Senin, 21 November 2022

Equity World | Awal Pekan Bursa Asia Loyo, Cuma Nikkei yang Bergairah

Equity World | Awal Pekan Bursa Asia Loyo, Cuma Nikkei yang Bergairah

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup terkoreksi pada perdagangan Senin (21/11/2022) awal pekan ini, di tengah meningkatnya kembali kekhawatiran Covid-19 di China

Equity World | Searah dengan Bursa Regional, IHSG Dibuka Menguat 0,12%

Hanya indeks Nikkei 225 Jepang yang ditutup di zona hijau pada hari ini, yakni menguat 0,16% ke posisi 27.944,79.

Sedangkan sisanya berakhir di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup ambles 1,87% ke posisi 17.655,91, Shanghai Composite China melemah 0,39% ke 3.085,04, Straits Times Singapura terkoreksi 0,66% ke 3.250,62, ASX 200 Australia turun 0,17% ke 7.139,3, KOSPI Korea Selatan merosot 1,02% ke 2.419,5, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terdepresiasi 0,27% menjadi 7.063,25.

Dari China, bank sentral (People Bank of China/PBoC) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga loan prime rate (LPR) acuannya hari ini.

Suku bunga LPR tenor satu tahun bertahan di level 3,65%, sedangkan LPR lima tahun berada di 4,3%. Hal ini sesuai dengan prediksi pasar dalam survei Reuters.

Sebelumnya, PBoC terakhir kali memangkas suku bunga LPR-nya pada Agustus lalu, sehingga PBoC telah menahan suku bunga acuanya selama 3 bulan terakhir.

Langkah PBoC ini terjadi di tengah banyaknya bank sentral yang telah bersikap hawkish dengan menaikkan suku bunga acuannya demi menjinakkan inflasi yang masih memanas.

Namun, mata uang yuan offshore melemah di 7,1376 terhadap dolar AS menjelang keputusan suku bunga PBoC pagi hari ini.

Masih dari China, pada Minggu kemarin, menemukan kematian baru pertamanya akibat Covid-19 dalam hampir setengah tahun. Hal ini terjadi tatkala langkah-langkah baru yang ketat diberlakukan di Beijing dan di seluruh negeri untuk menangkal gelombang infeksi terbaru.

Kematian pria Beijing berusia 87 tahun adalah yang pertama dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Nasional sejak 26 Mei, sehingga jumlah total kematian menjadi 5.227. Sebelumnya, kematian terdeteksi di Shanghai dalam gelombang wabah pada musim panas lalu.

Sementara China memiliki tingkat vaksinasi keseluruhan lebih dari 92% untuk takaran satu dosis, jumlah itu jauh lebih rendah di kalangan orang tua. Ini terutama bagi golongan yang berusia di atas 80 tahun.

"Komisi tidak memberikan perincian tentang status vaksinasi orang yang meninggal," lapor media Channel News Asia.

Hampir 3 tahun setelah pandemi, sementara sebagian besar dunia telah terbuka dan dampaknya terhadap ekonomi China mulai semakin terasa, Beijing justru tetap menutup perbatasannya dan melarang perjalanan bahkan di dalam negeri.

Di ibu kota Beijing, penduduk diberitahu untuk tidak melakukan perjalanan antardistrik kota, dan sejumlah besar restoran, toko, mal, gedung perkantoran. Sejumlah blok apartemen juga telah ditutup atau diisolasi.

Adapun, China pada Minggu kemarin mengumumkan 24.215 kasus baru. Kasus ini sebagian besar dari warga yang tidak merasakan gejala.

Di lain sisi, investor juga cenderung merespons negatif dari pernyataan beberapa pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) yang menyatakan bahwa kenaikan suku bunga masih akan terjadi dalam beberapa waktu kedepan.

Sejak Kamis pekan lalu, Presiden The Fed St Louis, James Bullard mengatakan dalam pidatonya Kamis bahwa "tingkat kebijakan belum berada di zona yang dapat dianggap cukup membatasi (tingginya inflasi)."

Sedangkan menurut pemimpin The Fed Boston, Susan Collins mengatakan bahwa dengan sedikit bukti tekanan harga berkurang. The Fed mungkin perlu memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin (bp) lagi ketika berupaya mengendalikan inflasi.

Kini, pasar menanti, mengamati, hingga mencerna berbagai pernyataan pejabat The Fed berkaitan dengan sinyal kenaikan suku bunga.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, probabilitas suku bunga naik 50 (bp) menjadi 4,25% - 4,5% pada Desember kini sebesar 75,8%, sementara naik 25 bp menjadi 4,5 - 4,75% sebesar 24,2%.

Saat pelaku pasar percaya bahwa The Fed akan tetap agresif, perdagangan saham-saham yang rentan terhadap resesi dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi patut dicermati.

Bank sentral Negeri Paman Sam tersebut juga mengakui sulit untuk menghindarkan perekonomian dari resesi atau soft landing.

Ketua The Fed, Jerome Powell menambahkan untuk bisa menghindarkan perekonomian AS dari resesi di 2023 adalah pekerjaan yang sangat berat, sebab suku bunga masih perlu dinaikkan tinggi guna meredam inflasi.

Rabu, 16 November 2022

Equity World | Investor Nanti Keputusan BI, IHSG Dibuka Merah

Equity World | Investor Nanti Keputusan BI, IHSG Dibuka Merah

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah dan terlempar dari zona 7.000 pada Kamis (17/11/2022). IHSG drop 0,44% di 6.986,75 pada 09.05 WIB.

Equity World | Saham Blue Chip Loyo, IHSG Tak Bertenaga di Sejam Perdagangan

Tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup melemah pada perdagangan Rabu (16/11) waktu New York. Pelemahanini terjadi setelah data penjualan ritel yang lebih kuat dari perkiraan membuat investor Kembali khawatir terhadap jalur kenaikan suku bunga yang akan diambil The Fed pada pertemuan selanjutnya. Selain itu, sejumlah perusahaan juga melaporkan kinerja yang suboptimal dan outlook yang kurang menjanjikan.

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,12%. S&P 500 terdepresiasi 0,83% dan indeks padat teknologi Nasdaq anjlok 1,54%.

Investor tampaknya mencoba memastikan seberapa tangguh konsumen dan bisnis terhadap tekanan harga dan biaya pinjaman yang tinggi. Data hari Rabu menunjukkan penjualan ritel AS pada Oktober naik 1,3% dari bulan sebelumnya, di atas konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 1,2%.

The Fed telah secara agresif menaikkan suku bunga tahun ini untuk memperlambat perekonomian. Namun sejauh ini, belanja konsumen tetap relatif kuat, sementara suku bunga yang lebih tinggi membutuhkan waktu untuk mempengaruhi perekonomian.

Presiden The Fed Kansas City Esther George memperingatkan bahwa bank sentral mungkin tidak dapat mendinginkan inflasi tanpa menyebabkan resesi. Data produksi industri yang baru dirilis menunjukkan aktivitas yang melambat, menambah kekhawatiran bahwa bisnis padat modal sedang berjuang untuk menghadapi suku bunga yang lebih tinggi.

Investor dan pelaku pasar patut menyimak sejumlah isu penting yang dapat menjadi sentimen pasar utama perdagangan hari ini, khususnya pengumuman kebijakan moneter terbaru dari Bank Indonesia (BI).

Bank Indonesia (BI) yang telah melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) sejak Rabu (16/11) kemarin, dijadwalkan akan mengumumkan siklus baru kenaikan suku bunga hari ini pada pukul 14.00 WIB.

Konsensus analis dan ekonom memproyeksikan BI akan melanjutkan kebijakan agresifnya bulan ini. BI diramal kembali mengerek BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis points (bps), berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia.

Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, delapan memperkirakan kenaikan 50 basis points (bps) menjadi 5,25%, dengan enam lainnya memprediksi kenaikan 25 bps menjadi 5,00%.

Keputusan ini merupakan siklus keempat beruntun, sebelumnya BI sudah mengerek suku bunga acuan sebesar 125 bps hanya dalam waktu tiga bulan, masing-masing sebesar 25 bps pada Agustus, 50 bps pada September, dan 50 bps pada Oktober.

Sementara itu pada Oktober 2022 atau sebelum pengumuman terbaru BI siang ini, posisi suku bunga acuan BI berada di 4,75% sementara suku bunga Deposit Facility sebesar 4,00%, dan suku bunga Lending Facility ada di 5,50%.

Kenaikan suku bunga hari ini dapat menjadi suntikan tenaga baru bagi rupiah yang dalam tiga hari terus K.O. terus melawan dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun RI kembali melaporkan surplus neraca perdagangan pada Oktober 2022 dan memperpanjang rekor menjadi 30 bulan.

Selasa, 15 November 2022

Equity World | Bursa Asia Melempem, IHSG Dibuka Melemah

Equity World | Ditutup menguat sebesar 16 poin (0,23%) ke level 7.035, IHSG dibuka melemah 4,92 poin (0,07%) di posisi 7.030,5 pada perdagangan sesi I, Rabu (16/11/2022). IHSG hari ini bergerak mixed pada rentang 7.000-7.046. Searah dengan pergerakan bursa asia yang melempem. 

Equity World | Wall Street Ditutup Melemah, Investor Pantau Kebijakan The Fed

Tercatat sebanyak 3,07 miliar saham telah diperdagangkan di menit-menit awal, dengan nilai perdagangan sebesar Rp 1,54 triliun dan frekuensi perdagangan baru mencapai 143.760 kali transaksi. Sebanyak 185 saham diperdagangkan mencatatkan kenaikan, 207 saham terkoreksi, dan 199 saham stagnan.

Pergerakan IHSG searah dengan saham di Asia-Pasifik jatuh pada hari Rabu karena para pemimpin dunia berkumpul di Bali, Indonesia untuk hari kedua KTT G20. Pihak berwenang Polandia mengatakan sebuah rudal buatan Rusia menewaskan dua warga, yang oleh Presiden Andrzej Duda digambarkan sebagai ‘insiden yang terisolasi’, menambahkan penyelidikan sedang dilakukan.

Nikkei 225 di Jepang turun 0,76% dan Topix turun 0,56%. Kospi di Korea Selatan tergelincir 1,08% dan S&P/ASX 200 (Australia) turun 0,43%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng dan indeks Hang Seng Tech turun sekitar 1% pada awal perdagangan. Komposit Shanghai Tiongkok Daratan   fraksional lebih rendah dan Komponen Shenzhen tergelincir 0,289%. Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,65%.

Bursa Amerika Serikat ditutup Menguat. Dow Jones ditutup 33.592,92 (0,19%), NASDAQ ditutup 11.358,41 (1,45%), S&P 500 ditutup 3.991,73 (0,87%). Indeks utama Wall Street menguat di akhir perdagangan Selasa didorong oleh data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan.

Hal ini meningkatkan harapan pelonggaran kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Saham Walmart Inc naik 6.5% setelah peritel AS itu menaikkan perkiraan penjualan dan laba tahunannya, diuntungkan dari permintaan bahan makanan yang stabil meskipun harga lebih tinggi. Saham Home Depot naik 1.6% setelah hasil rantai perbaikan rumah menunjukkan harga yang lebih tinggi untuk mengatasi penurunan transaksi pelanggan untuk kuartal III-2022.

Prediksi Analis

Phintraco Sekuritas menyebut IHSG berpotensi rebound ke kisaran pivot 7.050-7.080 pada perdagangan Rabu (16/11/2022). IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak pada resistance 7.100, pivot 7.050, dan support 6.980. Deretan saham ini disebut bakal cemerlang hari ini. Salah satunya AKRA.

Phintraco Sekuritas menjelaskan, indeks-indeks Wall Street menguat di Selasa (15/11/2022) dipimpin oleh Nasdaq (1,45%). US Producer Price Index turun ke 8% yoy di Oktober 2022, dari 8,4% yoy di September 2022 dan lebih rendah dari perkiraan (8,3% yoy).

“Data ini memperkuat keyakinan pasar terhadap pernyataan sejumlah petinggi The Fed yang mengindikasikan perlambatan laju kenaikan The Fed Rate dalam waktu dekat,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (16/11/2022).

Phintraco Sekuritas menambahkan, pertemuan Presiden AS, Joe Biden dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping terbaru berpotensi memperbaiki hubungan bilateral kedua negara. “IHSG berpotensi rebound ke kisaran pivot 7.050-7.080 pada hari ini,” tambah Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas memperkirakan, Bank Indonesia (BI) kembali menaikan sukubunga acuan dalam RDG 17 November 2022. Akan tetapi, kenaikan kali ini mungkin tidak seagresif dua pertemuan terakhir. Meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan mulai mengurangi laju kenaikan The Fed Rate berpotensi mendorong penguatan lanjutan Rupiah

Phintraco Sekuritas merekomendarikan deretan saham bakal cemerlang pada hari ini. Deretan saham tersebut adalah AKRA, ITMG, BSDE, INDF, TOWR, AMRT, ADMR, EMTK dan SSMS.

Senin, 14 November 2022

Equity World | Harga Emas Turun Akibat Pernyataan Pejabat The Fed

Equity World | Harga Emas Turun Akibat Pernyataan Pejabat The Fed

Equity World | Harga emas turun setelah pekan lalu melesat ke level tertinggi sejak Agustus 2022. Senin (14/11) pukul 14.00 WIB, harga emas spot melemah 0,51% ke US$ 1.762,14 per ons troi dari akhir pekan lalu US$ 1.771,24 per ons troi.

Equity World | Bursa Asia Dibikin Galau Oleh Momen Rilis Data Ekonomi China

Harga emas kontrak Desember 2022 di Commodity Exchange turun 0,28% ke US$ 1.763,50 per ons troi. Akhir pekan lalu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) ini berada di US$ 1.769,40 per ons troi.

Pelemahan harga emas hari ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar AS dan imbal hasil US Treasury. Anggota dewan gubernur Federal Reserve Christopher Waller memperingatkan bahwa Federal Reserve tidak melunakkan perjuangannya melawan inflasi meski ada sinyal perlambatan laju kenaikan suku bunga.

"Emas lebih rendah sebagai reaksi terhadap Waller yang mendorong reaksi pasar terhadap pelemahan inflasi karena hanya satu titik data tidak menunjukkan inflasi telah dijinakkan," kata Stephen Innes, Managing Partner, SPI Asset Management kepada Reuters.

Hari Minggu (13/11), Waller mengatakan bahwa The Fed mungkin mempertimbangkan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Tetapi rencana ini tidak boleh dilihat sebagai pelunakan pertempuran melawan inflasi.

Sebuah survei menunjukkan bahwa sentimen konsumen AS turun pada November, ditarik oleh kekhawatiran terus-menerus tentang inflasi dan biaya pinjaman yang lebih tinggi. Kontrak berjangka sekarang memperkirakan peluang 89% dari kenaikan suku bunga 50 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Desember.

Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. 

Indeks dolar naik 0,5% setelah jatuh ke level terendah dalam hampir tiga bulan pada hari Jumat. Penguatan dolar AS membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik tipis dari level terendah satu bulan.

Harga emas membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2020 pekan lalu, setelah tanda-tanda pendinginan inflasi AS mengangkat harapan bahwa Fed bisa kurang hawkish pada kenaikan suku bunga. 

Minggu, 13 November 2022

Equity World | Aset Berisiko Makin Mempesona, Dolar AS Diproyeksi Melemah di Pekan Ini

Equity World | Aset Berisiko Makin Mempesona, Dolar AS Diproyeksi Melemah di Pekan Ini

Equity World | Dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi kembali melemah di pekan ini,. Hal tersebut membuat aset mata uang non-dolar AS kian menarik. Sebagai gambaran, di pekan lalu, dolar AS melemah terhadap rupiah, mengingat nilai tukar Garuda ditutup menguat 1,56% ke Rp 15.495 pada Jumat (11/11).

Equity World | Pasar Masih Optimis, Bursa Asia Dibuka Bergairah Lagi

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, pelemahan dolar AS membuat minat pelaku pasar terhadap aset-aset berisiko kembali meningkat. 

Hal itu terlihat dari penguatan sejumlah mata uang, seperti euro (EUR), poundsterling (GBP), dan yen Jepang (JPY). Di sisi lain, kenaikan harga komoditas seperti emas dan minyak mentah juga terjadi.

Pada Jumat (11/11), nilai tukar EUR-USD menguat 1,35% ke 1,0347, GBP-USD naik 0,97% ke 1,1830, dan JPY-USD terkerek 1,56% ke 0,0072.

Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Januari 2023 di ICE Futures ditutup naik 2,48% ke US$ 95,99 per barel dan harga emas spot terkerek 0,9% menjadi US$ 1.771,24 per ons troi pada Jumat (11/11).    

Untuk pekan depan, Nanang memprediksi kurs dolar AS masih akan lanjut melemah. Di mana, rupiah menguji level Rp 15.400, lalu ke kisaran Rp 15.390-Rp 15.300 per dolar AS. Jika jebol, maka rupiah berpotensi melaju ke level Rp 15.100 per dolar AS.

Menurut Nanang, potensi pelemahan kurs dolar AS didorong oleh ancaman resesi yang berkurang seiring dengan menyusutnya inflasi AS.

Itu terjadi seiring penurunan tingkat inflasi AS yang membuat pasar berekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunganya.

The Fed pun diproyeksi mengerek suku bunga hanya 50 basis points (bps). Padahal sebelumnya, The Fed diprediksi masih akan mengerek suku bunga 75 bps.

Euforia inflasi AS yang lebih rendah masih akan menghiasi pergerakan kurs dolar AS ke depannya. Sebagaimana diketahui, inflasi AS pada Oktober 2022 sebesar 7,7% secara year on year (YoY), berkurang dari bulan sebelumnya yang berada di 8,2% yoy.

Pelaku pasar juga akan menanti rilis data penjualan retail AS serta menunggu penyelenggaraan FOMC Minutes bulan November 2022 untuk melihat gambaran arah kebijakan moneter The Fed ke depannya.

"The Fed akan meninjau kembali rencana kenaikan suku bunga 75 bps dengan menyesuaikan data ketenagakerjaan dan inflasi terbaru. Kalau The Fed masih akan tetap menaikkan suku bunga 75 bps, maka kurs dolar AS akan kembali menguat," tutur Nanang saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (13/11).

Seiring dengan masih tingginya ketidakpastian, Nanang menyarankan pelaku pasar yang tertarik pada mata uang non-dolar untuk berinvestasi dalam jangka pendek terlebih dahulu. Kurs EUR-USD diprediksi dapat lanjut menguat ke level 1,0500-1,0600, lalu GBP-USD menguat ke 1,2000, dan JPY-USD menguat ke 0,0098 per dollar AS.

Analis DCFX Futures Lukman Leong menambahkan, dolar AS masih akan susah rebound seiring dengan sentimen pasar yang kurang mendukung the greenback. Oleh sebab itu, kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi di aset mata uang non-dolar AS.

"Strategi investasi adalah dengan menghindari dolar AS paling tidak saat ini, namun tetap mesti selektif pada tujuan investasi mata uang lainnya," ucap Lukman.

Menurutnya, dolar Australia (AUD) dan yen menarik untuk dilirik. Penguatan kurs dolar Australia akan didorong oleh sentimen Australia yang mencatatkan rekor surplus perdagangan. 

Sementara untuk yen, meski cenderung spekulatif, namun nilai tukar mata uang ini diprediksi akan terdorong oleh pemerintah Jepang yang berencana menyesuaikan kebijakan kontrol imbal hasil yang selama ini menekan nilai yen Jepang.

Mata uang tetangga, yakni dolar Singaoura (SGD) juga diperkirakan akan menguat besar, mengingat SGD merupakan safe haven alternatif.

"Singapura memiliki peringkat kredit triple-A, surplus transaksi berjalan yang signifikan, dan cadangan mata uang asing yang sangat besar," tutur Lukman.

Di sisi lain, Lukman tidak terlalu melihat prospek cerah pada EUR dan GBP. Menurutnya, banyak kelemahan pada keduanya untuk mengalami rebound signifikan. 

Kamis, 10 November 2022

Equity World | Bursa Asia Menguat, Mengekor Kenaikan Wall Street

Equity World | Bursa Asia Menguat, Mengekor Kenaikan Wall Street

Equity World | Mayoritas bursa Asia menguat pada perdagangan Jumat (11/11) pagi. Pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 naik 771,59 poin atau 2,82% ke 28.219,97, Hang Seng naik 1.039,01 poin atau 6.46% ke 17.120,05, Taiex naik 524,29 poin atau 3,86% ke 14.030,14, Kospi naik 70,41 poin atau 2,89% ke 2.471,96, ASX 200 naik 189,88 poin atau 2,74% ke 7.155,10, Straits Times naik 62,10 poin atau 1,94% ke 3.236,62 dan FTSE Malaysia naik 14 poin atau 0,97% ke 1.463,90.

Equity World | Wall Street Melejit, IHSG Bisa Bangkit?

Kenaikan bursa Asia mengekor kenaikan Wall Street, setelah data inflasi AS yang dirilis Kamis (10/11) malam menunjukkan lebih lambat dari perkiraan. Hal ini memicu taruhan bahwa Federal Reserve akan memoderasi jalur kenaikan suku bunga yang agresif.

Mengutip Bloomberg, saham di Jepang, Korea dan Australia naik. 

Para trader menurunkan peluang kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan The Fed Desember menjadi hampir nol.

Sementara oti, saham China yang terdaftar di bursa AS juga melonjak pada Kamis, didorong oleh desakan para pemimpin Beijing tentang pengendalian Covid-19 yang lebih tepat sasaran.

"Kinerja sektor AS harus menjadi panduan untuk ekuistas Asia," kata Chamath De Silva, manajer portofolio senior BetaShares Holdings seperti dikutip Bloomberg.

"Kami melihat kinerja yang lebih baik dari sektor yang paling terpukul akhir-akhir ini, yaitu sektor teknologi, kebijakan konsumen dan eksposur sensitif seperti tingkat REIT."

Rabu, 09 November 2022

Equity World | Pasar Asia Pasifik Jatuh karena Sentimen Inflasi AS

Equity World | Pasar Asia Pasifik Jatuh karena Sentimen Inflasi AS

Equity World | Saham di Asia Pasifik jatuh pada pembukaan perdagangan Kamis (10/11) waktu investor menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS). Metrik utama ini yang selalu diawasi ketat oleh Federal Reserve (Fed), sementara hasil pemilihan umum (pemilu) tengah semester di AS terus bergulir.

Equity World | Bursa Asia Ditutup Beragam, Setelah Inflasi China Dirilis

Nikkei 225 di Jepang turun 0,9% di awal perdagangan dan Topix turun 0,65%. Di Korea Selatan, Kospi turun 0,53%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2%.

Di Australia, S&P/ ASX 200 turun 0,43%.

Produsen chip Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dijadwalkan untuk melaporkan pendapatan hari ini di hari yang sama dengan pemasok Apple, Foxconn.

Semalam di Wall Street, saham ditutup lebih rendah karena hasil pemilihan tidak memberikan jawaban yang jelas tentang siapa yang akan mengendalikan Kongres. Aksi jual aset kripto juga membebani pasar.

Para ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) Oktober naik 0,6% dari September, menurut jajak pendapat Dow Jones.

Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 600 poin, atau hampir 2%. S&P 500 turun sekitar 2%, dan Nasdaq Composite turun sekitar 2,5%.