Senin, 30 Maret 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Mentah Tembus USD 100 per Barel

Equityworld Futures | Harga Minyak Mentah Tembus USD 100 per Barel

Equityworld Futures | HARGA minyak mentah dunia kembali menembus US$ 100 per barel setelah sempat bergerak di kisaran US$ 95 hingga US$9 8 dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak pada perdagangan terbaru tercatat mencapai US$ 101,47 per barel.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Berpotensi Melesat Pekan Ini, Analis Ungkap Sentimennya

Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki minggu kelima. "Pelaku pasar semakin pesimistis terhadap peluang penyelesaian cepat, terutama setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman turut terlibat di tengah tambahan pengerahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan tersebut," demikian analisis Trading Economics, dikutip pada Senin, 30 Maret 2026.

Kelompok Houthi sebelumnya meluncurkan serangan rudal ke Israel dan menyatakan aksi tersebut akan berlanjut selama serangan terhadap Iran dan sekutunya belum dihentikan. Selain itu, kelompok ini memiliki kemampuan menargetkan jalur pelayaran di Laut Merah serta infrastruktur energi strategis di Arab Saudi.

Serangan tersebut menambah risiko baru bagi jalur perdagangan global, yang sebelumnya sudah tertekan akibat gangguan di Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai keterlibatan Houthi akan semakin memperumit situasi. Ia mengingatkan, dampak akan jauh lebih besar jika gangguan meluas ke Selat Bab-el-Mandeb yang menjadi pintu masuk ke Laut Merah dan jalur utama menuju Terusan Suez.

Menurut Bhima, sekitar 12 persen perdagangan dunia melintasi jalur tersebut karena menjadi rute tercepat antara Asia, Eropa, dan Afrika. Penutupan jalur ini sebelumnya pernah menambah waktu pelayaran hingga 15 hari, meningkatkan biaya logistik, serta menyulitkan kapal mendapatkan perlindungan asuransi.

Bhima mengatakan dampaknya bagi Indonesia akan signifikan mengingat ekspor ke Eropa mencapai 13,4 persen dari total ekspor pada Januari 2026.

“Jika gangguan berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$120 per barel yang akan mempercepat imported inflation, terutama pada sektor pangan dan energi,” kata Bhima melalui keterangan tertulis, Senin, 30 Maret 2026.

Selain itu, Bhima mengatakan distribusi bahan baku pupuk yang melewati jalur tersebut juga terancam terganggu, sehingga dapat menekan sektor pertanian. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun berpotensi meningkat akibat melemahnya ekspor dan naiknya biaya impor.

Bhima menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah mitigasi. Di antaranya melalui upaya diplomasi dengan Yaman agar distribusi barang Indonesia tetap lancar, percepatan realokasi anggaran untuk subsidi energi dan pupuk, hingga penambahan subsidi transportasi umum guna menekan konsumsi BBM.

“Setidaknya butuh tambahan belanja pemerintah Rp 515 triliun dengan asumsi tiap kenaikan harga minyak US$ 1 per barel di atas asumsi APBN menambah beban belanja pemerintah Rp 10,3 triliun,” kata Bhima.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan transisi energi, khususnya di sektor ketenagalistrikan, melalui pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, mikrohidro, dan angin. Upaya ini krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Profil Perusahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar