Jumat, 30 Agustus 2019

Equityworld Futures | Bara Perang Dagang AS-China Mencair, Bursa Saham Asia Menguat

Equityworld Futures | Bara Perang Dagang AS-China Mencair, Bursa Saham Asia Menguat

Equityworld Futures | Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan terakhir di pekan ini di zona hijau: indeks Nikkei melejit 1,19%, indeks Hang Seng naik 0,08%, indeks Straits Times terapresiasi 0,8%, dan indeks Kospi melonjak 1,78%.

Mencairnya bara perang dagang AS-China sukses memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning.

Kemarin (29/8/2019), Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa AS dan China sedang mendiskusikan pertemuan tatap muka yang dijadwalkan untuk bulan September.


Jadi-tidaknya negosiasi dagang tatap muka tersebut akan ditentukan oleh apakah AS bisa menciptakan kondisi yang baik untuk negosiasi dagang tatap muka tersebut, seperti dilansir dari Reuters. Kementerian Perdagangan China tak memberi informasi lebih lanjut terkait dengan kondisi yang mereka maksud tersebut.

"Hal yang terpenting pada saat ini adalah untuk menciptakan kondisi yang baik untuk kedua belah pihak melanjutkan negosiasi," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng, dilansir dari Reuters.

Gao juga menyebut bahwa China ingin untuk menyelesaikan sengketa dagang kedua negara dengan ketenangan dan bahwa pihaknya tidak menginginkan eskalasi tensi AS-China lebih lanjut, dilansir dari CNBC International.

"Kami dengan tegas menolak eskalasi perang dagang dan ingin bernegosiasi dan berkolaborasi untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan sikap yang tenang," kata Gao, sembari menambahkan bahwa delegasi China dan AS telah menjaga komunikasi yang efektif.

Pernyataan dari pihak China tersebut membuat pelaku pasar lega lantaran sebelumnya ada kekhawatiran bahwa AS dan China akan sama-sama all-in dalam menghadapi perang dagang yang sudah berlangsung selama lebih dari satu setengah tahun tersebut.

Seperti yang diketahui, tensi antara kedua negara memanas menjelang dan pada saat akhir pekan lalu. Penyebabnya, China mengumumkan bahwa pihaknya akan membebankan bea masuk bagi produk impor asal AS senilai US$ 75 miliar. Pembebanan bea masuk tersebut akan mulai berlaku efektif dalam dua waktu, yakni 1 September dan 15 Desember. Bea masuk yang dikenakan China berkisar antara 5%-10%.

Lebih lanjut, China juga mengumumkan pengenaan bea masuk senilai 25% terhadap mobil asal pabrikan AS, serta bea masuk sebesar 5% atas komponen mobil, berlaku efektif pada 15 Desember. Untuk diketahui, China sebelumnya telah berhenti membebankan bea masuk tersebut pada bulan April, sebelum kini kembali mengaktifkannya.

AS pun merespons dengan mengumumkan bahwa per tanggal 1 Oktober, pihaknya akan menaikkan bea masuk bagi US$ 250 miliar produk impor asal China, dari yang saat ini sebesar 25% menjadi 30%.

Sementara itu, bea masuk bagi produk impor asal China lainnya senilai US$ 300 miliar yang akan mulai berlaku pada 1 September (ada beberapa produk yang pengenaan bea masuknya diundur hingga 15 Desember), akan dinaikkan menjadi 15% dari rencana sebelumnya yang hanya sebesar 10%.

Equityworld Futures


Bursa saham Seoul berakhir 1,78 persen lebih tinggi | Equityworld Futures


Kala AS-China bisa meneken kesepakatan dagang, maka perekonomian keduanya bisa dihindarkan dari yang namanya hard landing.

Lebih lanjut, rilis data ekonomi di kawasan Asia yang menggembirakan juga menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham. Pada hari ini, tingkat pengangguran Jepang periode Juli 2019 diumumkan di level 2,2%, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 2,4%, seperti dilansir dari Trading Economics.

Kemudian, pembacaan awal atas data pertumbuhan produksi industri Jepang periode Juli 2019 diumumkan di level 1,3% secara bulanan. Padahal, konsensus memperkirakan pertumbuhannya hanya sebesar 0,3%, dilansir dari Trading Economics.

Beralih ke Korea Selatan, pada hari ini produksi industri Korea Selatan periode Juli 2019 diumumkan tumbuh sebesar 2,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan konsensus yang sebesar 0,5%, dilansir dari Trading Economics.

Equityworld Futures | Akan Lengser dari Jabatan Dirut Bank BRI, Suprajarto Kuasai Hampir Sejuta Saham BBRI

Equityworld Futures | Akan Lengser dari Jabatan Dirut Bank BRI, Suprajarto Kuasai Hampir Sejuta Saham BBRI

Equityworld Futures | Pengangkatan  Suprajarto sebagai Direktur Utama Bank BTN (BBTN) membuatnya harus melepaskan jabatan sebagai Direktur Utama Bank BRI (BBRI)

Meski telah menyatakan menolak hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank BTN itu, Suprajarto tampaknya tidak akan tetap menjadi orang nomor satu di Bank BRI (BBRI).

Meski begitu, untuk sementara Suprajarto tetap akan tercatat sebagai pemegang saham Bank BRI (BBRI).

Sebagai Dirut Bank BRI yang diangkat sejak Maret 2017 lalu, Suprajarto tercatat menguasai hampir sejuta saham BBRI.

Yang menarik, kepemilikan Suprajarto atas saham BBRI tersebut  merupakan pemberian porsi tantiem yang ditangguhkan dalam jangka waktu tertentu.

Pada 2018 lalu, Bank BRI menggelar program kepemilikan saham oleh direksi dan dewan komisaris dalam rangka tantiem yang ditangguhkan dalam bentuk saham BBRI.

Program tersebut hanya berlaku bagi anggota direksi dan komisaris independen yang menjabat selama periode 2017.

Program tersebut dieksekusi pada 26 September 2018. Saat itu, Suprajarto mendapat 466.100 saham BBRI.


Equityworld Futures


Wall Street melaju ditopang pernyataan China tentang kelanjutan negosiasi perdagangan | Equityworld Futures


Jika dihitung dengan harga penutupan saat itu sebesar Rp 2.990 per saham, kepemilikan Suprajarto atas 466.100 saham BBRI itu senilai Rp 1,39 miliar.

sementara jika dihitung dengan harga saham BBRI berdasarkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 4.200 per saham, nilainya bertambah menjadi Rp 1,96 miliar.

Artinya, nilai saham BBRI milik Suprajarto meningkat sebesar 41%.

Nah, Juni lalu, kepemilikan Suprajarto atas saham BBRI kembali bertambah.

Rabu, 28 Agustus 2019

Equityworld Futures | Saham Asia Jatuh karena Perang Dagang AS-Tiongkok Meningkat

Equityworld Futures | Saham Asia Jatuh karena Perang Dagang AS-Tiongkok Meningkat

Equityworld Futures | Saham-saham di Asia jatuh Senin pagi setelah eskalasi perang dagang AS-Tiongkok akhir pekan lalu.

Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,36% pada awal perdagangan, sementara indeks Topix turun 2,18%. Kerugian juga terlihat di Korea Selatan, di mana indeks Kospi turun 1,8%. S&P / ASX 200 Australia turun 1,18%.

AS-Tiongkok memanas

Presiden AS Donald Trump melontarkan cuitan Jumat lalu bahwa Amerika akan menaikkan tarif barang-barang Tiongkok senilai US$ 250 miliar menjadi 30% dari 25%.

Tarif untuk US$ 300 miliar lagi dalam produk-produk Tiongkok juga akan naik menjadi 15% dari 10%, kata Trump. Pungutan atas barang senilai US$ 250 miliar dijadwalkan akan dimulai pada 1 Oktober, sementara bea atas US$ 300 miliar ditetapkan untuk mulai berlaku dalam dua tahap pada 1 September dan 15 Desember.

Pada KTT G-7 selama akhir pekan di Prancis, Trump mengatakan ia menyesal tidak menaikkan tarif lebih tinggi lagi, menambahkan bahwa ia dapat menyatakan perang dagang AS-Tiongkok sebagai keadaan darurat nasional.

Beijing meluncurkan tarif baru Jumat lalu pada US$ 75 miliar barang AS. Itu sebagai tanggapan atas pengumuman kejutan Trump awal bulan ini bahwa AS akan mengenakan bea atas barang-barang Tiongkok senilai US$ 300 miliar - beberapa item sejak itu telah ditunda hingga Desember atau dihapus dari daftar.


Equityworld Futures


Bursa Saham Asia Jatuh di Tengah Kerusuhan Hong Kong | Equityworld Futures



Mata uang dan minyak

Indeks dolar AS, ukuran greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 97,628 setelah melihat level di atas 98,0 untuk sebagian besar pekan lalu.

Yen Jepang, sering dipandang sebagai mata uang safe-haven selama masa gejolak pasar, diperdagangkan pada 104,90 terhadap dolar setelah menyentuh level di atas 106,2 minggu lalu. 

Harga minyak turun di pagi hari jam perdagangan Asia, dengan patokan internasional berjangka minyak mentah Brent tergelincir 1,5% menjadi US$ 58,45 per barel dan minyak mentah AS turun 1,9% menjadi US$ 53,14 per barel.

Selasa, 27 Agustus 2019

Equityworld Futures | Emas Jadi Buruan Bank Sentral Dunia karena Tingginya Ketidakpastian Mata Uang Emerging Market

Equityworld Futures | Emas Jadi Buruan Bank Sentral Dunia karena Tingginya Ketidakpastian Mata Uang Emerging Market

Equityworld Futures | Aksi beli besar-besaran emas oleh bank sentral dunia sepertinya akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Setidaknya, hal ini diyakini oleh Australia & New Zealand Banking Group Ltd (ANZ). ANZ bahkan melihat, sejumlah negara berpotensi untuk membeli emas, termasuk di dalamnya China.

"Dalam situasi seperti saat ini, di mana tingkat ketidakpastian pada mata uang emerging market sangat tinggi, kami melihat adanya alasan yang bagus untuk sejumlah negara seperti Rusia, Turki, Kazakhstan dan China untuk terus melakukan diversifikasi portofolio mereka," jelas ANZ seperti yang dikutip dari Bloomberg. Pembelian bersih di sektor ini diprediksi akan tetap berada di atas 650 ton.

Akumulasi pembelian emas oleh bank sentral terus muncul dan menjadi tren tersendiri pada market global.

Faktor ini memberikan dorongan terhadap harga emas yang sudah reli ke level tertingginya sejak 2013 akibat melonjaknya permintaan.

Bank sentral sejumlah negara terus menambah cadangan emas mereka seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Selain itu, sejumlah negara juga terus melakukan diversifikasi portofolionya dengan menjauh dari investasi dollar AS. Menurut ANZ, pembelian emas oleh bank sentral menyumbang sekitar 10% dari konsumsi emas dunia.


Equityworld Futures



Wall Street Babak Belur, Kekhawatiran Resesi Semakin Menjadi | Equityworld Futures


"People's Bank of China memegang hampir 1.936 ton emas, yang setara dengan 3% dari kepemilikan cadangan mata uang asing mereka, sehingga China memiliki ruang untuk meningkatkan alokasinya," papar ANZ.

Data yang dirilis World Gold Council menunjukkan, dalam enam bulan pertama tahun ini, bank sentral China sudah menambah sekitar 374,1 ton emas, dan ikut menyumbang kenaikan permintaan emas ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut.

Pada transaksi Selasa (27/8) pagi, harga emas di pasar spot diperdagangkan di posisi US$ 1.529,15 per troy ounce setelah sebelumnya menyentuh level US$ 1.555,07 per troy ounce pada Senin. Ini merupakan level dalam enam tahun terakhir.

Mengutip data Bloomberg, sepanjang tahun ini, harga emas sudah melonjak 19% seiring memanasnya perang dagang.

Apalagi, pasar obligasi juga menunjukkan sinyal bahwa ekonomi AS akan jatuh ke jurang resesi dan The Fed bakal terus memangkas suku bunga acuannya.

Equityworld Futures | Harga Emas Lagi Tinggi Banget, Saatnya Beli atau Jual?

Equityworld Futures | Harga Emas Lagi Tinggi Banget, Saatnya Beli atau Jual?

Equityworld Futures | Komoditas emas sedang menjadi sorotan sebagai salah satu jenis portofolio dalam investasi. Terlebih lagi harganya yang sudah memecahkan rekor hari ini.

Tak heran, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menyebut emas sebagai safe haven. Maksudnya, emas menjadi instrumen investasi yang aman dalam situasi dunia yang sedang bergejolak seperti sekarang ini.

Prospek emas yang makin berkilau juga dibenarkan oleh peneliti ekonomi Indef Bhima Yudhistira. Bhima menjelaskan sejak awal tahun, harga emas tren harganya meningkat, dia pun menyebutkan bahwa saat ini sangat tepat untuk investasi emas.

"Harga emas internasional tercatat naik hingga 20.15% sejak awal tahun 2019, menjadi US$ 1,541 per ons. Justru ini saat yang tepat untuk mengoleksi emas sebagai investasi jangka menengah," ungkap Bhima kepada detikFinance, Senin (26/8/2019).

Bhima menjelaskan, tren emas yang makin mengkilap ini disebabkan melemahnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS di dalam pusaran ekonomi dunia. Padahal, dolar pernah menjadi safe haven, namun kini kepercayaan tersebut hancur.

Terlebih lagi sentimen negatif mulai dari perang dagang hingga isu resesi di AS memperkeruh keadaan dolar.

"Dulu kan safe haven salah satunya dolar AS. Tapi ada upaya dari bank sentral di negara maju untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar AS. Apalagi di saat AS di bawah Trump, membuat kebijakan yang blunder bagi ekonomi. Trust terhadap dolar anjlok," papar Bhima.

Buktinya, kata Bhima, angka index dolar hanya naik 1,59% ke poin 97,6 sejak awal tahun, padahal biasanya lebih dari angka tersebut.

"Buktinya secara year to date atau awal tahun dolar index hanya naik 1.59% menjadi 97,6. dolar index merupakan perbandingan antara dolar AS dengan 6 mata uang lainnya," jelas Bhima.


Equityworld Futures



Ketegangan Perdagangan Mereda, Wall Street Ditutup Naik  | Equityworld Futures


Sri Mulyani, sebelumnya mengakui bahwa komoditas emas jadi safe haven. Tanda-tandanya adalah terjadi kenaikan harga emas yang tinggi.

"Safe haven di komoditas emas, kenaikan harga terjadi semenjak tahun ini," ujar mantan direktur Bank Dunia itu saat jumpa pers APBN Kita di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/8/2019).

Logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sendiri, hari ini dijual Rp 774.000/gram. Harga itu naik Rp 9.000 dari posisi di hari Sabtu (24/8) kemarin yang berada di Rp 765.000/gram.

Harga tersebut tercatat yang paling tinggi dalam enam bulan terakhir. Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas Antam hari ini naik Rp 8.000 ke level Rp 700.000/gram.

Kamis, 22 Agustus 2019

Equity World | Wall Street Melaju Positif, Didukung Hasil Kuartalan Emiten Ritel

Equity World | Wall Street Melaju Positif, Didukung Hasil Kuartalan Emiten Ritel

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melaju ke zona hijau didukung hasil kuartalan emiten-emiten sektor ritel sehingga memberi sentimen positif ke pelaku pasar.

Mengutip CNBC, Rabu (21/8/2019), indeks Dow Jones Industrial Average diperdagangkan naik 264 poin atau 1 persen. Indeks S&P 500 naik 0,9 persen, sedangkan indeks Nasdaq Composite melonjak 1,1 persen.

Saham Target melonjak lebih dari 16 persen setelah perusahaan ritel ini membukukan hasil kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis. Sementara itu, saham Lowe juga naik 10 persen karena laporan pendapatan kuartal keduanya yang positif.

Hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan datang saat para pelaku pasar khawatir tentang kemungkinan perlambatan ekonomi AS. Ketakutan itu membuat investor menjauh dari aset berisiko seperti ekuitas demi aset tradisional yang lebih aman seperti emas.

Emas, sementara itu, telah melonjak lebih dari 5 persen bulan ini sementara imbal hasil obligasi AS bertenor 10-tahun turun sekitar 40 basis poin, atau 0,4 poin persentase.


Equity World


Wall Street menghijau disokong data kepercayaan konsumen yang menguat | Equity World


Investor pada Rabu menanti rilis risalah dari pertemuan Federal Reserve pada bulan Juli karena mencari petunjuk tentang kebijakan moneter. The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juli.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump telah membuat komentar baru tentang hubungan perdagangan dengan Uni Eropa. "Berurusan dengan Uni Eropa sangat sulit," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.,

Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin UE lainnya minggu ini pada pertemuan G-7 di Prancis.

Rabu, 21 Agustus 2019

Equity World | Pergerakan Harga Emas Comex Hari Ini, 21 Agustus 2019

Equity World | Pergerakan Harga Emas Comex Hari Ini, 21 Agustus 2019

Equity World | Hampir seluruh bursa saham Asia melemah pada Rabu (21/8/2019) pagi. Hanya bursa Korea yang masih naik tipis.

Pada pukul 8,34 WIB, indeks Kospi naik tipis 0,05% ke 1.961.

Indeks Nikkei melemah 0,62% ke 20.548. Hang Seng turun 0,48% ke 26.110. Sedangkan Taiex turun 0,19% ke 10.114.

Selain perang dagang, gejolak politik di Hong Kong, Inggris dan Italia juga meningkatkan ketidakpastian bagi para investor.

Prospek pemilihan baru di Italia setelah pengunduran diri Perdana Menteri Giuseppe Conte menjadi kekhawatiran tambahan bagi pasar saham.

Pasar sekarang menunggu apakah kebijakan yang lebih akomodatif dari Jerman ke China sudah cukup untuk meredakan kekhawatiran ekonomi global dan mengakhiri ketakutan akan resesi.
Equity World

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 21 Agustus 2019 | Equity World


Fokus pasar mulai pertengahan pasar ini akan tertuju pada risalah pertemuan The Fed bulan lalu yang akan rilis hari ini.

Para trader juga menunggu simposium Jackson Holeakhir pekan ini dan KTT G7 di akhir pekan.

Pada dua pertemuan ini, pasar menunggu sinyal adanya langkah-langkah tambahan apa yang akan diambil para pembuat kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.