga emas dilaporkan berada di sekitar $4.778/ons pada pagi hari Singapura, sedangkan perak sekitar $82–83—dengan platinum dan paladium juga ikut naik.

Intinya, pergerakan kali ini lebih mirip “bersih-bersih posisi” daripada perubahan total cerita fundamental. Arah selanjutnya kemungkinan ditentukan oleh tiga hal: kekuatan dolar, keputusan pelaku pasar (terutama Tiongkok) untuk membeli saat turun, dan apakah volatilitas mereda menjelang libur Imlek.

5 poin inti :

- Emas rebound hingga mendekati $4.800/ons, perak sempat menembus $83.

- Sebelumnya harga turun tajam karena reli “overcrowded” berputar + likuidasi posisi.

- Permintaan China (buy the dip) jadi penentu arah berikutnya; pasar China libur mulai 16 Feb.

- Bank besar masih bullish: Deutsche Bank $6.000, JP Morgan $6.300 (akhir 2026).

- Dolar yang melemah sedikit membantu pemulihan logam mulia, namun volatilitas masih tinggi.(asd)


Ilustrasi Transaksi

Kamis, 22 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Equityworld Futures | Lepas Kendali! Harga Emas Melonjak Ugal-Ugalan Tembus US$4.900

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.


Ilustrasi Transaksi