Senin, 16 Maret 2026

Equityworld Futures | Bursa Asia Menguat Selasa (17/3) Pagi, Usai Harga Minyak Turun dan Wall Street Naik

Equityworld Futures | Bursa Asia Menguat Selasa (17/3) Pagi, Usai Harga Minyak Turun dan Wall Street Naik

Equityworld Futures | Pasar saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada Selasa (17/3/2026) pagi, setelah Wall Street menguat semalam seiring meredanya harga minyak, meski investor tetap memantau ketegangan di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Deg-degan

Kenaikan pasar terjadi di tengah kabar bahwa Presiden AS Donald Trump berencana menunda pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping selama “satu bulan atau lebih” akibat konflik di Iran. Pertemuan awalnya dijadwalkan pada akhir Maret.

Harga Minyak Meredam Kekhawatiran

Harga minyak turun signifikan pada perdagangan Senin (16/3/2026), minyak mentah Brent turun 2,84% ke level US$100,21 per barel.

Sedangkan, minyak metah West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,28% menjadi US$93,50 per barel.

Pada perdagangan Selasa pagi, harga kembali menguat: Brent naik 1% menjadi US$101,58, sedangkan WTI naik 2% ke $95,47 per barel.

Turunnya harga minyak memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk pulih setelah minggu sebelumnya bergejolak.

Pasar Saham Asia Menguat

Melansir data CNBC, Indeks saham utama Asia menunjukkan penguatan di berbagai negara:

Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,27%, menjelang prediksi kenaikan suku bunga kedua secara berturut-turut oleh bank sentral Australia menjadi 4,1%, level tertinggi sejak April 2025.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,75%, sementara Topix melonjak lebih dari 1%.

Indeks Kospi Korea Selatan menguat 2,94%, dengan Kosdaq (small-cap) naik 1,53%.

Saham produsen memori SK Hynix dan Samsung Electronics masing-masing naik lebih dari 3% dan 4%.

Kenaikan ini terkait pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, pada konferensi pengembang GTC, yang memperkirakan pemesanan chip Blackwell dan Vera Rubin akan mencapai $1 triliun hingga 2027.

Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng ditetapkan di 25.894, sedikit di atas penutupan terakhir 25.834,02.

Semalam, Wall Street mencoba pulih dari minggu yang merugi: Dow Jones naik 387,94 poin (0,83%) ke 46.946,41, S&P 500 bertambah 1,01% menjadi 6.699,38, dan Nasdaq Composite menguat 1,22% dan ditutup di 22.374,18. 

Profil Perusahaan

Minggu, 15 Maret 2026

Equityworld Futures | Mengekor Wall Street, IHSG Loyo

Equityworld Futures | Mengekor Wall Street, IHSG Loyo

Equityworld Futures | Indeks bursa Wall Street kembali ditutup melemah. Itu menyusul lonjakan harga minyak mentah dikhawatirkan mendorong lonjakan inflasi, dan menekan perekonomian. Akhir pekan lalu harga minyak jenis WTI melejit 3,81 persen menjadi USD98,71 per barel, dan Brent menguat 2,67 persen menjadi USD103,14 per barel. 

Equityworld Futures | Kenapa Harga Emas Tak Banyak Gerak saat Perang Iran vs AS-Israel?

Kenaikan harga minyak kembali terjadi setelah sempat mengalami koreksi setelah pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh. Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menegaskan AS akan menangani penutupan Selat Hormuz sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Koreksi Wall Street seiring kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Wacana pennaikan batas defisit APBN dari maksimal 3 persen berpeluang menjadi tambahan sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, indeks diprediksi melanjutkan pelemahan. Sepanjan perdagangan hari ini, Senin, 16 Maret 2026, indeks akan menyusuri kisaran support 7.000-6.865, dan area resistance 7.275-7.410. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham ADMR, PTBA, INDY, AADI, ITMG, dan AKRA sebagai bahan koleksi.

Profil Perusahaan

Jumat, 13 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Menguat Terbatas, Inflasi Energi Masih Menahan Reli

Equityworld Futures | Emas Menguat Terbatas, Inflasi Energi Masih Menahan Reli

Equityworld Futures | Harga emas menguat pada perdagangan Asia Jumat(13/3), tetapi masih mengarah ke penurunan mingguan kedua berturut-turut seiring pasar menilai risiko inflasi yang dipicu energi tetap tinggi akibat perang AS-Israel di Iran. Penguatan harian terjadi saat dolar dan minyak menghentikan kenaikannya, setelah AS mengumumkan tambahan pengecualian untuk minyak mentah Rusia guna meredam guncangan pasokan dari Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Melorot Tajam, Harga Perak Ikut Amblas

Emas spot naik 0,6% ke US$5.109,46/oz, sementara emas berjangka turun 0,3% ke US$5.111,84/oz. Secara mingguan, emas spot diperkirakan turun sekitar 1,2%, tetap bergerak dalam rentang US$5.000–US$5.200/oz sejak perang dimulai, dan masih kesulitan pulih setelah turun dari rekor mendekati US$5.600/oz pada akhir Januari.

Dukungan safe-haven dari geopolitik sebagian tertahan oleh perubahan ekspektasi suku bunga, karena pasar khawatir minyak tinggi bisa menjaga inflasi global lebih “lengket” dan mendorong bank sentral bersikap lebih ketat lebih lama. Ini membuat pasar semakin mengurangi harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat, dengan The Fed secara luas diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Fokus berikutnya adalah rilis inflasi PCE AS untuk petunjuk arah kebijakan, meski data Januari dinilai belum menangkap dampak perang pada energi. Di logam lain, perak spot naik 0,7% ke US$84,3275/oz dan platinum spot naik 0,5% ke US$2.143,21/oz.

Yang dipantau pasar: arah minyak pasca kebijakan pasokan (termasuk pengecualian minyak Rusia), pergerakan dolar dan yield, serta bagaimana PCE membentuk pricing suku bunga menuju rapat The Fed.


Profil Perusahaan

Kamis, 12 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Turun Dua Hari, Inflasi AS Redam di Tengah Lonjakan Minyak

Equityworld Futures | Emas Turun Dua Hari, Inflasi AS Redam di Tengah Lonjakan Minyak

Equityworld Futures | Harga emas melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah data inflasi AS meredupkan prospek penurunan suku bunga, sementara perang di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan kembali mengangkat kekhawatiran inflasi ke depan. Emas sempat turun hingga 1% setelah melemah 0,3% pada sesi sebelumnya, seiring indeks dolar menguat hingga 0,3% dan pasar memangkas ruang pelonggaran kebijakan The Fed dalam jangka pendek.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Turun ke USD 5.170 per Ons

Tekanan pada emas juga datang dari dinamika likuiditas. Ketika volatilitas meningkat, emas kerap menjadi sumber dana untuk menutup kebutuhan portofolio, meski fungsi safe-haven belum hilang. Di pasar energi, Brent kembali melampaui US$100 per barel pada Kamis, dengan kekhawatiran konflik berkepanjangan dinilai lebih dominan ketimbang rencana pelepasan cadangan darurat terbesar oleh negara-negara maju; AS disebut akan melepas 172 juta barel dari cadangan daruratnya. Arus ETF emas dilaporkan menurun sejak perang pecah, meski ada arus masuk lagi pada Selasa setelah aksi jual mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Pada pukul 12:10 siang di Singapura, emas spot turun 0,5% menjadi US$5.151,82 per ons. Perak turun 1% menjadi US$84,89, platinum melemah, sementara paladium naik, dan Indeks Spot Dolar Bloomberg naik 0,2%.

Profil Perusahaan

Rabu, 11 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/3) setelah reli awal memudar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Presiden AS Donald Trump merespons laporan dengan ancaman pembalasan serta kembali menyerukan agar Iran menyerah sepenuhnya.

Mengutip Reuters pada Rabu (11/3), indeks S&P 500 turun 14,44 poin atau 0,21 persen menjadi 6.781,55. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 36,66 poin atau 0,08 persen menjadi 47.704,14. Sementara Nasdaq Composite naik tipis 2,24 poin atau 0,01 persen ke level 22.698,19.

"Pasar sebelumnya menunjukkan kekuatan dan kini telah kehilangan semuanya," kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.

Katanya, optimisme pasar yang sempat muncul dari berbagai pernyataan Gedung Putih dengan cepat memudar.

"Anda melihat berbagai headline dari Gedung Putih yang memberi harapan kepada pasar, lalu pemikiran yang lebih jernih muncul dan pasar menyadari bahwa ini masih jauh dari selesai," ujarnya.

Pasalnya, ketidakpastian semakin meningkat setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan hari Selasa (10/3) menjadi hari paling intens sejauh ini dalam operasi militer terhadap Iran.

Konflik tersebut sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran inflasi di tengah pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini menimbulkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.

Meski demikian, pasar masih berharap konflik dapat mereda dalam waktu dekat. Harapan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump memberi sinyal kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia, yang berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi.

Harga minyak mentah pun berbalik turun tajam. Kontrak berjangka minyak mentah AS dan Brent untuk pengiriman bulan terdekat ditutup merosot lebih dari 11 persen.

"Ketika Anda melihat pergerakan parabola seperti itu, baik pada emas, minyak atau apa pun, biasanya akan terjadi pembalikan yang cukup tajam begitu ada berita dari sisi sebaliknya," kata Senior wealth adviser dan market strategist di Murphy & Sylvest di Elmhurst Illinois, Paul Nolte.

Di tengah tekanan pasar, saham sektor semikonduktor justru menguat dengan kenaikan pada Nvidia, SanDisk, dan Western Digital.

Indeks S&P Software & Select Services kembali menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah beberapa bulan terakhir tertekan oleh kekhawatiran disrupsi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pergerakan pasar selanjutnya juga bakal dipengaruhi sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan inflasi AS melalui Indeks Harga Konsumen (CPI), revisi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat, serta data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS.

Profil Perusahaan

Senin, 09 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran

Equityworld Futures | Bursa saham AS atau Wall Street berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/3). Penguatan ini terjadi setelah pasar berbalik arah pada akhir sesi, didorong harapan meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Lagi, Enaknya Jual atau Beli?

Mengutip Reuters pada Selasa (10/3), pada penutupan perdagangan indeks Dow Jones Industrial Average naik 239,25 poin atau 0,50 persen ke level 47.740,80, indeks S&P 500 menguat 55,97 poin atau 0,83 persen ke posisi 6.795,99, dan Nasdaq Composite melonjak 308,27 poin atau 1,38 persen menjadi 22.695,95.

Sebelumnya, pasar sempat mengalami tekanan tajam sepanjang perdagangan. Namun menjelang penutupan, indeks saham berbalik naik setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan perang antara AS-Israel melawan Iran kemungkinan segera berakhir.

Trump mengatakan konflik tersebut telah berjalan "jauh di depan" dari perkiraan awalnya yang menyebut perang bisa berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.

Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat terganggunya jalur pelayaran selama konflik Iran yang telah memasuki hari ke-10.

Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi, terutama di tengah kondisi konsumen AS yang masih menghadapi tekanan biaya hidup.

Namun harga minyak kemudian turun setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia.

Pergerakan pasar yang berayun tajam sepanjang hari mencerminkan tingginya volatilitas akibat perkembangan geopolitik yang terus berubah.

"Masih ada banyak sekali ketidakpastian mengenai durasi konflik, serta durasi penutupan Selat Hormuz," kata Chief investment strategist CFRA Research di New York, Sam Stovall.

"Sekali lagi hari ini, melihat pembalikan relatif dalam pergerakan harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap peluang untuk kembali masuk ke pasar saham," sambungnya.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga meningkat setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu (6/3) menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.

Kondisi ini, ditambah kenaikan harga energi, memunculkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

"Laporan ketenagakerjaan yang lemah tersebut, bersamaan dengan kenaikan harga energi menunjukkan potensi stagflasi," ujar Senior portfolio manager Dakota Wealth di Fairfield Connecticut, Robert Pavlik.

Profil Perusahaan

Minggu, 08 Maret 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Tembus 111 Dollar AS Per Barel

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Tembus 111 Dollar AS Per Barel

Equityworld Futures | Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Konflik yang meluas antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membuat sejumlah produsen minyak utama di kawasan tersebut mulai mengurangi produksi.

Equityworld Futures | Efek Domino Penutupan Selat Hormuz: Minyak Mahal, Inflasi hingga Harga Emas Terus Naik

Dikutip dari Reuters, kekhawatiran gangguan pengiriman melalui jalur strategis Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak hingga ke level tertinggi sejak Juli 2022. 

Pada Senin (9/3/2026) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak 18,35 dollar AS atau 19,8 persen menjadi 111,04 dollar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik 16,50 dollar AS atau 18,2 persen menjadi 107,40 dollar AS per barel.

Pada awal sesi perdagangan, harga WTI bahkan sempat melonjak hingga 20,34 dollar AS atau 22,4 persen ke posisi 111,24 dollar AS per barel. Lonjakan tersebut melanjutkan reli tajam yang terjadi sepanjang pekan lalu. 

Harga Brent tercatat naik 27 persen, sedangkan WTI melesat 35,6 persen. Tekanan pada pasokan mulai terlihat setelah Irak dan Kuwait mengurangi produksi minyak. 

Kondisi ini menambah pengurangan pasokan gas alam cair sebelumnya dari Qatar karena perang menghambat pengiriman energi dari kawasan Timur Tengah.

Para analis menilai langkah serupa kemungkinan akan diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Kedua negara tersebut diperkirakan harus mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mulai penuh. 

Situasi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih mahal selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. 

Hal itu bisa terjadi meskipun konflik yang baru berlangsung sekitar sepekan tersebut berakhir dengan cepat, karena pemasok masih harus menghadapi kerusakan fasilitas, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko pengiriman. 

"Saya pikir harga telah menguat pagi ini karena laporan bahwa produsen Timur Tengah sekarang mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh," kata ahli strategi komoditas senior ANZ, Daniel Hynes.


Profil Perusahaan

Rabu, 04 Maret 2026

Equityworld Futures | Emas Naik Saat Perang Timur Tengah Memanas dan Dolar Melemah!

Equityworld Futures | Emas Naik Saat Perang Timur Tengah Memanas dan Dolar Melemah!

Equityworld Futures | Harga emas menguat seiring pelemahan dolar AS dan eskalasi perang di Timur Tengah yang memasuki hari keenam tanpa tanda mereda. Bullion sempat naik hingga 0,9% menembus $5.180 per ons, melanjutkan kenaikan sekitar 1% pada sesi sebelumnya. Permintaan aset aman kembali menguat ketika operasi militer AS dan Israel berlanjut, sementara Iran merespons dengan peluncuran rudal ke beberapa negara di kawasan.

Equityworld Futures | Harga Emas Bangkit, Saatnya Kumpulkan Tenaga ke Level Tertinggi

Sentimen risk-off makin kuat setelah laporan serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan jalur strategis Selat Hormuz, yang meningkatkan kekhawatiran lonjakan harga energi dan risiko rantai pasok global. Presiden Donald Trump menyatakan keyakinan atas kampanye militer AS, termasuk klaim bahwa AS menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional. Di sisi lain, Teheran membantah laporan bahwa Kementerian Intelijennya telah menghubungi Washington untuk bernegosiasi mengakhiri konflik.

Di luar faktor geopolitik, pasar juga menimbang risiko perang dagang baru saat Washington bersiap menaikkan tarif impor. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut rencana Trump menaikkan tarif universal dari 10% menjadi 15% berpeluang mulai berlaku pekan ini, dengan Uni Eropa diperkirakan mendapat pengecualian. Kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan energi, dan ancaman tarif berpotensi menjadi “guncangan ganda” bagi perdagangan global—kondisi yang biasanya mendukung emas.

Penguatan emas juga didorong pelemahan dolar yang mencatat penurunan terbesar dalam sekitar tiga pekan, membuat emas lebih “murah” bagi pembeli non-dolar. Indeks dolar turun sekitar 0,4% dalam dua hari terakhir, meski masih naik hampir 1% sepanjang pekan ini. Sebelumnya, penguatan dolar dan aksi jual luas di pasar saham sempat memicu penurunan tajam logam mulia pada Selasa, sebelum pasar kembali stabil.

Secara kinerja tahunan, emas sudah naik sekitar 20% tahun ini, ditopang ketegangan geopolitik dan perdagangan serta kekhawatiran soal independensi The Fed. Harga bahkan sempat mencetak rekor di atas $5.595 per ons pada akhir Januari. Pada perdagangan pagi di Asia, spot gold naik 0,7% ke $5.176,83 per ons (pukul 09:23 waktu Singapura), sementara perak naik 1,5% ke $84,79, dengan platinum dan palladium ikut menguat.

Profil Perusahaan

Selasa, 03 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Bergejolak di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

Equityworld Futures | Wall Street Bergejolak di Tengah Memanasnya Konflik AS dan Iran

Equityworld Futures | Indesk-indeks saham Wall Street kembali mengalami sesi perdagangan yang liar pada Selasa waktu setempat (3/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Equityworld Futures | Peringatan Keras: Harga Emas Ambruk 4% dalam Sehari, Masih Bisa Naik?

Dikutip dari CNBC internasional, meski sempat anjlok tajam, pernyataan Presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kepanikan investor menjelang penutupan pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 403,51 poin (0,83%) di level 48.501,27. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,94% ke level 6.816,63, sementara Nasdaq Composite ambles 1,02% menjadi 22.516,69.

Padahal, pada titik terendahnya, Dow Jones sempat terjun lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6%. S&P 500 sempat ambles 2,5%, sedangkan Nasdaq merosot sekitar 2,7%. Volatilitas tinggi mencerminkan kegelisahan pasar atas eskalasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pada Selasa sore, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menegaskan bahwa AS akan memastikan arus energi dunia tetap berjalan.

Pernyataan tersebut muncul setelah Komandan Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur transit minyak mentah paling vital di dunia, dan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.

Selat Hormuz memegang peran krusial karena sekitar 20% konsumsi minyak global melewati jalur tersebut. Penutupan berkepanjangan berpotensi mengguncang pasokan energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak.

Harga minyak mentah jenis Brent, patokan global, sempat melonjak lebih dari 9% sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 2%. Sehari sebelumnya, Brent sudah melonjak 6%. Minyak mentah WTI juga mencatat pola serupa, sempat naik lebih dari 9% sebelum mengakhiri sesi dengan kenaikan sekitar 2%, setelah sehari sebelumnya melesat 6%.

Lonjakan harga energi sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik, karena pasar khawatir tekanan inflasi kembali meningkat. Kekhawatiran ini muncul di tengah harapan investor terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS.

Namun, seiring meredanya kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi pun memangkas penguatannya.

Profil Perusahaan

Senin, 02 Maret 2026

Equityworld Futures | Wall Street Dibuka Memerah Senin (2/3), Pasar Cemas Konflik Timur Tengah Berlarut

Equityworld Futures | Wall Street Dibuka Memerah Senin (2/3), Pasar Cemas Konflik Timur Tengah Berlarut

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Senin (2/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik Timur Tengah yang berpotensi berkepanjangan dan mengganggu jalur perdagangan global serta memicu kembali tekanan inflasi.

Equityworld Futures | Harga Emas Membara di Tengah Perang, Tembus Rekor Tertinggi Sebulan

Pada awal perdagangan, indeks utama kompak turun. Dow Jones Industrial Average melemah 183,5 poin atau 0,37% ke 48.794,42. 

S&P 500 turun 54,5 poin atau 0,79% ke 6.824,36, sementara Nasdaq Composite merosot 346,1 poin atau 1,53% ke 22.322,12.

Maskapai dan Perbankan Tertekan

Sektor yang paling tertekan dalam perdagangan pre-market adalah maskapai penerbangan, setelah sejumlah operator menghentikan penerbangan akibat eskalasi konflik.

Harga minyak mentah melonjak sekitar 8% karena beberapa fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah menghentikan produksi.

Saham maskapai seperti Delta Air Lines dan United Airlines masing-masing anjlok sekitar 6% di prapasar. Saham bank besar seperti Bank of America dan Citigroup juga turun sekitar 2%.

Sebaliknya, investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Kenaikan harga logam mulia mendorong saham penambang seperti Kinross Gold dan Harmony Gold naik sekitar 2%.

Saham sektor pertahanan ikut menguat. Lockheed Martin naik 5,2%, RTX Corporation menguat 6,4%, Kratos Defense & Security Solutions naik 6,6%, dan AeroVironment melonjak 11%. 

Volatilitas Meningkat

Indeks volatilitas pasar, CBOE Volatility Index (VIX), melonjak 3,08 poin ke level 22,84—tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyebut konflik bisa berlangsung hingga empat pekan.

Meski demikian, analis LPL Financial menilai pasar relatif “menyerap” kabar tersebut karena investor telah mengantisipasi potensi konflik dalam beberapa minggu terakhir.

Namun, lonjakan harga minyak berpotensi memperparah tekanan inflasi, terutama di tengah kenaikan harga akibat tarif AS.

Kekhawatiran ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS berbalik naik dan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan Juni. 

Kepala strategi ekuitas Wells Fargo memperkirakan, indeks S&P 500 bisa turun ke level 6.000 sekitar 13% dari penutupan terakhir jika harga minyak menembus US$100 per barel dalam skenario terburuk.

Saham energi seperti Occidental Petroleum naik 7,2% dan ConocoPhillips bertambah 5%.

Sebaliknya, saham kapal pesiar seperti Carnival Corporation & plc dan Norwegian Cruise Line Holdings masing-masing turun 7,3%.

Di luar isu geopolitik, pasar juga mencermati data PMI manufaktur serta laporan ketenagakerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) yang akan dirilis akhir pekan ini. 

Profil Perusahaan

Minggu, 01 Maret 2026

Equityworld Futures | Data Indeks Harga Produsen Amerika Serikat Panas, Wall Street Berguguran

Equityworld Futures | Data Indeks Harga Produsen Amerika Serikat Panas, Wall Street Berguguran

Equityworld Futures | Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Jumat (27/2) setelah data inflasi produsen melonjak.Dow Jones Industrial Average turun 521,28 poin atau 1,05% ke level 48.977,92. S&P 500 melemah 0,43% menjadi 6.878,88 

Equityworld Futures | 76% Investor Optimistis Harga Emas “To The Moon” di Tengah Ketidakpastian Global

Sementara itu Nasdaq Composite terkoreksi 0,92% ke posisi 22.668,21. 

Sepanjang bulan itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite juga berakhir di zona merah. 

Kekhawatiran pasar meningkat terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah sektor industri dan perekonomian. Apalagi perusahaan fintech Block milik Jack Dorsey mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 4.000 karyawan atau hampir setengah dari total tenaga kerjanya. 

Saham yang terkait kredit swasta juga tertekan setelah kolapsnya penyedia hipotek asal Inggris, Market Financial Solutions. Saham Apollo Global Management dan Jefferies Financial Group masing-masing merosot lebih dari 8% dan 9%. Sementara itu, saham Blue Owl Capital melemah sekitar 6% di tengah tekanan likuiditas dan penjualan aset. 

Sejumlah saham perangkat lunak berkapitalisasi besar turut melemah pada perdagangan Jumat dan menutup Februari dengan kinerja negatif. Saham Salesforce turun lebih dari 2%, diikuti Microsoft yang juga terkoreksi dan membebani indeks Dow Jones Industrial Average.

Sementara itu, perusahaan keamanan siber Zscaler anjlok 12% setelah pendapatan tertunda dan nilai tagihan pada kuartal fiskal kedua tidak memenuhi ekspektasi pasar. Saham CoreWeave juga merosot 18% setelah perusahaan memberikan panduan kinerja yang mengecewakan. 

Di sektor semikonduktor, saham Nvidia kian turun pascarilis laporan keuangan dengan terkoreksi 4% pada Jumat. Sehari sebelumnya, saham produsen chip tersebut sudah terkoreksi lebih dari 5% hingga mengejutkan sebagian investor yang sebelumnya optimistis terhadap kinerja perusahaan setelah positifnya laporan kuartal keempat dan prospek siklus produk baru.

Profil Perusahaan

Kamis, 26 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Negosiasi Nuklir AS-Iran

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Negosiasi Nuklir AS-Iran

Equityworld Futures | Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Pelaku pasar mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir negara anggota OPEC tersebut.

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat Tipis, Pasar Tunggu Hasil Perundingan Nuklir AS-Iran

Dikutip dari CNBC, Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent ditutup turun 10 sen atau 0,14% ke level USD 70,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 21 sen atau 0,32% menjadi USD 65,21 per barel.

Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak sempat bergerak naik turun (whipsaw) seiring munculnya berbagai laporan terkait jalannya negosiasi di Jenewa. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan jika ketegangan meningkat.

Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa untuk membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.

Langkah ini dilakukan guna mencegah potensi konflik, setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut.

Profil Perusahaan

Rabu, 25 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Investor Pahami Potensi AI ke Bisnis

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Investor Pahami Potensi AI ke Bisnis

Equityworld Futures | Indeks Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (25/2). Kenaikan dipimpin sektor teknologi dan menyentuh level tertinggi dalam dua minggu.

Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Sentuh USD 5.200, Ini Pemicu Kenaikan Logam Mulia

Dikutip dari Reuters pada Rabu (26/2), S&P 500 (.SPX) naik 56,52 poin atau 0,82 persen di 6.946,59 poin. Nasdaq Composite (.IXIC) naik 288,40 poin atau 1,28 persen menjadi 23.152,08. Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 310,61 poin atau 0,63 persen menjadi 49.485,11.

Saat ini, kekhawatiran soal dampak disrupsi dan besarnya biaya pengembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mereda. Hal itu digantikan oleh optimisme baru terhadap potensi manfaat teknologi tersebut.

“Menurut saya, kekhawatiran soal disrupsi AI saat ini lebih terasa dibandingkan soal imbal hasil investasi. Investor sedang mencoba memahami potensi risiko yang bisa bersifat sangat mendasar atau bahkan mengancam kelangsungan bisnis. Itu jauh lebih serius dibandingkan sekadar tidak mendapatkan keuntungan sebesar yang diharapkan,” kata Zach Hill, kepala manajemen portofolio dari Horizon Investments.

Indeks semikonduktor Philadelphia (.SOX) naik menjelang laporan keuangan kuartalan Nvidia (NVDA.O) yang dijadwalkan rilis setelah penutupan pasar. Saham Nvidia diperkirakan mencatat pertumbuhan laba tahunan sebesar 72,2 persen dengan pendapatan mencapai US$66,2 miliar menurut estimasi analis yang dihimpun LSEG. Kinerja ini didorong oleh derasnya investasi untuk infrastruktur terkait AI.

Pergerakan opsi saham Nvidia menunjukkan potensi naik atau turun sekitar 5,6 persen pada Kamis setelah hasil laporan keuangan diumumkan.

Indeks S&P Software & Services (.SPLRCIS) yang sebelumnya turun 23 persen sejak awal tahun. Indeks itu menjadi salah satu indeks dengan kinerja paling baik karena mulai bangkit. Saham Axon Enterprise (AXON.O) melonjak setelah produsen Taser itu membukukan laba kuartal keempat di atas perkiraan analis.

Sebaliknya, First Solar (FSLR.O) dan Lowe’s Companies (LOW.N) memberikan proyeksi penjualan tahunan yang lebih lemah dari ekspektasi sehingga saham keduanya turun tajam.

Setelah laporan Lowe’s yang mengecewakan, saham sektor perumahan (.HGX) dan pengembang rumah (.SPCOMHOME) juga melemah meskipun suku bunga KPR tetap 30 tahun turun ke level terendah dalam 3,5 tahun pekan lalu.

Di sektor kebutuhan pokok, produsen minuman beralkohol Brown-Forman (BFb.N) dan Molson Coors (TAP.N) turun setelah perusahaan asal London, Diageo (DGE.L) yang merupakan produsen Johnnie Walker dan Guinness memproyeksikan penurunan penjualan organik 2 persen hingga 3 persen pada 2026 serta memangkas dividen interim menjadi setengahnya.

Saham GoDaddy (GDDY.N) juga merosot setelah perusahaan layanan internet itu memproyeksikan pendapatan tahunan di bawah ekspektasi Wall Street.

Di tengah volatilitas saham perangkat lunak belakangan ini, nantinya laporan keuangan dari Salesforce (CRM.N), Intuit (INTU.O) dan Snowflake (SNOW.N) diperkirakan akan mendapat perhatian ekstra dari investor.

Profil Perusahaan

Selasa, 24 Februari 2026

Equityworld Futures | Bursa Asia Siap Menguat Usai Sektor Teknologi Wall Street Bangkit

Equityworld Futures | Bursa Asia Siap Menguat Usai Sektor Teknologi Wall Street Bangkit

Equityworld Futures | Bursa saham Asia diprediksi akan menguat pada perdagangan hari ini, mengikuti reli perusahaan teknologi di Wall Street yang berhasil meredam kecemasan investor terkait dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI).

Equityworld Futures | Bruk! Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Hampir 2% dalam 24 Jam, Ada Apa?

Kontrak berjangka indeks saham memberi sinyal pembukaan yang solid di Sydney, Tokyo, dan Hong Kong. Di Amerika Serikat, kebangkitan saham-saham perangkat lunak yang sempat terpuruk mendorong Nasdaq 100 naik 1,1%. Sementara itu, S&P 500 juga menguat didorong oleh perbaikan kepercayaan konsumen. Di pasar lain, obligasi jangka pendek mencatatkan kinerja kurang memuaskan, sementara emas dan minyak dunia kompak melemah.

Saham Advanced Micro Devices Inc (AMD) melonjak sekitar 9% setelah Meta Platforms Inc berencana menggelontorkan miliaran dolar untuk membeli perangkat mereka. Sentimen positif ini muncul hanya beberapa pekan setelah Anthropic PBC sempat memicu kekacauan pasar melalui perilisan alat yang mempertanyakan eksistensi model bisnis konvensional di era AI. Kini, perusahaan rintisan tersebut justru menyatakan akan memperluas jangkauan chatbot Claude ke sektor-sektor baru.

Adam Crisafulli dari Vital Knowledge mengatakan bahwa Anthropic kini menekankan bagaimana Claude berfungsi untuk berintegrasi, alih-alih menggantikan sistem yang sudah ada.

"Pesan 'kami di sini untuk membantu, bukan merugikan' dari Anthropic ini membantu memicu reli pemulihan yang cukup sehat pada sektor perangkat lunak," ujar Crisafulli.

Para pelaku pasar kini tengah bersiap menanti laporan keuangan Nvidia Corp pada hari Rabu, dengan ekspektasi bahwa raksasa produsen cip tersebut akan melampaui prediksi pasar. Laporan ini sangat dinantikan setelah kinerja saham Nvidia cenderung lesu akibat rotasi investor yang menjauh dari saham-saham berkapitalisasi besar.

David Laut dari Kerux Financial menilai laporan laba pekan ini akan menjadi penentu. "Hasil pekan ini akan 'menenangkan atau justru memperburuk' ketakutan terhadap AI. Kita memang tidak akan mendapatkan semua jawaban pekan ini, tetapi investor yang cemas sangat membutuhkan kejelasan," tuturnya.

Sebelum laporan Nvidia dirilis, Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato State of the Union pada Selasa malam waktu setempat untuk memaparkan prioritas pemerintahannya di tahun mendatang.

Pada penutupan perdagangan terakhir, S&P 500 naik 0,8%, sementara imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun tidak banyak berubah di level 4,03%. Dolar AS terpantau fluktuatif, sedangkan emas terkoreksi setelah menguat empat hari berturut-turut, dan minyak mentah turun untuk hari ketiga.

Di kawasan Asia-Pasifik, laporan inflasi Australia diperkirakan menunjukkan sedikit pelambatan pada angka pertumbuhan utama, meski diprediksi tetap berada di atas target bank sentral. Sementara itu, Bank Sentral Thailand diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Mata uang Yen terpantau stabil di awal perdagangan setelah mengalami penurunan pada hari Selasa. Hal ini menyusul laporan media lokal bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan kekhawatirannya atas kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam pertemuannya dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda pekan lalu.

Profil Perusahaan

Senin, 23 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Terkapar, Pasar Asia Menguat

Equityworld Futures | Wall Street Terkapar, Pasar Asia Menguat

Equityworld Futures | Pasar saham Asia-Pasifik menguat pada perdagangan Selasa (24/2/2026), berlawanan arah dengan Wall Street. Ini terjadi di tengah kekhawatiran baru terkait ancaman tarif Presiden AS Donald Trump dan potensi disrupsi kecerdasan buatan terhadap perusahaan perangkat lunak.

Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Mengamuk, Tiba-Tiba Sudah Tembus US$5.200 Lagi

Melansir CNBC.com, Investor mencermati pernyataan Trump di Truth Social yang menyebut negara mana pun yang ingin "bermain-main" dengan putusan Mahkamah Agung akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi.

Komentar tersebut muncul setelah Supreme Court of the United States pada Jumat membatalkan tarif yang diberlakukan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Sebagai respons, Trump mengatakan akan mengenakan tarif global sebesar 15% berdasarkan Section 122 dari Trade Act 1974.

Pelaku pasar di Asia juga menanti keputusan suku bunga pinjaman utama China atau loan prime rate (LPR). LPR tenor satu tahun menjadi acuan pinjaman komersial baru, sementara LPR lima tahun menjadi patokan untuk kredit properti.

Pasar saham China daratan dibuka kembali setelah libur Tahun Baru Imlek. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index Hong Kong berada di level 26.869, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 27.081,91.

Di Korea Selatan, KOSPI melanjutkan reli pemecahan rekor dengan kenaikan 0,24%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 0,56%. Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,23%, sementara Topix bergerak datar.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turut menguat 0,12%. Sebaliknya, pada perdagangan semalam di AS, Dow Jones Industrial Average anjlok 1,66%, Nasdaq Composite turun 1,13%, dan S&P 500 melemah 1,04%.

Saham-saham keamanan siber kembali tertekan untuk hari kedua berturut-turut karena investor mengkhawatirkan alat keamanan berbasis kecerdasan buatan yang berpotensi menggeser model bisnis lama di sektor tersebut.

Profil Perusahaan

Equityworld Futures | Emas Menguat, Tarif 15% Trump Guncang Pasar

Equityworld Futures | Emas Menguat, Tarif 15% Trump Guncang Pasar

Equityworld Futures | Harga emas naik setelah mencatat kenaikan selama tiga minggu berturut-turut, seiring ketidakpastian kebijakan dagang AS kembali mengguncang pasar dan menekan dolar. Investor cenderung masuk ke aset defensif, membuat emas kembali diburu di tengah meningkatnya risiko global.

Equityworld Futures | Harga Emas Memperpanjang Kenaikan

Emas batangan sempat menguat hingga 1,4% menuju US$5.180 per ons. Kenaikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif global 15%, sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung yang menolak penggunaan kewenangan daruratnya untuk menerapkan bea masuk. Dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pembeli non-AS, sehingga ikut memperkuat permintaan.

Putusan pengadilan tersebut juga memunculkan keraguan atas sejumlah kesepakatan dagang yang sudah dinegosiasikan AS dengan mitra utama. Pejabat perdagangan Parlemen Eropa disebut akan mengusulkan penundaan ratifikasi perjanjian dengan Washington sampai situasi lebih jelas. India juga menunda agenda perjalanan ke AS, sementara politisi Jepang menyebut kondisi ini sebagai “kekacauan”, menambah lapisan ketidakpastian di pasar.

Reli emas belakangan ini membantu harga pulih setelah sempat terkoreksi tajam di awal bulan, yang menyeret harga turun dari rekor tertinggi. Dukungan jangka panjang untuk emas dinilai masih kuat, mulai dari tensi geopolitik yang meningkat hingga kehati-hatian investor terhadap obligasi pemerintah dan mata uang utama.

Meski begitu, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek karena perkembangan tarif AS masih dinamis dan situasi Iran belum stabil. Pada perdagangan sore di Singapura, emas tercatat naik sekitar 0,5% ke US$5.134,16/ons, sementara indeks dolar Bloomberg turun 0,2%. Perak menguat 1,4% ke US$85,81, sedangkan platinum dan paladium cenderung stabil.

Profil Perusahaan

Kamis, 19 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Turun Kamis (19/2), Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Turun Kamis (19/2), Nvidia dan Saham Private Equity Tertekan

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Kamis (19/2/2026), terseret penurunan saham perusahaan private equity serta pelemahan saham raksasa seperti Apple dan Walmart.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak Dua Hari Beruntun, Tembus US$4.997/Troy Ons di Tengah Tensi Geopolitik

Kenaikan saham sektor industri yang ditopang kinerja emiten membatasi tekanan lebih dalam.

Melansir Reuters, indeks S&P 500 turun 0,28% ke level 6.861,89. Nasdaq Composite melemah 0,31% ke 22.682,73, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,54% ke 49.395,16. 

Saham perusahaan private equity anjlok setelah Blue Owl Capital memutuskan menjual aset senilai US$1,4 miliar dan membekukan penarikan dana (redemption) di salah satu reksadananya guna mengelola utang dan mengembalikan modal kepada investor.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran baru terkait kualitas kredit dan eksposur pemberi pinjaman terhadap saham-saham perangkat lunak.

Saham Apollo Global Management, Ares Management, KKR & Co, serta Carlyle Group merosot antara 1,9% hingga 5,2%, sementara Blue Owl sendiri jatuh 6%.

Saham Apple turun 1,4% dan menjadi penekan terbesar bagi indeks S&P 500. Sementara itu, Walmart juga melemah 1,4% setelah CEO barunya, John Furner, memulai masa jabatan dengan proyeksi fiskal 2027 yang konservatif serta mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai US$30 miliar. 

Saham-saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) mengalami volatilitas dalam beberapa bulan terakhir di tengah kekhawatiran valuasi yang sudah tinggi dan belum adanya bukti kuat bahwa investasi besar-besaran di AI telah mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba secara signifikan.

“Pasar sedang mencoba memahami lini bisnis mana yang benar-benar terancam secara material oleh AI. Teknologi ini berkembang sangat cepat dan hari seperti ini terasa wajar. Kita berada di fase siklus di mana tidak semua pihak akan menjadi pemenang dan tidak semua ekspektasi akan terpenuhi,” ujar Keith Buchanan, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, Atlanta.

Di sisi lain, Deere & Co melonjak 11,6% setelah produsen alat berat pertanian itu menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui estimasi kinerja kuartal pertama.

Indeks energi S&P 500 naik 0,6% seiring kenaikan harga minyak mentah akibat meningkatnya kekhawatiran konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Sebaliknya, indeks keuangan S&P 500 turun 0,9%. 

Saham Omnicom melonjak 15% setelah perusahaan periklanan tersebut melampaui estimasi pendapatan kuartal keempat. Sementara itu, Carvana merosot hampir 8% karena gagal memenuhi estimasi laba kuartal IV.

Penyedia perangkat lunak EPAM Systems anjlok 17% setelah memberikan proyeksi kuartal pertama yang berhati-hati dan mengecewakan investor.

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan para pembuat kebijakan masih terbelah mengenai arah kebijakan suku bunga tahun ini.

Investor juga mencermati data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil.

Fokus berikutnya tertuju pada laporan Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed yang akan dirilis Jumat untuk mencari petunjuk arah suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang 50% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni mendatang. 

Profil Perusahaan

Equityworld Futures | Emas Stabil di $5.000, Pasar Mengunci Fokus ke The Fed

Equityworld Futures | Emas Stabil di $5.000, Pasar Mengunci Fokus ke The Fed

Equityworld Futures | Harga emas kembali menguat ke area $5.000 per ons pada Kamis(19/2), melanjutkan reli setelah melonjak sekitar 2% pada sesi sebelumnya. Perdagangan Asia yang cenderung tipis—karena sebagian pasar tutup untuk libur Tahun Baru Imlek—membuat pergerakan harga lebih mudah berfluktuasi, sementara pelaku pasar fokus pada arah kebijakan suku bunga AS.

Equityworld Futures | Harga Emas Diramal Bakal Menguat, Balik Lagi ke Level USD5.000

Emas sempat naik hingga 0,9% dan perak menguat hingga 3%, menegaskan volatilitas logam mulia masih tinggi. Pasar masih sensitif sejak terjadi penurunan tajam bersejarah pada akhir Januari, sehingga respons terhadap berita dan perubahan sentimen cenderung lebih cepat.

Penentu utama langkah berikutnya tetap suku bunga The Fed. Risalah rapat kebijakan 27–28 Januari yang dirilis Rabu menunjukkan para pejabat bank sentral tampak lebih berhati-hati untuk segera memangkas suku bunga, sehingga pasar menilai pelonggaran kebijakan belum tentu terjadi dalam waktu dekat.

Nada tersebut berpotensi memunculkan dinamika politik, karena Presiden Donald Trump mendorong biaya pinjaman lebih rendah—yang biasanya positif untuk emas karena tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, dolar AS masih mempertahankan penguatannya setelah data ekonomi Amerika menunjukkan ketahanan, termasuk kenaikan produksi industri terbesar dalam hampir setahun dan pesanan barang modal inti yang lebih kuat dari perkiraan.

Meski dolar dapat menjadi penahan jangka pendek, sejumlah bank besar masih memperkirakan emas berpeluang melanjutkan tren naik, didukung kekhawatiran independensi The Fed dan ketegangan geopolitik. Pasar juga memantau pembicaraan nuklir AS–Iran yang belum menemui hasil; pejabat AS menyebut Iran akan kembali dalam dua minggu dengan proposal rinci, sementara laporan Axios menilai operasi militer AS—jika terjadi—bisa berlangsung berminggu-minggu. Pada perdagangan terbaru, emas spot naik 0,5% ke $5.004,32 dan perak naik 2% ke $78,78.

Source : *News Maker 23 - Indonesia News Portal for Traders*

Profil Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan Kedua Jumat (13/2), Risiko Iran Mereda

Equityworld Futures | Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (13/2/2026), namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Berjangka Turun 0,1% Jadi USD5.092

Meredanya kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah proyeksi kelebihan pasokan global tahun ini, menekan sentimen pasar energi.

Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude naik tipis 3 sen menjadi US$67,55 per barel pada awal perdagangan Asia, setelah sehari sebelumnya merosot 2,7%.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 1 sen ke US$62,85 per barel, usai terkoreksi 2,8% pada sesi sebelumnya.

Secara mingguan, Brent diperkirakan turun sekitar 0,8%, sedangkan WTI melemah sekitar 1,1%.

Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar atas potensi serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya sempat memicu lonjakan premi risiko geopolitik.

Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, harga minyak kini melemah di tengah sinyal bahwa Washington memberi lebih banyak waktu untuk negosiasi dengan Teheran.

“Hal ini mengurangi premi risiko geopolitik dalam jangka pendek,” ujarnya dalam catatan riset.

Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga dibebani proyeksi fundamental yang kurang mendukung.

Dalam laporan bulanannya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, sementara total pasokan diproyeksikan melampaui permintaan.

Tekanan semakin besar setelah data menunjukkan lonjakan signifikan stok minyak mentah AS. Penumpukan persediaan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar berada dalam kondisi surplus.

Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi peningkatan produksi dari Venezuela. Produksi minyak negara tersebut diperkirakan bisa kembali mendekati level sebelum sanksi, naik dari sekitar 880.000 barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah AS dilaporkan akan menerbitkan lebih banyak izin yang melonggarkan sanksi terhadap sektor energi Venezuela.

Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyebut penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS telah menghasilkan lebih dari US$1 miliar sejak Januari dan berpotensi menambah US$5 miliar lagi dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan kombinasi meredanya risiko konflik Iran dan meningkatnya potensi suplai global, pasar minyak kini lebih fokus pada ancaman kelebihan pasokan dibandingkan risiko gangguan distribusi.

Jika proyeksi surplus terealisasi, tekanan terhadap harga minyak berpeluang berlanjut dalam jangka menengah.

Profil Perusahaan

Rabu, 11 Februari 2026

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Melemah Tipis, Begini Prospek Saham Wall Street Hari Ini (12/2)

Equityworld Futures | Bursa Saham Amerika Serikat atau Wall Street hari ini diproyeksi cukup stabil usai ditutup melemah tipis pada perdagangan di Rabu (11/2). Laporan ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi, namun sekaligus memicu spekulasi bahwa laju pemangkasan suku bunga akan melambat dari Federal Reserve (The Fed).

Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi

Dikutip dari Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,13% ke 50.121,40. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,01% ke 6.941,47, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,16% ke 23.066,47.

Ketiga indeks utama  sempat dibuka menguat. S&P 500 dan Nasdaq bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sentimen positif muncul setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada bulan lalu jauh melampaui ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%.

Namun, penguatan tersebut memudar seiring pelaku pasar menyesuaikan kembali ekspektasi penurunan suku bunga. Mayoritas trader masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar dua puluh lima basis poin pada Juni. Namun peluang suku bunga bertahan pada bulan tersebut meningkat menjadi sekitar 41%.

Strategis Pasar Global New York Life Investments, Julia Hermann menilai investor mencerna perubahan ekspektasi suku bunga dengan cukup baik karena data tenaga kerja yang kuat dipandang sebagai sinyal positif bagi perekonomian.

“Kabar ini konstruktif karena menunjukkan ekonomi tidak berada dalam kondisi darurat yang membutuhkan pemangkasan suku bunga agresif,” ujar Hermann.

“Pasar melihat titik keseimbangan, di mana perekrutan cukup kuat untuk menunjukkan ekonomi tangguh, tetapi tidak terlalu panas hingga menggagalkan harapan pelonggaran kebijakan moneter ke depan," tambahnya.

Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI). Ia dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar dan kebijakan suku bunga bank sentral dalam waktu dekat.

Bagi investor global, pergerakan ini menegaskan pentingnya data ekonomi sebagai penggerak utama sentimen pasar keuangan dunia.

Profil Perusahaan

Selasa, 10 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Tertekan Risk-On, Tapi Dolar Lemah Jadi “Rem”

Equityworld Futures | Emas Tertekan Risk-On, Tapi Dolar Lemah Jadi “Rem”

Equityworld Futures | Emas (XAU/USD) memangkas penurunan intraday dan bergerak dengan rugi tipis menjelang sesi Eropa, bertahan di kisaran bawah $5.050 dan berusaha mempertahankan area psikologis $5.000. Tekanan datang dari sentimen risk-on setelah hasil pemilu dadakan Jepang meredakan ketidakpastian politik, ditambah tanda-tanda tensi Timur Tengah yang menurun seiring jalur diplomasi AS–Iran tetap dijaga. Kondisi ini membuat minat ke aset safe-haven berkurang sehingga emas sulit melanjutkan reli dua hari terakhir.

Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-tiba Naik 2%, Ternyata Gara-gara Dolar

Namun, pelemahan emas tertahan karena dolar AS melemah dipicu ekspektasi pasar bahwa The Fed akan melakukan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga 25 bps pada 2026, yang menguntungkan aset non-yielding seperti emas. Sentimen dolar juga ditekan isu independensi The Fed, setelah Trump menyatakan bisa menggugat kandidat ketua The Fed pilihannya, Kevin Warsh, bila tidak memangkas suku bunga, serta muncul wacana investigasi bila penurunan suku bunga tidak dilakukan. Di sisi lain, pasar cenderung menahan posisi besar menunggu data penting AS pekan ini—Retail Sales (Selasa), NFP (Rabu), dan CPI (Jumat)—yang berpotensi menjadi penentu arah dolar dan emas.

Dari faktor fundamental tambahan, dukungan juga datang dari permintaan resmi: PBOC dilaporkan melanjutkan pembelian emas bulan ke-15 beruntun pada Januari. Selain itu, ada laporan bahwa regulator China mendorong institusi finansial untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan US Treasury, yang dapat menjaga daya tarik emas sebagai diversifikasi di tengah volatilitas pasar obligasi.(asd)

Ilustrasi Transaksi

Minggu, 08 Februari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Wall Street Menguat Didorong Saham-saham Produsen Semikonduktor

Equityworld Futures | Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup perkasa pada perdagangan Jumat (6/2) dengan Dow Jones Industrial Average (.DJI) yang menembus level psikologis bersejarah 50.000.

Equityworld Futures | Bikin Deg-Degan, Ini Ramalan Terbaru Harga Emas Usai Drama Menegangkan

Pendorongnya adalah lonjakan saham Nvidia (NVDA.O) dan produsen chip lainnya, sementara saham Amazon (AMZN.O) jatuh setelah memperkirakan peningkatan pengeluaran yang tajam untuk infrastruktur Al.

Mengutip Reuters, Nasdaq (.IXIC) naik 2,18 persen menjadi 23.031,21 poin, sementara Dow naik 2,47 persen menjadi 50.115,67 poin, penutupan tertinggi sepanjang masa

Saham Amazon turun 5,6 persen setelah menyatakan rencana peningkatan Capital Expenditure lebih dari 50 persen tahun ini, yang semakin memperketat persaingan untuk mendominasi teknologi Al dan menyusul pengumuman serupa dari Alphabet (GOOGL.O), pada Rabu (11/2).

Namun demikian, saham-saham perusahaan chip melonjak seiring ekspektasi sektor tersebut akan diuntungkan dari peningkatan belanja pusat data AI oleh Amazon dan Alphabet.

Nvidia (NVDA.O), perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia, melesat 7,8 persen. Advanced Micro Devices (AMD.O) naik 8,3 persen dan Broadcom (AVGO.O) menguat 7,1 persen, sementara indeks semikonduktor PHLX (SOX) ditutup naik 5,7 persen.

Reli pada hari Jumat di S&P 500 dan Nasdaq terjadi setelah tiga sesi berturut-turut mengalami penurunan yang dipicu kekhawatiran terkait AI. 

Sejumlah saham perangkat lunak tertekan sepanjang pekan ini akibat kekhawatiran bahwa AI dapat meningkatkan persaingan dan menekan margin, sementara investor juga mencermati valuasi yang sudah tinggi setelah lonjakan tajam saham-saham terkait AI dalam beberapa tahun terakhir.

"Perdagangan ini bergejolak, dan terkadang terjadi aksi jual besar-besaran, tetapi saya pikir ada cukup bukti bahwa ada permintaan nyata untuk produk Al, potensi nyata dengan apa yang dapat mereka lakukan, dan kebutuhan akan banyak pengeluaran untuk mencapainya," kata Analis Strategi Investasi di Baird di Louisville, Kentucky, Ross Mayfield dikutip dari Reuters, Senin (9/2).

"Jadi, ketika terjadi aksi jual besar-besaran seperti ini, saya pikir akan ada titik terendah di mana sejumlah investor tertentu akan masuk dan mulai membeli saharn-saham tersebut,” imbuhnya.

Indeks 5&P 500 Software & Services (SPLRCIS) menguat 2,4 persen dan mengakhiri tujuh sesi penurunan beruntun, meskipun secara mingguan masih turun sekitar 8 persen, yang menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret 2020.

Dow Jones mencatat kinerja lebih baik dibandingkan S&P 500 dan Nasdaq sepanjang pekan ini, mencerminkan langkah diversifikasi investor yang belakangan menjauh dari saham teknologi yang sebelumnya mendominasi Wall Street, dan beralih ke perusahaan yang belum menikmati kenaikan besar.

Sejalan dengan tren tersebut, indeks Russell 2000 (BUI) yang berisi saham berkapitalisasi kecil juga menguat sepanjang pekan.

Sebanyak sembilan dari 11 indeks sektor S&P 500 ditutup menguat, dipimpin oleh sektor teknologi informasi (SPLRCI) yang naik 4,1 persen, disusul sektor industri (SPLRCI) yang naik 2,84 persen. Indeks sektor energi S&P 500 (SPNY) mencetak rekor tertinggi baru, seiring dengan penguatan pada sektor industri dan kebutuhan pokok konsumen.

Secara mingguan, Dow Jones naik 2,5 persen, S&P 500 turun 0,1 persen, sementara Nasdaq melemah 1,9 persen.

Ilustrasi Transaksi

Rabu, 04 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Emas Rebound 3 Hari, Tembus Lagi $5.000

Equityworld Futures | Harga emas naik untuk hari ketiga berturut-turut dan kembali menembus $5.000 per ons, seiring aksi “buy the dip” berlanjut setelah pasar sempat jatuh tajam dari rekor tertingginya. Pada perdagangan pagi di Asia, emas spot sempat menguat hingga 1,2%.

Equityworld Futures | Pesta Pora Lagi! Harga Emas Tahu-Tahu Sudah Tembus US$5.000

Pemulihan ini terjadi setelah kejatuhan besar pekan lalu yang mengguncang pasar logam mulia. Meski sudah memantul dua sesi terakhir, pada penutupan Rabu emas masih sekitar 11% di bawah rekor tertinggi 29 Januari, namun tetap naik sekitar 15% sepanjang tahun ini—tanda volatilitas tinggi masih jadi tema utama.

Perak juga ikut menguat dan kembali melintasi $90 per ons. Sebelumnya, perak sempat mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah pada Jumat, sementara emas mengalami penurunan terdalam sejak 2013—membuat banyak pelaku pasar buru-buru menata ulang posisi dan manajemen risiko.

Meski begitu, banyak investor menilai fondasi yang mendorong reli bulan lalu belum benar-benar hilang: kombinasi minat spekulatif, ketegangan geopolitik, serta isu independensi bank sentral. Bahkan beberapa manajer dana yang sempat mengurangi posisi sebelum kejatuhan, kini disebut mulai “mengintai” peluang untuk masuk lagi ketika harga lebih stabil.

Sejumlah bank besar juga masih optimistis terhadap kelanjutan tren emas. Ada yang tetap mempertahankan proyeksi $6.000/ons, sementara yang lain melihat potensi “upside risk” terhadap target akhir tahun di kisaran $5.400—namun menekankan jalannya bisa berliku karena pasar sedang sensitif terhadap dolar dan suku bunga.

Fokus pasar sekarang ikut bergeser ke arah kebijakan suku bunga AS, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah biasanya jadi angin segar untuk emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil bunga. Pada 07:50 waktu Singapura, emas spot tercatat naik 1,2% ke $5.022,61/ons, sementara perak naik 2,3% ke $90,20.(asd)

Ilustrasi Transaksi

Senin, 02 Februari 2026

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas Rebound Usai Reli “Patah” Dua Hari

Equityworld Futures | Emas naik lagi dan memangkas sebagian kerugian, setelah reli besar yang sebelumnya pecah secara tiba-tiba dan membuat harga jatuh tajam dalam waktu singkat. Perak ikut menguat, menandakan pasar mulai “tenang” setelah beberapa sesi terakhir penuh guncangan.

Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok Parah Lagi, Kebijakan CME Picu Gelombang Jual

Pada perdagangan terbaru, spot emas sempat naik hingga sekitar 2,9% mendekati $4.800/ons, sementara perak melonjak hingga sekitar 5% dan sempat menembus $83. Rebound ini terjadi setelah emas sempat turun hampir 5% pada sesi sebelumnya dan mencatat penurunan tajam dalam dua hari terakhir.

Sebelumnya, logam mulia sempat terbang ke rekor bulan lalu karena investor memburu aset aman: kekhawatiran geopolitik, isu “pelemahan nilai mata uang”, dan kekhawatiran soal independensi bank sentral ikut jadi bensin reli. Namun, reli yang terlalu cepat juga membuat posisi pasar “kepenuhan” (ramai), jadi saat dolar AS menguat—aksi ambil untung dan likuidasi posisi semakin memperparah koreksi.

Salah satu kunci arah berikutnya adalah: apakah investor Tiongkok memilih “buy the dip”. Laporan menyebutkan ramainya pembeli mengunjungi bursa emas terbesar di Shenzhen untuk membeli perhiasan dan batangan menjelang libur Tahun Baru Imlek. Pasar domestik China juga akan libur lebih dari seminggu mulai 16 Februari.

Dari sisi proyeksi bank, sebagian masih optimistis. Deutsche Bank AG misalnya tetap mempertahankan pandangan bahwa emas berpotensi menuju $6.000/ons pada tahun 2026. JP Morgan juga memproyeksikan emas bisa naik ke $6.300/ons pada akhir 2026, dengan alasan dukungan permintaan investor dan bank sentral masih kuat meskipun volatilitas meningkat.

Sementara itu, dolar AS sedikit melemah setelah sempat menguat, yang biasanya memberi nafas bagi komoditas berdenominasi USD. Di Asia, harga emas dilaporkan berada di sekitar $4.778/ons pada pagi hari Singapura, sedangkan perak sekitar $82–83—dengan platinum dan paladium juga ikut naik.

Intinya, pergerakan kali ini lebih mirip “bersih-bersih posisi” daripada perubahan total cerita fundamental. Arah selanjutnya kemungkinan ditentukan oleh tiga hal: kekuatan dolar, keputusan pelaku pasar (terutama Tiongkok) untuk membeli saat turun, dan apakah volatilitas mereda menjelang libur Imlek.

5 poin inti :

- Emas rebound hingga mendekati $4.800/ons, perak sempat menembus $83.

- Sebelumnya harga turun tajam karena reli “overcrowded” berputar + likuidasi posisi.

- Permintaan China (buy the dip) jadi penentu arah berikutnya; pasar China libur mulai 16 Feb.

- Bank besar masih bullish: Deutsche Bank $6.000, JP Morgan $6.300 (akhir 2026).

- Dolar yang melemah sedikit membantu pemulihan logam mulia, namun volatilitas masih tinggi.(asd)


Ilustrasi Transaksi

Kamis, 22 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Emas Ngegas Dekat $5.000—Dunia Mulai Cari “Pelindung” Baru

Equityworld Futures | Harga emas makin dekat ke level psikologis $5.000 per ons, didorong kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran baru soal independensi Federal Reserve. Reli kali ini terasa berbeda karena pasar melihat banyak perubahan besar yang sulit diukur, tapi dampaknya nyata ke arah aliran dana.

Equityworld Futures | Lepas Kendali! Harga Emas Melonjak Ugal-Ugalan Tembus US$4.900

Pada Jumat, emas sempat mencetak rekor di atas $4.967 dan berpeluang menutup pekan dengan kenaikan hampir 8%. Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan karena membuat logam mulia lebih “murah” bagi pembeli di luar AS.

Sejumlah pelaku pasar menyebut emas sedang mengalami “penilaian ulang” yang lebih permanen, seiring munculnya retakan pada tatanan global lama. Ketika aturan main dan hubungan antarnegara makin sulit ditebak, emas kembali diposisikan sebagai perlindungan terhadap risiko “perubahan rezim” yang tidak mudah dihitung.

Kenaikan ini datang setelah emas membukukan performa tahunan terbaik sejak 1979, lalu masih lanjut naik sekitar 15% di awal tahun ini. Serangan Trump terhadap The Fed, ditambah eskalasi seperti intervensi militer di Venezuela dan ancaman menganeksasi Greenland, memperkuat narasi “debasement trade”: investor mengurangi ketergantungan pada mata uang dan obligasi negara, lalu mencari aset alternatif seperti emas.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa sisi pasokan emas tidak cukup elastis untuk menahan lonjakan permintaan diversifikasi saat ketegangan politik dan pasar AS meningkat. Karena suplai tak bisa cepat bertambah, batas “plafon” harga dinilai jadi lebih rapuh ketika arus pembelian menguat.

Proyeksi bank besar ikut mempertegas tren. Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi $5.400 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan permintaan dari investor privat dan bank sentral yang terus menguat di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Contohnya, bank sentral Polandia—yang dikenal agresif membeli emas—disebut menyetujui rencana membeli tambahan 150 ton untuk berjaga-jaga terhadap instabilitas geopolitik. Di saat yang sama, kepemilikan India atas US Treasuries turun ke level terendah lima tahun, mencerminkan pergeseran sebagian cadangan ke alternatif seperti emas.

Reli juga merembet ke logam mulia lain. Perak ikut mendekati $100 per ons dan sudah lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dibantu short squeeze historis dan gelombang pembelian ritel yang membuat rantai pasok keteteran. Kebingungan soal kebijakan lisensi ekspor China menambah kesan “langka”, sementara volatilitas tinggi membuat bank cenderung mengurangi posisi, yang ironisnya bisa memicu pergerakan makin liar.

5 poin penting:

- Emas sempat rekor > $4.967 dan mengincar hampir $5.000/oz, ditopang dolar melemah.

- Kenaikan mingguan hampir 8%, dan emas sudah naik sekitar 15% di awal tahun ini setelah performa tahunan terbaik sejak 1979.

- Narasi pasar: ketidakpastian geopolitik + isu independensi The Fed mendorong “debasement trade” (kabur dari obligasi/mata uang ke emas).

- Goldman naikkan proyeksi akhir tahun ke $5.400/oz; pembelian bank sentral (contoh Polandia) ikut memperkuat demand.

- Perak dan platinum ikut pecah rekor; volatilitas meningkat karena persepsi kelangkaan, short squeeze, dan bank mengurangi posisi.


Ilustrasi Transaksi 

Selasa, 20 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari

Equityworld Futures | Emas Cetak Rekor Baru, Krisis Greenland Bikin Pasar Lari


Equityworld Futures | Emas naik ke rekor baru saat krisis Greenland semakin memburuk dan pasar global kembali masuk mode “cari aman”. Ketegangan geopolitik dan perebutan kembali hubungan AS–Eropa membuat investor mengurangi risiko dan beralih ke aset haven seperti emas dan perak.


Equityworld Futures | Ketegangan Trump-Greenland Kerek Harga Emas Cetak Rekor Lagi


Presiden AS Donald Trump yang hadir di World Economic Forum (WEF) Davos terlihat tidak menunjukkan tanda mundur dari ambisinya mengambil alih Greenland. Situasi itu memicu peringatan dari pemimpin Greenland kepada warganya tentang kemungkinan ancaman militer, meskipun ia menilai skenario invasi tetap kecil.


Di pasar spot, emas sempat menyentuh rekor $4.849,73 per ons sebelum bergerak fluktuatif. Perak juga tetap tinggi, berada di sekitar $94, mendekati puncak sepanjang masa, menandakan kuatnya permintaan safe haven.


Tekanan geopolitik semakin meningkat setelah AS mengancam tarif terhadap delapan negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris—yang menentang rencana Trump terkait Greenland. Ancaman ini menghidupkan lagi bayangan perang dagang yang dapat merusak pertumbuhan ekonomi global dan memperbesarnya.


Di Davos, pernyataan perang semakin tajam. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik taktik dagang Trump dan menekan Eropa perlunya lebih berdaulat agar tidak “tergantung” pada pihak lain. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut tatanan internasional berdasarkan aturan praktis sudah tidak berjalan seperti dulu.


Ketegangan yang cepat membesar ini memperlihatkan betapa cepatnya hubungan antara sekutu tradisional AS memburuk. Dampaknya terasa ke pasar: dolar cenderung melemah, sementara minat pada instrumen lindung nilai seperti emas meningkat.


Selain faktor geopolitik, pasar juga diguncang kekhawatiran soal kondisi fiskal negara-negara besar, yang dipicu oleh gejolak di pasar obligasi pemerintah Jepang. Situasi ini memperkuat “debasement trade”, yaitu investor strategi menghindari mata uang dan obligasi pemerintah, lalu memilih aset yang dianggap lebih “tahan” seperti emas.


Seorang analis komoditas menilai reli emas saat ini banyak dipengaruhi oleh pertanyaan “kepercayaan”. Selama kepercayaan pada mata uang dan obligasi belum benar-benar runtuh, pasar masih bisa bertahan, namun jika kepercayaan itu pecah, dorongan kenaikan emas bisa lebih panjang dan lebih kuat.


Dari sisi permintaan, emas juga mendapat dukungan tambahan dari aksi bank sentral. Polandia dilaporkan menyiapkan rencana pembelian tambahan 150 ton, sementara bank sentral Bolivia kembali membeli cadangan devisa setelah aturan baru diberlakukan pada Desember 2025.


Pada perdagangan siang di Singapura, emas spot masih menguat sekitar 1,6% di kisaran $4.839,21 per ons. Indeks dolar cenderung stabil setelah melemah dalam dua sesi sebelumnya, menandakan pasar masih menimbang risiko geopolitik dan arah kebijakan ke depan.


5 poin penting :


- Emas mencetak rekor baru karena krisis Greenland memicu arus “safe haven”.

- Trump tidak menunjukkan tanda mundur di Davos; pemimpin Greenland sempat memperingatkan risiko militer (meski kecil).

- Ancaman tarif AS ke delapan negara Eropa menghidupkan risiko perang dagang dan menekan sentimen global.

- Gejolak obligasi pemerintah Jepang ikut mendorong “debasement trade” (hindari mata uang & bonds, pilih emas).

- permintaan bank sentral menguat: Polandia rencana tambah 150 ton, Bolivia lanjut beli untuk cadangan devisa.

Demo Ewf 

Senin, 19 Januari 2026

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Emas Turun Tipis Usai Rekor, Tapi Pasar Masih “Ketagihan” Safe-Haven

Equityworld Futures | Harga emas sedikit melemah pada perdagangan terbaru, setelah sehari sebelumnya melonjak dan mencetak rekor tertinggi baru. Pelemahan ini dinilai wajar sebagai koreksi teknis, karena sebagian pelaku pasar mulai mengunci profit setelah reli kencang.

Equityworld Futures | Harga Emas Berkilau, Cetak Rekor Tertinggi Baru

Meski begitu, ruang turun emas diperkirakan tidak besar. Alasannya sederhana: risiko geopolitik masih panas, dan situasi seperti ini biasanya membuat investor kembali melirik emas sebagai tempat “berlindung” saat pasar tidak pasti.

Sorotan terbaru datang dari Greenland. Denmark mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut pada Senin, di saat Presiden AS Donald Trump disebut mengatakan kepada Norwegia bahwa ia tidak perlu lagi berpikir “semata-mata tentang perdamaian” setelah tidak memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Pernyataan dan manuver ini membuat tensi makin sulit diprediksi.

Menurut Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, pola reaksi pasar belakangan ini terasa makin jelas: setiap ada gejolak, responsnya adalah “beli emas dan perak.” Artinya, setiap headline baru berpotensi langsung mengangkat permintaan logam mulia.

Di pasar, emas spot turun tipis 0,1% ke $4.666,28/ons, sementara perak spot melemah 0,4% ke $93,96/ons. Pelaku pasar kini menunggu apakah penurunan ini hanya jeda singkat—atau justru jadi awal koreksi yang lebih dalam, tergantung seberapa panas babak berikutnya dari drama geopolitik.

Demo Ewf

Minggu, 18 Januari 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga Emas Turun, Efek Meredanya Ketegangan Geopolitik

Equityworld Futures | Harga emas turun pada Jumat (16/1) Investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli komoditas terkait, sementara tanda-tanda meredanya ketegangan geopolitik mengurangi minat terhadap aset safe haven.

Equityworld Futures | Harga Emas Masih Jadi Primadona, Pakar Bidik Level US$ 4.750

Dilansir dari Reuters, Senin (19/1), harga emas spot turun 0,5% ke US$4.592,29. Sementara emas berjangka ditutup 0,6% lebih rendah ke US$4.595,40.

Logam mulia lainnya juga melemah. Perak spot turun 2,9% ke US$89,65, platinum anjlok 3,3% ke US$2.330,67, dan palladium turun 0,6% ke US$1.790,78.

Analis Marex Edward Meir mengatakan penurunan tersebut mencerminkan koreksi luas dalam pasar komoditas setelah kenaikan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Ia menambahkan bahwa de-eskalasi ketegangan telah menghilangkan premi geopolitik pada emas dan logam mulia lainnya, terutama perak.

Ketegangan global mereda menyusul mulai surutnya protes di Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil sikap menunggu. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak untuk memediasi situasi di Iran.

Adapun Amerika Serikat dan Taiwan mencapai kesepakatan yang menurunkan tarif atas banyak ekspor semikonduktor dan mendorong investasi baru ke sektor teknologi AS.

Sementara Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga hingga paruh pertama tahun ini, dengan pemangkasan pertama sebesar dua puluh lima basis poin diproyeksikan terjadi pada Juni.

Meir menilai emas masih berpotensi menguat. Ia mengatakan harga emas masih memiliki peluang mencapai US$5.000. Namun hal itu akan diwarnai oleh koreksi tajam di tengah perjalanan.

Demo Ewf

Rabu, 14 Januari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Melemah, Saham Teknologi dan Perbankan Jadi Beban

Equityworld Futures | Wall Street Melemah, Saham Teknologi dan Perbankan Jadi Beban

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/1/2026), dengan tekanan paling besar datang dari sektor teknologi dan perbankan.

Equityworld Futures | Harga Emas Mengamuk, Lagi-Lagi Cetak Rekor & Sejarah Baru

Investor mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi dan beralih ke sektor yang lebih defensif, seiring ketidakpastian kebijakan serta kinerja emiten yang dinilai belum sepenuhnya memuaskan. 

Mengutip Reuters pada Kamis (15/1/2026), indeks S&P 500 turun 36,71 poin atau 0,53 persen ke level 6.927,03. 

Nasdaq Composite jatuh 228,69 poin atau 0,96 persen ke 23.481,19, sementara Dow Jones Industrial Average melemah tipis 33,37 poin atau 0,07 persen ke posisi 49.158,62. 

Nasdaq memimpin pelemahan seiring aksi jual di saham-saham teknologi, sementara sektor perbankan kembali tertekan setelah laporan keuangan kuartalan menunjukkan hasil yang beragam. 

Indeks perbankan S&P 500 mencatat penurunan signifikan, dipicu anjloknya saham Wells Fargo setelah gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat.

Tekanan juga melanda saham Citigroup dan Bank of America. 

Keduanya tetap melemah meskipun membukukan laba di atas perkiraan analis, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek sektor keuangan ke depan. 

Sektor keuangan, yang sebelumnya mencatat penguatan solid sepanjang 2025, kini menghadapi tekanan tambahan akibat kekhawatiran pasar atas rencana Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit. 

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan profitabilitas bank dan mempersempit ruang gerak bisnis keuangan. 

“Setelah kenaikan yang bagus dan pendapatan yang biasa-biasa saja atau medioker, investor cenderung melakukan aksi ambil untung dan konsolidasi,” ujar Chief Market Strategist JonesTrading di Stamford, Connecticut, Michael O’Rourke. 

Ia menambahkan, di sektor teknologi, investor mulai melakukan rotasi dari saham-saham megakap yang mahal ke saham bernilai dan sektor yang lebih defensif. 

Sejalan dengan itu, sektor keuangan dan teknologi S&P 500 tercatat melemah, sementara kelompok defensif seperti consumer staples justru menguat. 

Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000, yang sepanjang tahun ini mengungguli S&P 500, juga mencatatkan kenaikan. 

Di pasar saham individual, Broadcom, Palo Alto Networks, dan Fortinet melemah setelah Reuters melaporkan otoritas China memerintahkan perusahaan domestik menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan Amerika Serikat dan Israel.

Di sisi lain, saham sektor energi sempat menguat seiring kenaikan harga minyak pada awal perdagangan, dipicu kekhawatiran potensi gangguan pasokan Iran akibat kemungkinan serangan AS. 

Namun, harga minyak kemudian berbalik melemah setelah Trump menyatakan bahwa ia mendapat laporan eskalasi pembunuhan dalam penindakan keras terhadap protes nasional di Iran mulai mereda.

Demo Ewf

Minggu, 11 Januari 2026

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Melesat Mengikuti Wall Street, Investor Cermati Harga Minyak

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Melesat Mengikuti Wall Street, Investor Cermati Harga Minyak

Equityworld Futures | Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan saham Senin, (12/1/2026). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik ini mengikuti wall street pekan lalu setelah laporan pekerjaan AS menunjukkan lebih sedikit lapangan kerja yang tercipta pada Desember daripada yang diperkirakan meski tingkat pengangguran turun. Ini menandakan ketahanan di pasar tenaga kerja.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Mengutip CNBC, investor akan mengawasi harga minyak karena Iran memasuki minggu ketiga aksi demonstrasi yang telah menewaskan lebih dari 500 orang, berdasarkan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi intervensi di Iran, berdasarkan sejumlah laporan pada Minggu ini.

Harga minyak Brent naik 0,84% menjadi USD 63,87 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI)  menguat 0,83% menjadi USD 59,62 pada pukul 7:25 pagi waktu Singapura.

Di sisi lain, indeks ASX 200 di Australia bertambah 0,71%. Indeks Kospi di Korea Selatan menanjak 0,83%. Indeks Kosdaq menguat 0,4%.

Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong dibuka menguat dengan kontrak berjangka diperdagangkan di posisi 26.408 dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.231,79.

Bursa saham Jepang libur pada awal pekan ini. Pada Minggu, mitra koalisi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Hirofumi Yoshimura, mengatakan bahwa ia mungkin akan mengadakan pemilihan umum dini. Komentarnya muncul setelah media domestik melaporkan bahwa Takaichi sedang mempertimbangkan pemilihan umum mendadak pada Februari, mengutip sumber pemerintah.

Yen Jepang melemah tajam pada Senin, mencapai titik terendah satu tahun di posisi 158,19 terhadap dolar AS.

Kontrak berjangka saham AS mendatar pada awal jam perdagangan di Asia, menjelang serangkaian data ekonomi dan laporan keuangan.

Pada Jumat pekan lalu di wall street, indeks S&P 500 menguat 0,65% menjadi 6.966,28, rekor penutupan baru. Indeks S&P 500 juga mencatatkan rekor tertinggi intraday baru dalam sesi itu.

Indeks Nasdaq menguat 0,81% menjadi 23.671,35. Indeks Dow Jones bertambah 237,96 poin atau 0,48% ke posisi 49.504,07, dan juga mencetak rekor penutupan baru.

Demo Ewf  

Demo Equityworld

Kamis, 08 Januari 2026

Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi, Saham Pertahanan Naik Usai Trump Naik Anggaran Militer

Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi, Saham Pertahanan Naik Usai Trump Naik Anggaran Militer

Equityworld Futures | Wall Street bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Kamis (8/1). Saham-saham teknologi besar tertekan, sementara emiten pertahanan melonjak tajam setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan anggaran militer jumbo senilai USD 1,5 triliun.

Equityworld Futures | Harga Emas Naik Lagi, Tapi Ada Dua “Badai” di Depan yang Bikin Ngeri

Mengutip Reuters, Jumat (9/1), S&P 500 naik tipis 0,01 persen ke level 6.921,45. Dow Jones Industrial Average menguat 0,55 persen ke 49.266,11, sedangkan Nasdaq turun 0,44 persen ke 23.480,02.

Tekanan paling terasa di sektor teknologi. Saham Nvidia anjlok 2,2 persen, Broadcom turun 3,2 persen, dan Microsoft melemah 1,1 persen. Pelemahan ini menyeret indeks teknologi S&P 500 jatuh 1,5 persen dan membuat sektor tersebut tercatat turun sekitar 1 persen sepanjang 2026.

Investor dinilai mulai lebih selektif terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini melesat tinggi.

"Selagi AI masih menjadi topik hangat, akan ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan," ucap Kepala strategi pasar di B. Riley Wealth, Art Hogan.

Di tengah tekanan sektor teknologi, Alphabet justru mencuri perhatian setelah sahamnya naik 1,1 persen. Kenaikan ini terjadi sehari setelah induk Google itu melampaui Apple dalam kapitalisasi pasar, menjadi perusahaan paling bernilai kedua di AS. Sebaliknya, saham Apple turun 0,5 persen.

Berbanding terbalik dengan teknologi, saham-saham pertahanan melonjak tajam. Penguatan dipicu pernyataan Trump yang menginginkan anggaran militer AS 2027 mencapai USD 1,5 triliun, jauh di atas anggaran 2026 sebesar USD 901 miliar.

Saham Lockheed Martin melesat 4,3 persen, Northrop Grumman naik 2,4 persen, sementara Kratos Defense melonjak hingga 13,8 persen. Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya sejumlah saham pertahanan sempat tertekan akibat ancaman Trump yang bakal melarang kontraktor pertahanan membagikan dividen dan melakukan buyback jika tak mempercepat produksi senjata.

Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran AS naik moderat pekan lalu, mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih lesu. Pelaku pasar kini menanti rilis data nonfarm payrolls.

Lembaga pemeringkat Fitch juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Fitch memperkirakan PDB AS tumbuh 2,1 persen pada 2025 dan 2,0 persen pada 2026, setelah memperhitungkan data yang tertunda akibat shutdown pemerintah.

Sementara itu, saham-saham produsen chip memori berbasis AI terkoreksi tajam. SanDisk anjlok 5,4 persen, Western Digital turun 6,1 persen, dan Seagate jatuh 7,7 persen setelah reli kuat sebelumnya.

Di sektor otomotif, saham Ford melonjak 4,7 persen setelah Piper Sandler menaikkan rekomendasi saham tersebut menjadi “overweight” dari sebelumnya “neutral”.

Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 16,9 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari terakhir. Jumlah saham yang menguat juga mengungguli yang melemah dengan rasio 2,4 banding 1 di indeks S&P 500.

Demo Ewf