Senin, 20 September 2021

Equity World | Wall Street tumbang akibat aksi jual yang merata pada hari Senin (20/9)

Equity World |  Wall Street tumbang akibat aksi jual yang merata pada hari Senin (20/9). S&P 500 dan Nasdaq mencatat persentase penurunan harian terbesar sejak Mei. 

Aksi jual dipicu ketakutan akan penularan potensi keruntuhan Evergrande China. Alhasil, para investor keluar dari pasar saham dan mencari aset aman.

Wall Street Anjlok, Ini Penyebabnya | Equity World

Senin (20/9), Dow Jones Industrial Average turun 614,41 poin atau 1,78% menjadi 33.970,47. Indeks S&P 500 tumbang 75,26 poin atau 1,70% menjadi 4.357,73. Nasdaq Composite turun 330,07 poin atau 2,19% menjadi 14.713,90.

Dow mencatat persentase penurunan harian terbesar sejak Juli. Sementara indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, naik. S&P 500 pun sudah turun sekitar 4% dari rekor penutupan tertinggi 2 September lalu.

Nasdaq juga mencapai level terendah dalam waktu sekitar satu bulan. Tapi, indeks yang berisi saham-saham teknologi ini mempersempit penurunan tepat sebelum penutupan untuk mengakhiri posisi terendah sesi tersebut. Nasdaq turun lebih dari 3% pada siang hari. Microsoft Corp, Alphabet Inc, Amazon.com Inc, Apple Inc, Facebook Inc, dan Tesla Inc termasuk di antara hambatan terbesar di Nasdaq dan S&P 500.

"Ketika ada sesuatu yang membuat pasar lengah, itu akan mengarah pada aksi jual yang lebih besar dan Anda tidak tahu apa alasannya," kata Sameer Samana, ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa aksi jual ini tidak mengejutkan, mengingat kondisi bullish sebelumnya.

Sementara harga US Treasury naik karena kekhawatiran tentang kemungkinan default Evergrande tampaknya mempengaruhi pasar yang lebih luas. Investor juga gugup menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang berlangsung 21-22 September mulai hari ini. 

Hasil rapat The Fed akan diumumkan pada Rabu (22/9). Bank sentral diperkirakan akan meletakkan dasar untuk tapering meskipun konsensus untuk pengumuman sebenarnya ditunda hingga pertemuan November atau Desember.

Ahli strategi di Morgan Stanley memperkirakan S&P 500 akan koreksi 10% karena The Fed mulai mengendurkan stimulus moneternya. Morgan Stanley menambahkan bahwa tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang terhenti dapat memperdalam penurunan S&P 500 menjadi 20%.

Sebagian besar saham maskapai penerbangan naik setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan melonggarkan pembatasan perjalanan pada November. Pelonggaran ini berlaku untuk penumpang dari China, India, Inggris, dan banyak negara Eropa lainnya yang telah menerima vaksin Covid-19.

Minggu, 19 September 2021

Equity World | Bursa Asia melemah pada perdagangan Senin (20/9) pagi

Equity World | Bursa Asia melemah pada perdagangan Senin (20/9) pagi. Investor menanti pertemuan The Fed pekan ini untuk mencari petunjuk tentang kemungkinan pengurangan stimulus.

Pukul 08.15 WIB, indeks ASX 200 turun 92,72 poin atau 1,26% ke 7.310,70, Straits Times turun 0,02 poin atau 0,02% ke 3.0071,77 dan FTSE Malaysia turun 1,23 poin atau 0,08% ke 1.547,28.

IHSG Diprediksi Turun, Simak Rekomendasi Sahamnya | Equity World

Senin pagi, indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2% lagi, setelah turun 2,5% minggu lalu.

Indeks Nikkei Jepang tutup, dan bisa dilakukan dengan konsolidasi setelah melonjak ke tertinggi 30 tahun di tengah harapan Perdana Menteri baru akan membawa lebih banyak stimulus dan perubahan kebijakan.

The Fed masih diperkirakan akan meletakkan dasar untuk pengurangan pada pertemuan kebijakan pada hari Selasa dan Rabu, meskipun konsensus adalah untuk pengumuman aktual akan ditunda hingga pertemuan November atau Desember.

Imbal hasil Treasuries AS bertenor 10 tahun menyentuh puncak dua bulan dan kurva mendatar menjelang pertemuan.

"Kurva imbal hasil yang lebih datar menunjukkan beberapa kekhawatiran The Fed mungkin berlebihan pada siklus kenaikan," kata Tapas Strickland, direktur ekonomi di NAB memperingatkan seperti dikutip Reuters.

Dia mencatat hanya 2-3 anggota FOMC yang perlu mengubah perkiraan "dot plot" mereka untuk kenaikan pada tahun 2022 untuk menjadikannya median, mengingat tujuh dari 18 telah memperkirakan langkah tahun depan.

"The Fed juga akan memiliki titik-titik untuk 2024 yang akan memberikan indikasi kecuraman siklus kenaikan potensial."

Konsensus pasar adalah untuk dua kenaikan pada tahun 2023 dan empat pada tahun 2024 dengan suku bunga fed fund jangka panjang terlihat di 2,125%.

Kamis, 16 September 2021

PT Equityworld | Rekomendasi Emas 17 September 2021: Mengapa Turun Tajam?

PT Equityworld | Harga emas turun solid pada awal perdagangan sesi New York hari Kamis. Harga emas menyentuh kerendahan lebih dari empat minggu. Postur grafik harga emas jangka pendek telah hancur pada minggu ini, yang mengundang para trader futures jangka pendek untuk bermain di sisi jual dari pasar.

Emas berjangka kontrak bulan Oktober turun $39.40 ke $1,754.70 sementara perak Comex bulan Desember turun $0.446 ke $23.355 per ons.

Harga emas anjlok 38,1 dolar, terpukul menguatnya penjualan ritel AS | PT Equityworld

Pasar saham global kebanyakan melemah dalam perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah sedikit turun pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai. Saham – saham global mendapatkan tekanan harga pada hari Kamis disebabkan oleh karena kekuatiran akan perlambatan ekonomi di Cina.

Laporan yang datang dari Cina mengatakan bahwa developer properti raksasa Cina Evergrande Group mempunyai problem hutang yang serius yang bisa jadi merupakan puncak dari gunung es untuk sektor perumahan Cina yang memainkan peranan yang besar di dalam pertumbuhan ekonomi Cina.

Tekanan terhadap harga emas juga datang dari survey outlook bisnis manufaktur oleh Federal Reserve Philadelphia yang mengatakan bahwa indeksnya naik ke 30.7 pada bulan September, sementara ekspektasinya turun ke 18.8.

Selain itu angka penjualan ritel AS juga menambah tekanan turun terhadap harga emas. Penjualan ritel AS naik 0.7% pada bulan lalu, naik tajam dari revisi angka bulan Juli penurunan sebanyak penurunan sebanyak 1.8%. Angka ini juga jauh di atas dari angka yang diperkirakan sebesar penurun – 0.7%. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi AS belum kehilangan momentumnya.

“Support” terdekat menunggu di $1,750 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,700 dan kemudian $1,650. “Resistance” terdekat menunggu di $1,762 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,800 dan kemudian $1,823.

Rabu, 15 September 2021

PT Equityworld | Ada Tanda Baik dari Asia, Mayoritas Bursa Saham Hijau

PT Equityworld | Mayoritas bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/9/2021), mengikuti penguatan bursa Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan dini hari tadi waktu Indonesia.

Indeks Nikkei dibuka menguat 0,21%, Shanghai Composite China bertambah 0,22%, Straits Times Singapura tumbuh 0,26%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,42%.

Bursa Saham Asia Menguat Tersengat Wall Street yang Perkasa | PT Equityworld

Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,22% pada perdagangan pagi hari ini.

Dari Jepang, data ekspor Negeri Sakura pada periode Agustus 2021 tercatat tumbuh melambat, karena dampak dari lonjakan kasus virus corona (Covid-19) yang masih melanda beberapa negara di Asia.

Tercatat ekspor Negeri Sakura tumbuh menjadi 26,2% pada Agustus tahun ini, melambat dari periode Juli yang tumbuh sebesar 37%. Angka ini juga lebih rendah dari ekspektasi pasar dalam konsensus Reuters yang memperkirakan di angka 34%.

Meskipun melambat, namun hal ini tidak membuat khawatir pelaku pasar di Jepang karena pelaku pasar masih optimis bahwa perekonomian Jepang akan kembali pulih pasca dilanda pandemi Covid-19.

Kementerian Keuangan mengatakan pertumbuhan ekspor dua digit karena adanya permintaan yang kuat dari sektor pembuat chip yang dapat mengimbangi perlambatan ekspor mobil ke AS dan Eropa.

"Masalah semikonduktor memiliki dampak yang cukup besar, yang sangat membebani ekspor mobil," kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, dikutip dari Reuters.

Di lain sisi, tingkat vaksinasi di Jepang mulai meningkat dan kasus harian Covid-19 di Jepang yang mulai melandai juga mendorong optimisme pelaku pasar di Jepang.

Sementara itu, kabar dari perusahaan raksasa properti China, China Evergrande Group yang terancam gagal bayar (default) masih akan menjadi perhatian pasar pada hari ini, terutama di pasar saham China dan Hong Kong.

Namun secara mayoritas, pasar saham Asia cenderung mengikuti pergerakan bursa AS, Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/9/2021) waktu setempat atau dini hari tadi waktu Indonesia.

Tiga indeks utama finish di jalur hijau. Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,68% ke level 34.814,39, S&P 500 melonjak 0,85% ke 4.480,7, dan Nasdaq Composite melesat 0,82% ke 15.161,53.

Sepertinya investor memanfaatkan harga aset di Wall Street yang sudah murah untuk kemudian melakukan aksi beli. S&P 500, misalnya, sudah melemah lebih dari 1% sepanjang bulan ini.

Namun, aksi beli ini tidak sampai menjelma menjadi aksi borong. Pasalnya, ada sejumlah sentimen yang membuat investor masih menahan diri.

Pertama adalah ketidakpastian masa depan pemulihan ekonomi AS. Ini tercermin dari laju inflasi yang melambat.

Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan inflasi inti pada Agustus 2021 adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Melambat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 0,3% dan menjadi yang terendah dalam enam bulan terakhir.

Dibandingkan dengan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), laju inflasi inti adalah 4%. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% dan menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir.

Sentimen kedua adalah wacana kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh). Kubu Partai Demokrat di House of Representatives mengusulkan kenaikan tarif PPh di mana PPh Badan akan naik dari 21% menjadi 26,5%.

Kenaikan tarif PPh, jika terwujud, tentu akan mengurangi laba emiten. Hal ini tentu menjadi kabar buruk bagi pasar saham.

Selasa, 14 September 2021

PT Equityworld | Wall Street Tergelincir Merespons Rilis Data Inflasi AS

PT Equityworld | Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup lebih rendah pada Selasa (Rabu pagi WIB), setelah dirilisnya data inflasi Agustus yang turun dari level tertinggi 13 tahun. Meski demikian, kenaikan harga yang terjadi tetap membuat tidak nyaman dibandingkan sebelum pandemi.

Melansir CNBC International, Rabu, 15 September 2021, Dow Jones Industrial Average turun 292,06 poin atau 0,8 persen menjadi 34.577,57. S&P 500 turun hampir 0,6 persen menjadi 4.443,05 dan Nasdaq Composite turun sekitar 0,5 persen menjadi 15.037,76.

Wall Street Berjatuhan, Bursa Asia Ikutan Tersungkur! | PT Equityworld

Saham terkait dengan pemulihan ekonomi turun. Bank of America turun 2,6 persen. General Electric membawa saham industri ke zona merah, ditutup 3,9 persen lebih rendah.

"Apa yang perlu kita lihat agar pasar secara fundamental mendukung berlanjutnya pelonggaran inflasi tanpa memburuknya prospek ekonomi?," kata kepala strategi investasi Charles Schwab, Liz Ann Sonders.

Saham Apple ditutup hampir 1 persen lebih rendah setelah perusahaan meluncurkan iPhone 13 baru pada acara produk musim gugur tahunannya, pergerakan sahamnya sejalan dengan pola historis.

Sementara itu, investor memadati beberapa benteng teknologi favorit mereka dengan Microsoft mengakhiri hari lebih tinggi 0,9 persen.

S&P 500 dan Nasdaq Composite turun lebih dari 1 persen pada September, sedangkan Dow turun 2,2 persen untuk bulan tersebut.

September secara historis adalah bulan terburuk untuk pasar dengan penurunan rata-rata 0,56 persen sejak tahun 1945.

Senin, 13 September 2021

PT Equityworld | Harga Emas Berkilau Menanti Laporan Data Ekonomi AS

PT Equityworld | Harga emas dunia naik pada hari Senin menjelang rilis data ekonomi utama AS termasuk laporan inflasi yang dapat menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Melansir laman financialpost, harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi USD 1.792,05 per ons. Sementara harga emas berjangka AS ditutup naik 0,1 persen menjadi USD 1.794,4.

Harga Emas Naik Jelang Pengumuman Indeks Harga Konsumen | PT Equityworld

Fokus investor akan berada pada indeks harga konsumen bulanan AS, ukuran inflasi pilihan Fed, yang akan dirilis pada hari Selasa. Angka penjualan dan produksi ritel Agustus juga akan dirilis minggu ini.

"Penekanan The Fed adalah pada lapangan kerja. Namun untuk inflasi tidak terlalu dikhawatirkan, mengandaikan sikap akomodatif yang positif untuk emas," kata Bart Melek, Kepala Komoditas Strategi di TD Securities.

Melek, mengatakan, bagaimanapun akan "sulit bagi emas untuk lepas landas" karena dolar yang menguat, menjaga perhatian pasar pada apa yang akan dilakukan Fed pada pertemuan berikutnya dari 21 hingga 22 September.

Indeks dolar mencapai nilai tertinggi multi-mingguan seiring meningkatkan biaya emas batangan bagi pemegang mata uang lainnya.

Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang tetapi juga bersaing dengan greenback untuk status safe-haven.


Harga Logam Lainnya

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan jika dia masih ingin bank sentral mulai mengurangi pembelian aset tahun ini.

Dia mendukung pembuat kebijakan yang menyatakan rencana untuk mulai mengurangi dukungan meskipun pertumbuhan pekerjaan melemah pada Agustus.

Citi Research mengatakan dalam sebuah catatan bahwa pihaknya mempertahankan bias yang sedikit hawkish menjelang pertemuan 21 September, tetapi kejutan dovish dapat memungkinkan emas menembus lebih tinggi menuju USD 1.900.

Untuk logam lainnya, harga perak stabil di posisi USD 23,71 per ounce dan platinum naik 0,5 persen menjadi USD 960,18.

Sementara paladium turun 2,6 persen menjadi USD 2.083,46, setelah mencapai level terendah sejak Agustus 2020.

Minggu, 12 September 2021

PT Equityworld | Saham Asia buat awal yang hati-hati, Nikkei dekati tertinggi 30 tahun

PT Equityworld | Saham-saham Asia memulai awal yang berhati-hati pada Senin hingga satu minggu yang akan dipenuhi dengan data ekonomi penting AS dan China serta peluncuran iPhone terbaru Apple, sementara Nikkei mendekati ketinggian yang terakhir dikunjungi pada 1990.

Pasar saham Jepang sangat bergairah ditopang harapan stimulus baru dari Perdana Menteri baru mendorong Nikkei melonjak 4,3 persen minggu lalu. Indeks Topix telah mencapai puncak itu, sementara Nikkei berbalik ragu-ragu pada Senin pagi.

Bursa Saham Asia Melemah pada Awal Pekan | PT Equityworld

Laporan Demokrat AS sedang mempertimbangkan proposal untuk menaikkan pajak pada perusahaan-perusahaan dan orang-orang kaya, meskipun tidak sepenuhnya baru, dapat membuat sentimen pasar menjadi lebih berhati-hati.

Menambah kekhawatiran tentang tindakan keras peraturan Beijing adalah laporan Financial Times yang bertujuan untuk memecah bisnis Alipay, aplikasi pembayaran yang sangat populer yang dimiliki oleh Grup Ant Jack Ma.

China akan merilis sejumlah data tentang penjualan ritel, hasil industri dan investasi perkotaan pada Rabu (15/9) yang dikhawatirkan para analis akan menunjukkan perlambatan lebih lanjut di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,1 persen, setelah melambung pada Jumat (10/9).

Indeks berjangka Nasdaq dan indeks berjangka S&P 500 naik 0,3 persen, setelah mengalami aksi ambil untung minggu lalu.

Wall Street mengalami penurunan terburuk sejak Februari karena keraguan tentang ketahanan pemulihan ekonomi global memukul perusahaan-perusahaan yang dibuka kembali di sektor energi, hotel dan perjalanan.

Apple akan menjadi fokus setelah merosot pada Jumat (10/9) menyusul putusan pengadilan yang tidak menguntungkan terkait dengan toko aplikasinya, hanya beberapa hari sebelum meluncurkan jajaran iPhone baru.

Juga akan menjadi sorotan data harga konsumen AS pada Selasa (14/9), yang diperkirakan akan melihat inflasi inti sedikit berkurang menjadi 4,2 persen, sementara penjualan ritel pada Kamis (16/9) dapat menunjukkan penurunan lagi karena penyebaran varian Delta menakuti pembeli.

Pentingnya IHK (Indeks Harga Konsumen) digarisbawahi oleh Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker yang mengatakan kepada Nikkei bahwa dia ingin memulai tapering (pengurangan pembelian obligasi) tahun ini untuk berjaga-jaga jika lonjakan inflasi terbukti lebih dari sekadar sementara.

Harker lebih memilih untuk mengurangi tapering selama periode 8 hingga 12 bulan, yang lebih lama dari yang disebut-sebut oleh beberapa mereka yang hawkish.

"Pasar global terpaku pada waktu pengurangan pelonggaran kuantitatif (QE) oleh bank-bank sentral, terutama The Fed," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

“Itu tidak mengejutkan, mengingat dukungan yang diberikan likuiditas ekstra untuk ekuitas dan aset secara lebih umum,” tambah mereka. “Panduan terbaru dari pejabat senior FOMC adalah bahwa tapering masih sangat banyak dalam agenda tahun ini, tetapi tidak mungkin diumumkan hingga November.”

Ketegangan hanya akan meningkat menjelang pertemuan Fed berikutnya pada 21-22 September, dan berperan dalam mendorong imbal hasil obligasi 10-tahun AS menuju grafik pertahanan utama di sekitar 1,38 persen minggu lalu.

Pergerakan imbal hasil yang lebih tinggi dan sentimen umum penghindaran risiko membantu dolar menutup beberapa kerugian minggu lalu dan meninggalkan indeksnya di 92,624, dari level terendah baru-baru ini di 91,941.

Euro memudar kembali ke 1,1810 dolar, dari puncak September di 1,1908 dolar, dan berisiko menembus support di bawah 1,1800 dolar. Dolar bertahan terhadap yen di 109,87, setelah menghabiskan satu bulan penuh terjebak dalam kisaran sempit 109,40-100,46.

Emas juga mengalami kesulitan menembus posisi lebih tinggi dan terakhir datar di 1.786 dolar AS per ounce, setelah turun 2,1 persen minggu lalu ketika berulang kali gagal menembus resistensi di atas 1.1830 dolar AS.

Harga minyak sedikit menguat pada Senin didukung oleh tanda-tanda semakin ketatnya pasokan di Amerika Serikat sebagai akibat dari Badai Ida.

Brent naik 44 sen menjadi 73,36 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 47 sen menjadi 70,19 dolar AS per barel.