Selasa, 30 November 2021

Equityworld Futures | Bursa Asia Dibuka Hijau, Tetap Hati-Hati Guys!

Equityworld Futures | Mayoritas pasar saham Asia dibuka menguat pada perdagangan Rabu (1/12/2021), di tengah ambruknya kembali pasar saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/11/2021) kemarin karena investor terus menilai dampak dari virus corona (Covid-19) varian Omicron.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,22%, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,4%, Straits Times Singapura tumbuh 0,42%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,55%.

Seberapa Bahaya Omicron Belum Jelas Bikin Wall Street Berakhir Memerah | Equityworld Futures

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China dibuka turun tipis 0,06% pada perdagangan hari ini. Shanghai diperdagangkan cenderung flat jelang rilis data aktivitas manufaktur versi Caixin/Markit.

Dari China, setelah NBS merilis data aktivitas manufaktur dan jasa kemarin, pada hari ini giliran versi dari Caixin/Markit yang akan merilis data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) periode November 2021.

PMI manufaktur China versi Caixin pada November akan dirilis pukul 09:45 waktu setempat atau pukul 08:45 WIB.

Selain China, beberapa negara di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan juga telah merilis data PMI manufaktur periode November pada hari ini.

Dari Jepang, PMI manufaktur versi Jibun Bank/Markit tercatat naik atau berekspansi ke angka 54,5 pada bulan ini, dari sebelumnya pada bulan lalu yakni Oktober di angka 53,2.

Sedangkan dari Korea Selatan, PMI manufaktur versi Markit dilaporkan juga naik atau ekspansi ke angka 50,9 pada November, dari sebelumnya pada Oktober lalu di angka 50,2.

Data PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Masih dari Korea Selatan, ekspor Negeri Ginseng tumbuh pada laju tercepatnya dalam tiga bulan terakhir per November dan tumbuh dua digit dalam sembilan bulan berturut-turut.

Naiknya kembali ekspor Negeri Ginseng terjadi karena pemulihan pasca-pandemi di mitra dagang utama yang mendorong permintaan di perusahaan produsen chip Korea Selatan dan produk petrokimia.

Ekspor pada November melonjak 32,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari tahun sebelumnya sebesar 24,1% dan lebih besar dari Oktober lalu sebesar 24%.

Angka ekspor ini juga mengalahkan perkiraan pasar dalam survei Reuters yang memperkirakan ekspor Korea Selatan tumbuh 27,7%.

Data dari pekan lalu menunjukkan penjualan semikonduktor melonjak 32,5%, produk minyak bumi melesat 113,6%, dan penjualan kapal di luar negeri meroket 252,2%.

Beralih ke AS, bursa saham Wall Street kembali ditutup berjatuhan pada perdagangan Selasa (30/11/2021) waktu setempat, di tengah kekhawatiran soal efektivitas vaksin terkini untuk mengatasi infeksi varian Omicron.

Indeks Dow Jones ambles 1,86% ke level 34.483,72, S&P 500 ambruk 1,9% ke posisi 4,566,99, dan Nasdaq Composite ambrol 1,55% menjadi 15.537,69.

Pembalikan arah bursa saham AS pada perdagangan kemarin terjadi setelah CEO Moderna, Stephane Bancel mengatakan kepada Financial Times bahwa vaksin yang ada kurang efektif terhadap varian baru.

Bancel mengatakan kepada CNBC International pada Senin (29/11/2021) lalu bahwa dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembangkan dan mengirimkan vaksin khusus Omicron.

"Pasar saham sangat terfokus pada aliran berita yang terkait dengan Omicron," kata Jim Paulsen, kepala strategi investasi untuk Leuthold Group.

Selain soal Omicron, merosotnya 3 indeks saham utama Negeri Paman Sam juga terjadi setelah Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell mengatakan, bank sentral akan membahas percepatan pengurangan pembelian obligasi (tapering off) pada pertemuan Desember mendatang.

Dalam pidato di hadapan komite Senat, Powell mengatakan dia berpikir pengurangan laju pembelian obligasi bulanan bisa dilakukan lebih cepat daripada jadwal US$ 15 miliar per bulan yang diumumkan awal bulan ini.

"Pada titik ini, ekonomi sangat kuat dan tekanan inflasi lebih tinggi, dan oleh karena itu, menurut pandangan saya, mempertimbangkan untuk mengakhiri pembelian aset kami ... mungkin beberapa bulan lebih cepat," kata Powell, dilansir CNBC International.

Dengan demikian, komentar Powell di atas menunjukkan bahwa fokus The Fed kini telah berubah untuk memerangi inflasi dan dampak negatifnya ketimbang potensi gangguan dalam kegiatan ekonomi akibat adanya varian baru Covid-19.

Senin, 29 November 2021

Equityworld Futures | AS Tidak Akan Lockdown karena Omicron, Wall Street Rebound

Equityworld Futures | Pasar modal AS menguat pada perdagangan Senin (29/11/2021) di Wall Street, setelah sempat terkena aksi jual besar-besaran Jumat lalu. Presiden Joe Biden mengatakan tidak perlu melakukan lockdown dalam merespons Covid-19 varian omicron.

Dow Jones Industrial Average naik 0,68% ke 35.135,94. S&P 500 naik 1,32% ke 4.655,27. Nasdaq naik 1,88% ke 15.782,83.

Rekomendasi Emas 30 November 2021: Turun karena Menguatnya USD | Equityworld Futures

Presiden Joe Biden mengatakan pemerintah tidak perlu melakukan lockdown jika semua orang divaksinasi dan memakai masker. Biden juga mengatakan tidak ada pembatasan perjalanan.

Jumat lalu, Dow Jones terkoreksi dalam hingga 2,5%, S&P 500 turun 2,3%, Nasdaq minus 2,2%.

Saham teknologi menjadi penopang kenaikan Senin. Tesla naik 5,1%, Microsoft naik 2,1%, Amazon naik 1,6%, Apple naik 2,2%. Twitter justru turun 2,7% setelah pengumuman CEO Jack Dorsey akan mengundurkan diri.

Omicron telah diklasifikasikan sebagai "variant of concern" oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang berarti lebih menular, lebih ganas atau lebih terampil menghindari tindakan kesehatan masyarakat, vaksin dan terapi.

Minggu, 28 November 2021

Equityworld Futures | Harga Emas Bisa Naik, Tapi Nggak Lama! Main Cantik Ya

Equityworld Futures | Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan pagi ini. Tren koreksi harga sang logam mulia sudah terjadi sejak minggu lalu.

Pada Senin (29/11/2021) pukul 06:26 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.784,46/troy ons. Turun 0,41% dari posisi akhir pekan lalu.

Dunia Ngeri Sama Omicron, Harga Emas Antam Terbang Pekan Ini? | Equityworld Futures

Sepanjang minggu kemarin, harga emas terkoreksi lebih dari 2%. Sepertinya tren penurunan harga bisa berlanjut hari ini.

Akan tetapi, bukan berarti harapan telah sirna. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas berpeluang bangkit.

"Harga emas mungkin akan menguji titik resistance di US$ 1.803/troy ons. Penembusan di titik ini akan membawa harga naik ke US$ 1.817/troy ons," tegas Wang dalam risetnya.

Akan tetapi, lanjut Wang, investor harus tetap waspada. Sebab untuk sementara harga emas masih akan bergerak dekat dengan US$ 1.786/troy ons. Bahkan ada risiko harga turun lagi menuju kisaran US$ 1.758-1.777/troy ons.

"Harga emas sedang menjalani gelombang C, gelombang terakhir dari pola yang terbentuk sejak 7 Agustus. Dalam kekuatan penuh, gelombang ini bisa membawa harga menuju US$ 1.684/troy ons. Jadi, rebound harga emas sepertinya tidak akan bertahan lama," ungkap Wang.

Kamis, 25 November 2021

PT Equity World | Seluruh bursa Asia melemah, ini sentimen yang menyeretnya

PT Equity World | Seluruh Bursa Asia mencatatkan pelemahan pada awal perdagangan hari ini. Jumat (26/11) pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 melemah 1,84% ke 28.955,36.

Serupa, indeks Hang Seng juga turun 0,96% ke 24.502,68. Indeks Taiex pun turun 0,42% ke 17.580,85. Sedangkan indeks Kospi melemah 0,55% ke 2.963,98. Dan indeks ASX 200 turut melemah 0,91% ke 7.340.

Jelang Akhir Pekan, IHSG Masih Berpeluang Menguat | PT Equity World

Sementara itu, FTSE Straits Times koreksi 0,74% ke 3.197,57 dan FTSE Malay KLCI melemah 0,25% menjadi 1.513,8.

Pelemahan bursa saham di Asia kali ini dipimpin oleh indeks Nikkei 225, yang sempat hampir turun lebih dari 2% pada pagi ini.

Koreksi di bursa saham Jepang terjadi setelah saham Fast Retailing dan SoftBank Group masing-masing turun lebih dari 2% pada awal perdagangan hari ini.

Salah satu faktor yang menyeret pergerakan bursa di kawasan adalah kekhawatiran kebangkitan virus corona (Covid-19). Terlebih, WHO mengungkapkan sedang memantau varian baru dengan “sejumlah besar mutasi.” Sebuah pertemuan khusus dijadwalkan pada hari Jumat untuk membahas implikasinya terhadap vaksin dan perawatan.

Di sisi lain, pasar saham di Amerika Serikat (AS) ditutup pada hari Kamis untuk liburan Thanksgiving.

Rabu, 24 November 2021

PT Equity World | Jangan Resah, Jangan Gundah! Harga Emas Nanti Naik Kok

PT Equity World | Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan pagi hari ini. Ke depan, bagaimanakah prospek harga sang logam mulia?

Pada Kamis (25/11/2021) pukul 07:37 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.791,46/troy ons. Naik 0,17% dari posisi hari sebelumnya.

Harga emas ditutup melemah terseret data AS yang kuat dan taruhan kenaikan suku bunga | PT Equity World

Namun kenaikan ini terjadi usai harga emas melorot selama lima hari perdagangan beruntun. Dalam lima hari tersebut, harga ambles 5,75%.

Hari ini, ada peluang harga emas bakal naik. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan target harga emas hari ini di US$ 1.803/troy ons.

"Harga emas berpeluang rebound menuju titik resistance US$ 1.803/troy ons. Ini karena harga mulai stabil di atas titik support US$ 1.786/troy ons," sebut Wang dalam risetnya.

Harga emas yang anjlok berhari-hari, tambah Wang, sepertinya tidak berkelanjutan. Pasar sudah menemukan keseimbangan dan harga kini bergerak di atas titik support. Ini bisa menjadi sinyal harga bakal bergerak dalam tren naik.

"Akan tetapi, kenaikan ini juga rasanya akan terbatas. Mungkin akan berakhir di kisaran US$ 1.803-1.817/troy ons," lanjut Wang.

Selasa, 23 November 2021

PT Equity World | Wall Street Bervariasi, Dow Naik Hampir 200 Poin

PT Equity World | Tiga indeks utama saham di Bursa Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) dengan Dow naik hampir 200 poin. Saham perbankan dan energi mengangkat Dow, sementara saham teknologi kembali tertekan oleh kenaikan yield obligasi AS.

Indeks teknologi berat yang diukur Nasdaq Composite turun 0,50% menjadi 15.775,14, sedangkan S&P 500 naik 0,17% menjadi 4.690,70. Dow Jones Industrial Average naik 194,55 poin menjadi 35.813,80 karena penguatan saham bank dan energi.

Bursa Wall Street Berakhir Mixed; Nasdaq Turun Terendah 1 Minggu | PT Equity World

Penurunan saham teknologi dan pertumbuhan lainnya terjadi karena imbal hasil Treasury melonjak menyusul keputusan Presiden Joe Biden untuk memilih Ketua Fed Jerome Powell untuk masa jabatan kedua pada hari Senin.

“Kami telah melihat sedikit tekanan pada saham teknologi karena imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang telah reli untuk hari kedua, ”kata Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi di Edward Jones.

Raksasa media sosial Meta, perusahaan induk Facebook, turun 1,1%, sementara saham Roku dan biotek Moderna turun lebih dari 2%. Saham Zoom Video Communications jatuh 14,7% sehari setelah perkiraan pendapatan melambat seiring pandemi Covid mereda dan permintaan untuk kontak jarak jauh menurun

Di sisi lain, saham bank naik seiring dengan suku bunga, dengan saham JPMorgan melonjak hampir 2,4%.

Stok energi naik bahkan setelah Presiden Joe Biden mengumumkan pada hari Selasa bahwa ia akan memanfaatkan cadangan minyak strategis dalam upaya untuk menurunkan harga gas pada saat inflasi berjalan pada level tertinggi dalam tiga dekade. Harga minyak telah menurun dalam beberapa hari terakhir di tengah desas-desus bahwa Biden akan mengambil langkah ini tetapi berbalik lebih tinggi pada hari Selasa.

Pencalonan Powell

Pencalonan kembali Powell secara umum disambut baik oleh Wall Street, tetapi pergerakan di pasar Treasury sangat tajam. Imbal hasil Treasury 10-tahun diperdagangkan mendekati 1,67% pada hari Selasa, naik dari sekitar 1,54% pada hari Jumat. Yield bergerak berlawanan dengan harga.

“Pasar mengharapkan respons yang lebih hawkish terhadap inflasi saat ini, waktu akan memberi tahu apakah itu akan cukup, karena Powell mapan dalam kebijakan FOMC yang dovish,” kata manajer portofolio Aptus Capital Advisors John Luke Tyner dalam sebuah catatan kepada klien.

Selasa menandai hari kedua berturut-turut untuk koreksi Nasdaq, yang turun 1,26% pada hari Senin. Indeks masih positif untuk bulan ini.

Sementara perdagangan kemungkinan akan melambat karena ini adalah minggu Thanksgiving dan keputusan utama Fed berada di belakang pasar, investor akan mengamati beberapa data ekonomi yang keluar akhir pekan ini, termasuk klaim pengangguran mingguan, pembaruan PDB, pendapatan pribadi, dan kepercayaan konsumen.

Pasar AS akan ditutup untuk liburan Thanksgiving pada hari Kamis. Pasar saham tutup lebih awal pada pukul 1 siang. ET pada hari Jumat.

Senin, 22 November 2021

PT Equity World | Bursa Asia mixed, mayoritas indeks melemah pasca pencalonan kembali Jerome Powell

PT Equity World | Bursa Asia bergerak mixed dengan mayoritas indeks melemah pada perdagangan Selasa (23/11) pagi. Pukul 08.33 WIB, indeks Hang Seng turun 223,58 poin atau ,91% ke 24.722,99.

Taiex turun 39,23 poin atau 0,22% ke 17.763,03, Kospi turun 14,56 poin atau 0,48% ke 2.996,48, ASX 200 naik 45,92 poin atau 0,62% ke 7,399,00, Straits Times turun 3,30 poin atau 0,10% ke 3.233,72, FTSE Malaysia naik 3,11 poin atau 0,20% ke 1.529,54.

Waspada! Bursa Asia Pagi Ini Mayoritas Merah | PT Equity World

Bursa Asia bergerak mixed setelah imbal hasil US Treasury dan dolar AS melonjak pasca pencalonan kembali Jerome Powell untuk memimpin Federal Reserve memicu taruhan pada pengetatan kebijakan yang lebih cepat.

Saham naik di Australia, tetapi di Korea Selatan jatuh. Indeks Jepang libur.

Mengutip Bloomberg, Presiden AS Joe Biden memilih kesinambungan di The Fed dengan memilih Powell untuk masa jabatan kedua sebagai Gubernur dan menganggak Brainard menjadi wakil gubernya. 

Mereka menghadapi tantangan untuk mengekang tekanan harga yang kuat sambil memelihara pemulihan dari pandemi dan mencegah dislokasi pasar keuangan.

"Sementara investor tidak perlu lagi bertanya-tanya tentag siapa yang akan memimpin Federal Reserve selama beberapa tahun depan, dilema besar berikutnya yang dihadapi bank sentral adalah bagaimana menormalkan kebijakan moneter tanpa mengganggu pasar." kata Robert Schein, kepala investasi di Blanke Schein Wealth Management dalam risetnya.