Jumat, 13 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Menguat Terbatas, Inflasi Energi Masih Menahan Reli

Equityworld Futures | Emas Menguat Terbatas, Inflasi Energi Masih Menahan Reli

Equityworld Futures | Harga emas menguat pada perdagangan Asia Jumat(13/3), tetapi masih mengarah ke penurunan mingguan kedua berturut-turut seiring pasar menilai risiko inflasi yang dipicu energi tetap tinggi akibat perang AS-Israel di Iran. Penguatan harian terjadi saat dolar dan minyak menghentikan kenaikannya, setelah AS mengumumkan tambahan pengecualian untuk minyak mentah Rusia guna meredam guncangan pasokan dari Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Melorot Tajam, Harga Perak Ikut Amblas

Emas spot naik 0,6% ke US$5.109,46/oz, sementara emas berjangka turun 0,3% ke US$5.111,84/oz. Secara mingguan, emas spot diperkirakan turun sekitar 1,2%, tetap bergerak dalam rentang US$5.000–US$5.200/oz sejak perang dimulai, dan masih kesulitan pulih setelah turun dari rekor mendekati US$5.600/oz pada akhir Januari.

Dukungan safe-haven dari geopolitik sebagian tertahan oleh perubahan ekspektasi suku bunga, karena pasar khawatir minyak tinggi bisa menjaga inflasi global lebih “lengket” dan mendorong bank sentral bersikap lebih ketat lebih lama. Ini membuat pasar semakin mengurangi harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat, dengan The Fed secara luas diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Fokus berikutnya adalah rilis inflasi PCE AS untuk petunjuk arah kebijakan, meski data Januari dinilai belum menangkap dampak perang pada energi. Di logam lain, perak spot naik 0,7% ke US$84,3275/oz dan platinum spot naik 0,5% ke US$2.143,21/oz.

Yang dipantau pasar: arah minyak pasca kebijakan pasokan (termasuk pengecualian minyak Rusia), pergerakan dolar dan yield, serta bagaimana PCE membentuk pricing suku bunga menuju rapat The Fed.


Profil Perusahaan

Kamis, 12 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Turun Dua Hari, Inflasi AS Redam di Tengah Lonjakan Minyak

Equityworld Futures | Emas Turun Dua Hari, Inflasi AS Redam di Tengah Lonjakan Minyak

Equityworld Futures | Harga emas melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah data inflasi AS meredupkan prospek penurunan suku bunga, sementara perang di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan kembali mengangkat kekhawatiran inflasi ke depan. Emas sempat turun hingga 1% setelah melemah 0,3% pada sesi sebelumnya, seiring indeks dolar menguat hingga 0,3% dan pasar memangkas ruang pelonggaran kebijakan The Fed dalam jangka pendek.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Turun ke USD 5.170 per Ons

Tekanan pada emas juga datang dari dinamika likuiditas. Ketika volatilitas meningkat, emas kerap menjadi sumber dana untuk menutup kebutuhan portofolio, meski fungsi safe-haven belum hilang. Di pasar energi, Brent kembali melampaui US$100 per barel pada Kamis, dengan kekhawatiran konflik berkepanjangan dinilai lebih dominan ketimbang rencana pelepasan cadangan darurat terbesar oleh negara-negara maju; AS disebut akan melepas 172 juta barel dari cadangan daruratnya. Arus ETF emas dilaporkan menurun sejak perang pecah, meski ada arus masuk lagi pada Selasa setelah aksi jual mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Pada pukul 12:10 siang di Singapura, emas spot turun 0,5% menjadi US$5.151,82 per ons. Perak turun 1% menjadi US$84,89, platinum melemah, sementara paladium naik, dan Indeks Spot Dolar Bloomberg naik 0,2%.

Profil Perusahaan

Rabu, 11 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/3) setelah reli awal memudar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Presiden AS Donald Trump merespons laporan dengan ancaman pembalasan serta kembali menyerukan agar Iran menyerah sepenuhnya.

Mengutip Reuters pada Rabu (11/3), indeks S&P 500 turun 14,44 poin atau 0,21 persen menjadi 6.781,55. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 36,66 poin atau 0,08 persen menjadi 47.704,14. Sementara Nasdaq Composite naik tipis 2,24 poin atau 0,01 persen ke level 22.698,19.

"Pasar sebelumnya menunjukkan kekuatan dan kini telah kehilangan semuanya," kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.

Katanya, optimisme pasar yang sempat muncul dari berbagai pernyataan Gedung Putih dengan cepat memudar.

"Anda melihat berbagai headline dari Gedung Putih yang memberi harapan kepada pasar, lalu pemikiran yang lebih jernih muncul dan pasar menyadari bahwa ini masih jauh dari selesai," ujarnya.

Pasalnya, ketidakpastian semakin meningkat setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan hari Selasa (10/3) menjadi hari paling intens sejauh ini dalam operasi militer terhadap Iran.

Konflik tersebut sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran inflasi di tengah pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini menimbulkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.

Meski demikian, pasar masih berharap konflik dapat mereda dalam waktu dekat. Harapan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump memberi sinyal kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia, yang berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi.

Harga minyak mentah pun berbalik turun tajam. Kontrak berjangka minyak mentah AS dan Brent untuk pengiriman bulan terdekat ditutup merosot lebih dari 11 persen.

"Ketika Anda melihat pergerakan parabola seperti itu, baik pada emas, minyak atau apa pun, biasanya akan terjadi pembalikan yang cukup tajam begitu ada berita dari sisi sebaliknya," kata Senior wealth adviser dan market strategist di Murphy & Sylvest di Elmhurst Illinois, Paul Nolte.

Di tengah tekanan pasar, saham sektor semikonduktor justru menguat dengan kenaikan pada Nvidia, SanDisk, dan Western Digital.

Indeks S&P Software & Select Services kembali menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah beberapa bulan terakhir tertekan oleh kekhawatiran disrupsi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pergerakan pasar selanjutnya juga bakal dipengaruhi sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan inflasi AS melalui Indeks Harga Konsumen (CPI), revisi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat, serta data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS.

Profil Perusahaan

Senin, 09 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran

Equityworld Futures | Bursa saham AS atau Wall Street berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/3). Penguatan ini terjadi setelah pasar berbalik arah pada akhir sesi, didorong harapan meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Lagi, Enaknya Jual atau Beli?

Mengutip Reuters pada Selasa (10/3), pada penutupan perdagangan indeks Dow Jones Industrial Average naik 239,25 poin atau 0,50 persen ke level 47.740,80, indeks S&P 500 menguat 55,97 poin atau 0,83 persen ke posisi 6.795,99, dan Nasdaq Composite melonjak 308,27 poin atau 1,38 persen menjadi 22.695,95.

Sebelumnya, pasar sempat mengalami tekanan tajam sepanjang perdagangan. Namun menjelang penutupan, indeks saham berbalik naik setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan perang antara AS-Israel melawan Iran kemungkinan segera berakhir.

Trump mengatakan konflik tersebut telah berjalan "jauh di depan" dari perkiraan awalnya yang menyebut perang bisa berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.

Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat terganggunya jalur pelayaran selama konflik Iran yang telah memasuki hari ke-10.

Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi, terutama di tengah kondisi konsumen AS yang masih menghadapi tekanan biaya hidup.

Namun harga minyak kemudian turun setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia.

Pergerakan pasar yang berayun tajam sepanjang hari mencerminkan tingginya volatilitas akibat perkembangan geopolitik yang terus berubah.

"Masih ada banyak sekali ketidakpastian mengenai durasi konflik, serta durasi penutupan Selat Hormuz," kata Chief investment strategist CFRA Research di New York, Sam Stovall.

"Sekali lagi hari ini, melihat pembalikan relatif dalam pergerakan harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap peluang untuk kembali masuk ke pasar saham," sambungnya.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga meningkat setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu (6/3) menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.

Kondisi ini, ditambah kenaikan harga energi, memunculkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

"Laporan ketenagakerjaan yang lemah tersebut, bersamaan dengan kenaikan harga energi menunjukkan potensi stagflasi," ujar Senior portfolio manager Dakota Wealth di Fairfield Connecticut, Robert Pavlik.

Profil Perusahaan

Minggu, 08 Maret 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Tembus 111 Dollar AS Per Barel

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Tembus 111 Dollar AS Per Barel

Equityworld Futures | Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Konflik yang meluas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membuat sejumlah produsen minyak utama di kawasan tersebut mulai mengurangi produksi.

Equityworld Futures | Efek Domino Penutupan Selat Hormuz: Minyak Mahal, Inflasi hingga Harga Emas Terus Naik

Dikutip dari Reuters, kekhawatiran gangguan pengiriman melalui jalur strategis Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak hingga ke level tertinggi sejak Juli 2022. 

Pada Senin (9/3/2026) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak 18,35 dollar AS atau 19,8 persen menjadi 111,04 dollar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik 16,50 dollar AS atau 18,2 persen menjadi 107,40 dollar AS per barel.

Pada awal sesi perdagangan, harga WTI bahkan sempat melonjak hingga 20,34 dollar AS atau 22,4 persen ke posisi 111,24 dollar AS per barel. Lonjakan tersebut melanjutkan reli tajam yang terjadi sepanjang pekan lalu. 

Harga Brent tercatat naik 27 persen, sedangkan WTI melesat 35,6 persen. Tekanan pada pasokan mulai terlihat setelah Irak dan Kuwait mengurangi produksi minyak. 

Kondisi ini menambah pengurangan pasokan gas alam cair sebelumnya dari Qatar karena perang menghambat pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah.

Para analis menilai langkah serupa kemungkinan akan diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kedua negara tersebut diperkirakan harus mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mulai penuh. 

Situasi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih mahal selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. 

Hal itu bisa terjadi meskipun konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan tersebut berakhir dengan cepat, karena pemasok masih harus menghadapi kerusakan fasilitas, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pengiriman. 

"Saya pikir harga telah menguat pagi ini karena laporan bahwa produsen Timur Tengah sekarang mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh," kata ahli strategi komoditas senior ANZ, Daniel Hynes.


Profil Perusahaan

Rabu, 04 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Naik Saat Perang Timur Tengah Memanas dan Dolar Melemah!

Equityworld Futures | Emas Naik Saat Perang Timur Tengah Memanas dan Dolar Melemah!

Equityworld Futures | Harga emas menguat seiring pelemahan dolar AS dan eskalasi perang di Timur Tengah yang memasuki hari keenam tanpa tanda mereda. Bullion sempat naik hingga 0,9% menembus $5.180 per ons, melanjutkan kenaikan sekitar 1% pada sesi sebelumnya. Permintaan aset aman kembali menguat ketika operasi militer AS dan Israel berlanjut, sementara Iran merespons dengan peluncuran rudal ke beberapa negara di kawasan.

Equityworld Futures | Harga Emas Bangkit, Saatnya Kumpulkan Tenaga ke Level Tertinggi

Sentimen risk-off makin kuat setelah laporan serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan jalur strategis Selat Hormuz, yang meningkatkan kekhawatiran lonjakan harga energi dan risiko rantai pasok global. Presiden Donald Trump menyatakan keyakinan atas kampanye militer AS, termasuk klaim bahwa AS menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional. Di sisi lain, Teheran membantah laporan bahwa Kementerian Intelijennya telah menghubungi Washington untuk bernegosiasi mengakhiri konflik.

Di luar faktor geopolitik, pasar juga menimbang risiko perang dagang baru saat Washington bersiap menaikkan tarif impor. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut rencana Trump menaikkan tarif universal dari 10% menjadi 15% berpeluang mulai berlaku pekan ini, dengan Uni Eropa diperkirakan mendapat pengecualian. Kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan energi, dan ancaman tarif berpotensi menjadi “guncangan ganda” bagi perdagangan global—kondisi yang biasanya mendukung emas.

Penguatan emas juga didorong pelemahan dolar yang mencatat penurunan terbesar dalam sekitar tiga pekan, membuat emas lebih “murah” bagi pembeli non-dolar. Indeks dolar turun sekitar 0,4% dalam dua hari terakhir, meski masih naik hampir 1% sepanjang pekan ini. Sebelumnya, penguatan dolar dan aksi jual luas di pasar saham sempat memicu penurunan tajam logam mulia pada Selasa, sebelum pasar kembali stabil.

Secara kinerja tahunan, emas sudah naik sekitar 20% tahun ini, ditopang ketegangan geopolitik dan perdagangan serta kekhawatiran soal independensi The Fed. Harga bahkan sempat mencetak rekor di atas $5.595 per ons pada akhir Januari. Pada perdagangan pagi di Asia, spot gold naik 0,7% ke $5.176,83 per ons (pukul 09:23 waktu Singapura), sementara perak naik 1,5% ke $84,79, dengan platinum dan palladium ikut menguat.

Profil Perusahaan

Selasa, 03 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Bergejolak di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

Equityworld Futures | Wall Street Bergejolak di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

Equityworld Futures | Indesk-indeks saham Wall Street kembali mengalami sesi perdagangan yang liar pada Selasa waktu setempat (3/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Equityworld Futures | Peringatan Keras: Harga Emas Ambruk 4% dalam Sehari, Masih Bisa Naik?

Dikutip dari CNBC internasional, meski sempat anjlok tajam, pernyataan Presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kepanikan investor menjelang penutupan pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 403,51 poin (0,83%) di level 48.501,27. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,94% ke level 6.816,63, sementara Nasdaq Composite ambles 1,02% menjadi 22.516,69.

Padahal, pada titik terendahnya, Dow Jones sempat terjun lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6%. S&P 500 sempat ambles 2,5%, sedangkan Nasdaq merosot sekitar 2,7%. Volatilitas tinggi mencerminkan kegelisahan pasar atas eskalasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pada Selasa sore, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menegaskan bahwa AS akan memastikan arus energi dunia tetap berjalan.

Pernyataan tersebut muncul setelah Komandan Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur transit minyak mentah paling vital di dunia, dan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.

Selat Hormuz memegang peran krusial karena sekitar 20% konsumsi minyak global melewati jalur tersebut. Penutupan berkepanjangan berpotensi mengguncang pasokan energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak.

Harga minyak mentah jenis Brent, patokan global, sempat melonjak lebih dari 9% sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 2%. Sehari sebelumnya, Brent sudah melonjak 6%. Minyak mentah WTI juga mencatat pola serupa, sempat naik lebih dari 9% sebelum mengakhiri sesi dengan kenaikan sekitar 2%, setelah sehari sebelumnya melesat 6%.

Lonjakan harga energi sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik, karena pasar khawatir tekanan inflasi kembali meningkat. Kekhawatiran ini muncul di tengah harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS.

Namun, seiring meredanya kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi pun memangkas penguatannya.

Profil Perusahaan