Minggu, 06 Juli 2025

Equityworld Futures | Arah Gerak Wall Street Pekan Ini, Investor Waspadai Tenggat Tarif Trump

Equityworld Futures | Arah Gerak Wall Street Pekan Ini, Investor Waspadai Tenggat Tarif Trump

Equityworld Futures | Perkembangan kebijakan tarif dari Washington akan menjadi perhatian utama bagi pasar saham Amerika Serikat (AS) pekan ini, seiring berakhirnya masa penangguhan sementara atas pungutan impor.

Equityworld Futures | Dolar Melemah, Harga Emas Melejit Jelang Tenggat Tarif AS

Melansir Reuters, Senin (7/7/2025), indeks S&P 500 naik 2,09% sepanjang perdagangan pekan lalu, 30 Juni - 4 Juli 2025, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 3,04% dan Nasdaq naik 1,7% dalam sepekan. 

Indeks S&P 500 telah naik sekitar 26% sejak posisi terendah pada 8 April lalu, setelah pengumuman tarif agresif dari Trump pada 2 April. 

Setelah melewati semester pertama yang penuh gejolak, indeks S&P 500 kini memasuki periode historis yang cenderung kuat. Dalam dua dekade terakhir, bulan Juli menjadi bulan terbaik untuk indeks tersebut, dengan rerata kenaikan 2,5%, berdasarkan analisis Reuters terhadap data LSEG.

Pergerakan Wall Street pekan ini akan dipengaruhi oleh tenggat tarif impor yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Negosiator dari lebih dari selusin negara mitra dagang utama AS tengah berpacu untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump sebelum batas waktu tersebut, guna menghindari pemberlakuan tarif yang lebih tinggi. 

Di sisi lain, Trump dan timnya terus meningkatkan tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Pada Rabu pekan lalu, Trump mengumumkan kesepakatan dengan Vietnam yang disebutnya akan memberlakukan tarif sebesar 20% terhadap banyak produk ekspor Vietnam — lebih rendah dari level yang sempat dijanjikan sebelumnya. 

Sementara itu, kesepakatan dengan India masih dalam proses, sedangkan pembicaraan dengan Jepang — mitra dagang terbesar keenam AS sekaligus sekutu utama di Asia — dilaporkan mengalami hambatan. 

Kekhawatiran investor terhadap tarif sempat memudar dan berganti menjadi aksi beli yang mendorong pasar saham AS kembali mencetak rekor tertinggi. Kinerja keuangan korporasi dan ketahanan ekonomi AS sejauh ini melebihi ekspektasi banyak pihak, meskipun terjadi perubahan kebijakan yang signifikan. 

Meski indeks mencetak rekor baru, posisi kepemilikan saham masih jauh di bawah level Februari, menurut estimasi Deutsche Bank. Hal ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor dalam menambah eksposur terhadap ekuitas.

Lisa Shalett, Chief Investment Officer di Morgan Stanley Wealth Management menyebut, reli pekan lalu cenderung bersifat spekulatif. Dalam satu pekan terakhir, reli lebih banyak digerakkan oleh investor ritel ketimbang institusi. Posisi institusi saat ini masih tergolong rata-rata.

Analis menyebut meski masih banyak faktor yang membuat investor bersikap waspada — seperti kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS dan valuasi saham yang tinggi — tercapainya tenggat tarif tanpa eskalasi besar akan mengurangi satu risiko dalam jangka pendek. 

“Saya rasa mungkin akan tetap ada ancaman dan gertakan, tetapi itu belum tentu menjadi ancaman besar bagi pasar saat ini,” kata Irene Tunkel, Kepala Strategi Ekuitas AS di BCA Research. 

Kendati demikian, para investor tidak menganggap tenggat tarif ini akan sepenuhnya mengakhiri ketegangan perdagangan. 

Julian McManus, manajer portofolio di Janus Henderson Investors menilai, tenggat tarif tersebut bukan merupakan tenggat mutlak. Penundaan 90 hari sebelumnya dilakukan karena pasar sempat anjlok, dan pembuat kebijakan butuh waktu untuk bernapas dan merundingkan kesepakatan atau mencari jalan keluar. 

Sikap hati-hati investor dalam meningkatkan eksposur ekuitas saat ini dinilai mirip dengan perilaku mereka setelah kejatuhan pasar akibat pandemi pada Maret 2020, ketika alokasi terhadap saham tertinggal dari pemulihan indeks pasar, ujar Parag Thatte, ahli strategi Deutsche Bank.

“Artinya, masih ada ruang bagi eksposur ekuitas untuk terus meningkat, yang merupakan sinyal positif bagi pasar saham secara keseluruhan,” kata Thatte. 

Dalam waktu dekat, investor juga akan memantau data ekonomi, khususnya inflasi dan laporan keuangan kuartal II/2025, sebagai indikator kesehatan ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. 

“Kita berada di titik di mana investor institusi harus mengambil keputusan, apakah mereka percaya dengan reli pasar ini atau tidak,” ujar Shalett dari Morgan Stanley.

Demo Ewf 

Kamis, 03 Juli 2025

Equityworld Futures | Wall Street Meroket, S&P 500 dan Nasdaq Reli Rekor Tertinggi

Equityworld Futures | Wall Street Meroket, S&P 500 dan Nasdaq Reli Rekor Tertinggi

Equityworld Futures | Indeks-indeks Wall Street meroket pada perdagangan Kamis (3/7/2025). Kenaikan itu seiring rilis data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan. Optimisme terhadap ketahanan ekonomi AS mendorong S&P 500 dan Nasdaq reli rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).

Equityworld Futures | Harga Emas Akhirnya Ambruk, Investor Mulai Kehilangan Harapan

Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones Industrial Average melonjak 344,11 poin (0,77%) ke level 44.828,53. Sementara itu, S&P 500 melejit 0,83% menjadi 6.279,35 dan Nasdaq Composite melambung 1,02% ke 20.601,10. Kedua indeks terakhir menutup perdagangan di rekor tertinggi.

Kenaikan bursa terjadi setelah laporan nonfarm payrolls (NFP) menunjukkan adanya tambahan 147 ribu lapangan kerja pada Juni, melampaui proyeksi ekonom sebesar 110 ribu. Angka ini juga lebih tinggi dari revisi naik bulan Mei sebesar 144 ribu. Tingkat pengangguran pun turun ke 4,1%, padahal sebelumnya diprediksi naik ke 4,3%.

Laporan ketenagakerjaan yang kuat ini menyebabkan lonjakan imbal hasil obligasi AS dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Menurut FedWatch CME Group, pasar kini memperkirakan peluang 95% The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

“Laporan pekerjaan ini membuat kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Juli praktis tertutup. Bahkan, masih jadi tanda tanya apakah suku bunga akan dipangkas tahun ini sama sekali,” ujar manajer portofolio di Argent Capital Management Jed Ellerbroek.

Laporan resmi ini datang sehari setelah data ADP menunjukkan penurunan 33 ribu tenaga kerja sektor swasta, yang sempat memicu kekhawatiran pasar. Namun, data pemerintah berhasil menepis kekhawatiran tersebut.

Kesepakatan Dagang AS

Di sisi lain, pasar juga menyambut positif pengumuman kesepakatan dagang antara AS dan Vietnam oleh Presiden Donald Trump, sehari sebelum batas waktu kebijakan penangguhan tarif berakhir pada awal Juli. Meski ada potensi risiko dari negosiasi lanjutan, pelaku pasar tetap optimistis.

“Dampak tarif pasti akan terasa bagi banyak bisnis, tetapi pasar tampaknya cukup siap mencerna itu tanpa gejolak besar,” kata Ellerbroek.

Investor juga mencermati perkembangan RUU pemangkasan pajak besar-besaran Trump, yang sudah disetujui Senat dan kini menuju pemungutan suara final di DPR AS yang dikuasai Partai Republik.

Perdagangan Kamis ditutup lebih awal pukul 13.00 waktu New York karena libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat (4/7/2025). Ketiga indeks utama AS berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan ini. S&P 500 dan Nasdaq naik masing-masing 1,7% dan 1,6%, sementara Dow Jones melonjak 2,3%.

Demo Ewf 

Rabu, 02 Juli 2025

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Bervariasi, AS dan Vietnam Capai Kesepakatan Dagang

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Bervariasi, AS dan Vietnam Capai Kesepakatan Dagang

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (2/7), dengan S&P 500 dan Nasdaq ditutup pada rekor tertinggi. Indeks saham ini didorong oleh kenaikan saham teknologi serta kesepakatan dagang antara AS dan Vietnam, yang meredakan kekhawatiran atas ketegangan dagang yang berkepanjangan.

Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Merajalela, Terbang 3 Hari Beruntun

Mengutip Reuters, indeks S&P 500 (.SPX) menguat 29,41 poin atau 0,47 persen menjadi 6.227,42, sementara Nasdaq Composite (.IXIC) melonjak 190,24 poin atau 0,94 persen ke level 20.393,13. Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun tipis 10,52 poin atau 0,02 persen ke 44.484,42.

Di Bursa Efek New York, tercatat 358 saham mencetak harga tertinggi baru dan 41 saham mencapai titik terendah baru. Meski ditutup melemah, Dow Jones masih berada dalam jarak 1,18 persen dari rekor penutupan tertingginya pada 4 Desember.

Wall Street telah mencatatkan serangkaian rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan selera risiko investor yang tetap kuat di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian terkait inflasi, defisit, serta arah kebijakan moneter.

Nasdaq memperbarui rekor tertingginya dari 30 Juni, didorong oleh lonjakan saham Nvidia, Apple, dan Tesla. ETF berisiko tinggi TSLL yang memberikan imbal hasil harian dua kali lipat dari saham Tesla dan dirancang untuk perdagangan jangka pendek, menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan.

Kini, perhatian investor tertuju pada laporan non-farm payrolls yang akan dirilis Kamis (3/7) untuk mencari petunjuk tentang kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Ekonomi yang melemah, menurut Jim Awad, Direktur Senior Clearstead Advisors LLC di New York, merupakan “situasi yang penuh pertimbangan campuran,” jelasnya.

Pasar sempat dibuka melemah setelah laporan non-kunci menunjukkan bahwa sektor swasta AS secara tak terduga mengalami penurunan perekrutan di bulan Juni, sementara pertumbuhan lapangan kerja bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.

Namun, pasar berbalik arah menjelang siang setelah AS dan Vietnam mencapai kesepakatan dagang yang menetapkan tarif sebesar 20 persen untuk banyak komoditas ekspor dari negara Asia Tenggara tersebut.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa kesepakatan serupa dengan India akan segera diumumkan, meskipun beberapa negara lain dinilai belum siap sebelum batas waktu 9 Juli.

“Perkembangan dagang menjadi perhatian investor,” ujar Michael Arone, Kepala Strategi Investasi di State Street Global Advisors, Boston. “Ada rasa lega terkait kemajuan perdagangan. Kesepakatan dengan Vietnam adalah kabar yang disambut baik,” tambahnya.

Saham Tesla naik 5 persen setelah sebelumnya sempat anjlok awal pekan ini, meski laporan pengiriman kendaraan kuartal kedua menunjukkan penurunan tajam. Namun, beberapa pelaku pasar menilai angka tersebut masih lebih baik dari prediksi para analis yang pesimistis. Meski demikian, saham Tesla telah turun lebih dari 20 persen sepanjang tahun ini.

Sementara itu, saham perusahaan asuransi kesehatan Centene merosot 40 persen ke level terendah dalam delapan tahun terakhir, setelah perusahaan mencabut proyeksi pendapatan tahun 2025 akibat data yang menunjukkan penurunan signifikan dalam estimasi pendapatan dari layanan asuransi di marketplace mereka.

Fokus investor kini beralih ke laporan non-farm payrolls yang lebih komprehensif yang dirilis lebih awal dari biasanya karena pasar akan tutup pada 4 Juli untuk perayaan Hari Kemerdekaan AS.

Menurut jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, laporan tersebut diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS yang melambat di bulan Juni dan tingkat pengangguran yang naik ke 4,3 persen. “Investor kemungkinan berharap hal ini mendorong The Fed untuk segera memangkas suku bunga,” kata Michael.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebesar 16,95 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata harian 17,82 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Demo Ewf 

Selasa, 01 Juli 2025

Equityworld Futures | Pasar Asia-Pasifik ‘Mixed’ di Tengah Euforia Wall Street

Equityworld Futures | Pasar Asia-Pasifik ‘Mixed’ di Tengah Euforia Wall Street

Equityworld Futures | Pasar Asia-Pasifik bergerak ‘mixed’ pada Selasa (1/7/2025), saat investor mencerna reli bersejarah Wall Street dan dampak global dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, menjelang berakhirnya masa tenggang tarif 90 hari pada pekan depan.

Equityworld Futures | RUU Trump Melenggang, Harga Emas Terbang 1%

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya menyatakan bahwa beberapa negara “sedang bernegosiasi dengan itikad baik.” Namun, ia menegaskan tarif dapat kembali “melonjak” ke level yang diumumkan pada 2 April “jika kesepakatan gagal dicapai karena pihak lain bersikap keras kepala.”

Dikutip dari CNBC, indeks acuan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,03% setelah mencetak level tertinggi dalam 11 bulan pada sesi sebelumnya. Indeks Topix juga turun 0,56%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 1,67% sementara Kosdaq yang berkapitalisasi kecil menguat 0,66%.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,15%. Pasar di Hong Kong tutup karena hari libur umum.

Kontrak berjangka saham AS sempat melemah tipis di awal sesi Asia, setelah dua dari tiga indeks utama Wall Street mencetak rekor baru pada Senin malam waktu New York.

Indeks S&P 500 menguat 0,52% dan ditutup di 6.204,95, sementara Nasdaq Composite naik 0,47% ke rekor 20.369,73. Dow Jones Industrial Average melonjak 275,50 poin atau 0,63% ke 44.094,77.

Kenaikan Wall Street terjadi setelah Kanada secara tiba-tiba mencabut pajak layanan digitalnya untuk membuka jalan negosiasi dagang dengan AS. Sebelumnya, Trump mengancam menghentikan seluruh pembicaraan dagang dengan Ottawa. Pembayaran pertama pajak tersebut seharusnya mulai dilakukan pada Senin, dan akan berlaku bagi perusahaan seperti Google, Meta, dan Amazon.

Demo Ewf 

Senin, 30 Juni 2025

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi

Equityworld Futures | Pasar saham Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Wall Street menguat pada perdagangan yang berakhir Senin sore waktu setempat (Selasa pagi WIB).

Equityworld Futures | Harga Emas Akhirnya Bangkit, Tapi Pemilik Emas Dibuat Cemas Karena Ini

Wall Street menutup Juni dengan berbagai torehan rekor tertinggi. 

Indeks S&P 500 naik 0,52 persen dan mencatat rekor penutupan lainnya, dan berakhir pada 6.204,95. 

Lalu, indeks Nasdaq Composite naik 0,47 persen dan mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa, ditutup pada level 20.369,73. 

Sementara indeks Dow Jones Industrial Average naik 275,50 poin atau 0,63 persen dan menetap pada 44.094,77.

Kenaikan pasar saham pada hari Senin menyusul pencabutan pajak layanan digital oleh Kanada sebagai upaya untuk memfasilitasi negosiasi perdagangan dengan AS. 

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat mengatakan bahwa AS menghentikan semua diskusi tentang Perdagangan dengan Kanada. Pembayaran awal pajak tersebut akan dimulai pada hari Senin dan akan berlaku untuk perusahaan-perusahaan seperti Google, Meta, dan Amazon. 

Di sisi lain, para investor tengah menunggu pengumuman kesepakatan dagang antara AS dan mitra dagangnya, karena penangguhan tarif selama 90 hari dari Trump akan berakhir minggu depan. 

Pada hari Senin, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan ada negara-negara yang bernegosiasi dengan itikad baik. Namun, ia menambahkan bahwa jika kita tidak dapat mencapai kesepakatan karena mereka tidak patuh, tarif masih dapat ditingkatkan kembali ke tingkat yang diumumkan pada tanggal 2 April.

Adapun, Senin kemarin menandai hari terakhir bulan Juni, bulan ketika rata-rata saham utama mengalami pemulihan tajam kembali ke level rekor. 

Sedikit catatan, index S&P 500 naik hampir 5 persen dalam bulan tersebut, sementara Nasdaq yang sarat teknologi melonjak lebih dari 6 persen. Sedangkan, indeks Dow naik lebih dari 4 persen sepanjang bulan. 

Sebelum S&P 500 dan Nasdaq mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada hari Jumat, ketegangan perdagangan dan tarif global mengguncang pasar, menempatkan indeks pasar secara luas dalam jarak yang dekat dengan pasar yang melemah pada awal April. 

Ketiga indeks utama mengakhiri kuartal kedua dengan keuntungan yang solid, dengan S&P 500 bertambah lebih dari 10 persen, Nasdaq naik hampir 18 persen dan Dow melonjak hampir 5 persen.


Demo Ewf 

Kamis, 04 April 2024

Equityworld Futures | Rilis Laporan Pekerja hingga Harga Minyak Dunia Jadi Fokus Pasar, Wall Street Berakhir di Zona Merah

Equityworld Futures | Rilis Laporan Pekerja hingga Harga Minyak Dunia Jadi Fokus Pasar, Wall Street Berakhir di Zona Merah


Equityworld Futures | Bursa saham AS atau Wall Street berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (4/4/2024) waktu setempat. Pelemahan indeks terjadi usai laporan pekerja Maret dirilis. 

Sentimen lain yang memperburuk pasar adalah lonjakan harga minyak dunia, dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menunda penurunan suku bunga. 


Equityworld Futures | Setelah 4 Hari Cetak Rekor, Harga Emas Akhirnya Turun


Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 530,16 poin, atau 1,35 persen. &P 500 melemah 1,23 persen, dan Nasdaq Komposit yang terkoreksi 1,4 persen. 

Ketiga indeks rata-rata utama mengalami penurunan tajam di akhir sesi, atau turun lebih dari 2 persen dari nilai tertinggi intradaynya.


Harga minyak mentah melonjak pada hari Kamis, yang bertepatan dengan pembalikan stok. Minyak WTI mencapai 86 dollar AS per barrel dan mencapai level tertinggi sejak Oktober. Kenaikan harga minyak dunia ini meningkatkan kekhawatiran mengenai harga energi yang mendorong kenaikan inflasi. 


Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari juga berkomentar pada Kamis sore bahwa ia bertanya-tanya apakah bank sentral harus memangkas suku bunga jika inflasi tetap stabil. 


Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik dari posisi terendah sesi ini karena komentar Kashkari itu. Pada perdagangan terakhir Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di 4,3 persen. Patokan imbal hasil Treasury sempat menyentuh 4,429 persen pada hari Rabu, yang merupakan level tertinggi baru untuk tahun ini.


“Investor saat ini sedang mengambil sikap menunggu dan melihat,” kata kepala strategi investasi CFRA Research Sam Stovall, dikutip dari CNBC. 


“Imbal hasil (yield) 10 tahun adalah kekuatan pendorong utama karena kekhawatiran The Fed yang menyiratkan bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunganya, dan oleh karena itu menegaskan bahwa The Fed akan lebih lambat dalam menurunkan suku bunga,” tambah dia.


Stovall menambahkan, pasar sejauh ini masih mahal, mengingat S&P 500 diperdagangkan dengan premi 33 persen dari rata-rata jangka panjangnya. 

“Saya pikir ini hanya masalah waktu, sebelum kita akhirnya mencerna sebagian dari keuntungan ini,” tambah dia. 


Dalam pekan ini, S&P 500 turun 2 persen, dimana dalam tiga hari terakhir berada di zona merah. 30 saham Dow telah kehilangan sekitar 3 persen minggu ini, sementara Nasdaq merosot 2 persen hingga penutupan Kamis. 


Ketua Fed Jerome Powell pada hari Rabu menyatakan bahwa meskipun masih ada ruang untuk penurunan suku bunga tahun ini, para pembuat kebijakan memerlukan lebih banyak bukti bahwa inflasi bergerak menuju pedoman bank sentral sebesar 2 persen sebelum suku bunga dapat diturunkan.


Equityworld Futures | Setelah 4 Hari Cetak Rekor, Harga Emas Akhirnya Turun

Equityworld Futures | Setelah 4 Hari Cetak Rekor, Harga Emas Akhirnya Turun


Equityworld Futures | Harga emas terpantau melemah pada perdagangan Kamis (4/4/2024), setelah selama empat hari beruntun mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya.


Equityworld Futures | Setelah 4 Hari Cetak Rekor, Harga Emas Akhirnya Turun


Merujuk data Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 2.289,43 per troy ons atau melemah 0,42%. Dengan ini, maka emas yang sebelumnya mencetak rekor selama empat hari beruntun pun resmi terhenti.


Pelemahan ini juga mengakhiri rally panjang emas selama tujuh hari berhenti dengan penguatan harga menembus 6,3%.


Namun pada Jumat pagi hari ini sekitar pukul 06:07 WIB, harga emas kembali menguat tetapi tipis-tipis yakni 0,06% menjadi US$ 2.290,89 per troy ons. Tetapi, pada pagi hari ini masih berada di bawah harga rekor terakhir di US$ 2.299,17 atau nyaris menyentuh level psikologis US$ 2.300 per troy ons.


Reli harga emas terhenti kemarin karena investor mulai melakukan akumulasi setelah terus mencetak rekor tertingginya. Selain itu, investor menanti kejelasan lebih lanjut mengenai waktu pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).


Hal ini terjadi setelah beberapa pejabat The Fed masih bernada hawkish, meski Ketua The Fed, Jerome Powell sebelumnya sempat meyakinkan pelaku pasar akan jalur pemangkasan suku bunga The Fed.


Sebelumnya pada Kamis kemarin, Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan bank sentral AS memiliki "waktu untuk menghilangkan masalah" inflasi sebelum mulai menurunkan suku bunga.


Sementara pada Rabu lalu, para pejabat The Fed termasuk Ketua The Fed, Jerome Powell tetap berpegang pada strategi penurunan suku bunga yang hati-hati.


"Ini merupakan kelanjutan dari gagasan... yang disebarkan oleh pidato Powell beberapa hari yang lalu bahwa Federal Reserve bersiap untuk menurunkan suku bunganya," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities, dikutip dari Reuters.


Pejabat The Fed termasuk Powell pada Rabu lalu terus berfokus pada perlunya lebih banyak perdebatan dan data sebelum suku bunga diturunkan, sebuah langkah yang diperkirakan pasar keuangan akan terjadi pada bulan Juni.


Namun, peluang The Fed untuk memangkas suku bunga acuan pertama kali di pertemuan Juni kembali meningkat. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar saat ini melihat peluang sebesar 64,7% untuk penurunan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Juni mendatang.


Sementara itu, harga emas mulai melandai setelah dirilisnya data klaim pengangguran mingguan untuk periode pekan yang berakhir 30 Maret 2024.


Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran negara meningkat menjadi 221.000 untuk pekan yang berakhir pada tanggal 30 Maret dibandingkan perkiraan 214.000 yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters


Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja mulai melambat, yang mendukung target penurunan suku bunga The Fed sebanyak tiga kali pada tahun ini.


Saat ini, fokus investor tertuju pada perilisan data penggajian non-pertanian (non-farm payroll/NFP) dan tingkat pengangguran untuk periode Maret 2024.


Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan NFP untuk periode Maret lalu akan turun menjadi 200.000, dari sebelumnya sebesar 275.000 di Februari, sementara tingkat pengangguran kemungkinan akan tetap stabil di 3,9%.


Di lain sisi, pembelian yang kuat masih terjadi dari beberapa bank sentral dan arus masuk aset-aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik telah meningkatkan permintaan emas, membantu mendorong harga emas melesat lebih dari 25% sejak Oktober 2023.


"Ini sangat overbought (jenuh beli) dan perlu adanya koreksi untuk meredakan ketegangan. Menurut pandangan saya, pemangkasan suku bunga The Fed sudah diperhitungkan," kata analis StoneX, Rhona O'Connell, dilansir dari Reuters.